BISMILLAH
HAPPY READING
🕊🕊🕊
***
Siang sekarang Kia sudah ada di kediaman orangtua nya, awal nya Kia ingin pergi sendiri tapi bukan Faizan nama nya kalau tidak memaksa mengantarkan nya.
Kia sengaja tidak membawa baju, karna di kamar nya juga baju milik nya masih banyak yang tertata rapi dan jarang di pakai semenjak masuk ke Psantren.
Kia hanya membawa beberapa scincare nya saja. Dan kini Kia sedang membantu sang Ummah memasak untuk nanti makan keluarga.
"Dek? kamu secepat nya kan kasih Ummah cucu?", namanya juga orangtua yang sudah memiliki menantu. Pasti harapan ke depan nya adalah meminang cucu.
"Mereka masih lomba-lomba, jadi tunggu perosesnya ya Ummah".
Ummah Jihan yang mendengar itu pun merasa bahagia, anak terakhir nya yang menurut nya masih kecil kini sudah melangkah mengambil jejak seperti nya.
"Ummah tuggu kabar bahagia itu".
Dan ketika sudah beres memasak semua menu yang sudah di resepkan, kini Kia akan menata makanan nya di meja makan.
Sedangkan Ummah jihan dirinya akan menyiap kan piring-piring dan gelas.
"Ummah, emang Abang sama Aba mau makan siang di rumah?", yang Kia baru ingat kalau mereka hanya berdua di dalam rumah besar ini.
"Tadi pagi kamu bilang mau nginap di rumah beberapa hari kan, jadi Aba sama Abang mau makan siang bareng sama kamu".
Kia yang mendengar itu pun serasa masih gadis kecil yang selalu di Sayang oleh semua Keluarganya.
Pernikahan ini tidak pernah menjadi kendala dalam hidup nya, hanya saja Kia selalu merindukan momen di mana dirinya masih seutuh nya milik Aba ,Ummah dan Abang nya.
Kia menghampiri Ummah Jihan yang masih sibuk dengan kegiatan nya.
"Kia kangen kita bareng-bareng terus, kangen Kia di sayang- sayang terus setiap hari sama Aba Ummah. Kia juga kangen berantem sama Abang kaya dulu", dengan tiba-tiba Kia memeluk sang Ummah dari pinggir dan mulai lah per dramaan D-javu itu.
Mendapat kan pelukan tiba-tiba dari anak nya, sang Ummah pun membalas pelukan itu sambil mengusap lembut kepala sang anak.
"Ummah juga kangen, setiap malam Ummah temenin kamu tidur. Ummah kangen keramaian rumah kita kalau kamu sama Abang berantem sayang", itu lah kesepian nya seorang ibu dan ayah ketika semua anak nya sudah beranjak dewasa dan sudah memiliki ke hidupan nya masing-masing.
Kia masih saja menjadi anak kesayangan yang cengeng, dan itu sedikit membuat rindu Ummah Jihan memudar.
"Tetap menjadi anak perempuan Ummah yang manja dan cerewet ya".
"Ihh Ummah", rengek Kia sambil menarik tubuh nya dari dekapan sang Ummah.
"Udah ah jangan nangis, malu sama umur", meledek Kia supaya mencair kan suasana yang sedikit memendung ini.
"Kia belum tua ya Ummah, emang Abang udah berumur tapi masih sendiri", membawa Aufa dalam per dramaan ini hanya bacaan otak Kia saja.
"Ehh.. apa maksud nya, ko jadi aku si".
Pendanga Kia dan Ummah pun seketika tertuju kepada dua orang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kalo cengeng, cengeng aja kali. Masa bawa-bawa umur Abang", ke tidak terimaan Aufa ketika dirinya di seret seperti itu.
Aufa pun meletakan Jas nya di sandaran kursi lalu menarik kursi untuk ia duduki.
"Datang tu ucap salam, bukan nya malah ngomel", baru saja di bilang rindu, dan terbitlah pertengkarang kerinduan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine (Hiatus)
RomanceMenguatkan Cinta dengan Bersama Melupakan Cinta karna Takdir sang pencipta. (Muhammad Faizan Zayyan Al-Gifari)
