Bahagia seperti apa yang diinginkan semua orang?
Apa bahagia mereka sama seperti definisi bahagia yang Husna inginkan?
Husna hanya ingin tenang, melupakan dan melenyapkan semua masalahnya. Itu rencana Husna dalam waktu dekat, tapi semuanya gagal.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Husain duduk santai di atas motornya-motor ayah sebetulnya, ia belum terpikir untuk membeli kendaraan saat ini-menunggu Husna selesai kelas. Tidak butuh waktu lama, wanita itu sudah terlihat berjalan cepat mendekatinya.
"Assalamu'alaikum," salam Husna sambil mengecup punggung tangan Husain. "Ayo cepat, kasihan anak-anak," katanya sambil memakai helm dan naik ke boncengan.
"Kita makan dulu, ya? Aku baru gajian. Kamu mau makan apa, By?" tanya Husain.
"Nggak usahlah, Cen. Pulang aja. Aku hari ini kan pergi dari Zuhur. Nggak enak juga sama Bunda," tolak Husna sambil menepuk punggung Husain, mengisyaratkan untuk segera jalan.
"Aku udah bilang kok sama Bunda, udah tanya anak-anak juga, mereka lagi ngaji sama Ayah, sama Mas Hasan juga. Kita jalan dulu, sebentar aja. Udah lama lho, Ayy."
Husna berpikir sejenak, anak-anaknya memang tidak serewel itu, apalagi mereka sudah punya banyak teman dan lebih sering asyik bermain.
"Tapi makan aja, habis itu langsung pulang," kata Husna setelah berpikir.
"Siap."
Ribuan hari telah berlalu sejak mereka meninggalkan pesantren sebagai santri. Ujian lainnya juga datang silih berganti, walau tak kokoh, Husain dan Husna berhasil mempertahankan rumah tangga mereka sampai saat ini.
Sampai di mana Husain sudah berhasil menamatkan pendidikan S1-nya, bekerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Lalu Husna yang sudah duduk di semester lima, memilih telat berkuliah sebab membiarkan Husain melakukannya lebih dulu dan agar fokus membersamai kembar.
Kini, Husain dan Husna sudah dua puluh lima, sementara kembar sudah enam tahun. Tahun depan mereka akan masuk sekolah dasar.
"Kok ke sini, Cen?" tanya Husna saat mereka berhenti di sebuah restoran seafood yang terkenal tidak murah. Setara dengan hidangan mewah dengan ribuan ulasan sangat positif.
"Aku kan udah bilang, aku baru gajian," jawab Husain sambil turun dari motor dan melepaskan helm yang masih terpasang di kepala Husna.
"Kamu bilang jajan," rengut Husna. "Engga ah, aku nggak mau. Pulang aja kalau gini."