30. Malam Penuh Ketakutan

10 1 0
                                        

Di rumah cizta.

Saat cizta sampai dirumahnya jam setengah 12 malam.
Cizta langsung masuk ke kamarnya dengan bersenandung riang.

Cizta langsung mengambil pakaian tidur dan masuk ke kamar mandi.

Cizta mandi dan memakai lotion beraroma vanila nya yang baru dibeli di mall tadi.

"Hmm. Wanginya enak juga" cizta berbicara sendiri

Setelah itu cizta merebahkan dirinya di ranjang. Cizta mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada heny.

"Hen.. udah tidur ya lo?"

Tapi tidak ada balasan ataupun dibaca oleh hani

Cizta menguap karena mengantuk.

Cizta mematikan lampu kamar lalu memiringkan tubuhnya ke memunggungi pintu kamarnya.

Cizta tertidur dengan cepat.

Entah jam berapa..
Cizta merasa seperti geli.. ada sesuatu yang basah berada di kulitnya.

Lalu cizta membuka matanya. Dan betapa kagetnya cizta melihat mata pria itu..

"Kakk.. le.."

Belum sampai usia.. zen sudah melumat bibir cizta tanpa memberikan cizta ruang untuk berteriak. Lalu cizta meronta dan zen melepas pagutannya saat cizta sedang memasok oksigen ke paru parunya.

Suara zen yang berat ,dalam membuat bulu kuduk cizta meremang

"Calon istriku sudah melakukan hal yang nakal ya. Kamu suka dihukum ya sayang?" Ucap zen

"Hahhh..hahhh.. apa sih le on.. awas. Berat. Cizta kan lagi tidur. Nakal apaan sih? Dan jam berapa ini. Kenapa k.. eh maksudnya leon ada disini?" Ucap cizta sedikit gelagapan

"Kamu tidak tahu nakalnya apa? Sekarang jam 1 pagi sayangku... aku selesai mengerjakan kerjaan langsung kesini. Sudah tidak sabar untuk menghukum ratu ku yang bandel ini" ucap zen

"Hah?" Cizta tidak mengerti.

Tanpa menjawab lagi.
Zen melakukan hal yang membuat cizta ingin berteriak. Tapi bibir itu dilumat habis oleh zen.
Dan berakhir hanya terdengar

"Mhmm..mmhhhm!!" Cizta berusaha sekuat tenaga mendorong zen

Tapi zen seperti kesurupan. Memegang pa**dara cizta yang pas di genggaman tangannya. Mer**snya dengan cukup keras sampai cizta mengaduh disela sela lumatan bibirnya.

Cukup lama zen seperti itu sampai cizta akhirnya memukul dada zen dengan cukup kencang.

Zen melepaskan tautan dan juga genggamannya. Lalu zen melihat cizta yang berada di bawahnya

"Apa salahmu Ta?" Ucap zen dingin

"A..apa?? Hahh.. ahhh... leon aneh deh. Datang datang langsung kaya begini..!"
Marah cizta

Tanpa berbicara lagi,zen membuka ponselnya dan memperlihatkan foto yang anak buahnya ambil..

Cizta membelalak.

Foto itu memperlihatkan..
Cizta yang bersalaman dengan diego dan heny yang juga bersalaman dengan victor. Di slide berikutnya membuat cizta membeku lagi.. foto mereka berempat makan bersama dengan cizta dan heny yang tertawa bahagia

"Sekarang sudah tahu kesalahannya sayang?" Tegas zen.

"Ii.itu.. hanya kenalan doang kok. Enggak lebih.. dan...itu.. heny... kak kenz ga tahu kan??" Cizta melihat zen dengan memelas

"Jadi kamu mengkhawatirkan sohibmu? Padahal hukumanmu baru akan kumulai loh.. yah tapi daripada kamu kepikiran terus. Aku kasih tahu deh.. kenz tahu dong. Soalnya anak buah ini kan digaji sama aku dan kenz buat jaga kalian berdua kemanapun kalian pergi. Dan apa yang sekarang dia lakukan ke heny.. aku ga bisa jamin sih. Soalnya kenz.. tipikalnya mirip sama aku loh" ucap santai zen.. untuk seorang yang dingin.. kali ini zen cukup banyak bicara

"Jadi... sudah siap terima hukumannya my naughty rabbit?" Ucap zen dengan menyeringai

"Tu..tunggu.. leon.. kita kan 4 hari lagi menikah.. jadi jangan cemburu sama yang kaya gini ya.." melas cizta dengan wajah imut nya.

Zen membatin 'si*l.. imut banget sih cizta ini.. kelinci nakalku'

"Yang benar minta maafnya.. dan mana ponselmu.. sini" zen mengambil ponsel cizta

"Eehhhh k...leon mau apa sama ponselku?!" Teriak kecil cizta

Zen melihat ponsel cizta dan melihat chatnya. Tidak ada chat mencurigakan.
Lalu zen mengecek nomor kontak.

Semuanya sama kecuali satu nama wanita.

"Siapa diana?" Ketus zen

"Ah.. itu.. itu. Temannya temanku.. aku dikenalin katanya dia bisa kasih tahu aku soal australia" bohong cizta.

Zen memicingkan matanya. Cizta nya memang tidak pintar berbohong. Zen selalu tahu.

Tanpa ragu zen memblokir nomor itu dan menghapusnya

"Eehhhh kenapa di blokir dan di hapus!!!! Ihh leon sumpah ya nyebelin banget sih!!! Udah kita putus aja. Cizta ga mau lanjutin pernikahan ini! Cizta tuh manusia yang butuh sosialisasi.. bukan individualisme!!" Ceplos cizta karena kesal nomor diego di hapus. Padahal cizta nyaman ngobrol sama diego. Leon kali ini keterlaluan.

Tiba tiba ruangan menjadi sangat dingin.
Kata mata cizta mengundang kebangkitan iblis yang ada dalam diri zen.

"Apa..? Katakan sekali lagi sayang!"
Dengan suara dingin dan rendah zen lion berbicara
"Beraninya berkata seperti itu!!"

Tanpa aba aba.. cizta langsung diremas bahunya dan dibuat terlentang di ranjang nya.

Lalu dengan menyeringai sangat seram. Zen melanjutkan perkataannya tepat disamping telinga cizta yang ketakutan

"Tidak ada jalan kembali sayang. Karena seluruh pintu sudah ku kunci dan kubuang kunci itu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukannya. Kau tahu saat ini aku sangat menahan diri,Ta." Geram zen.

Cizta menangis "jangan.. kumohon.. jangan. Aku takut sama kakak."

Zen tersadar karena isakan tangis cizta lalu memeluknya dengan erat sampai cizta kelelahan dan tertidur.

"Sebentar lagi sayang.. kau akan menjadi milikku seutuhnya"
Ucapan terakhir zen sebelum ikut tertidur

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 06 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Obsesi SahabatkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang