🔞
🐺🐮
Junghwan tidak tau sudah terlelap berapa lama di lantai dingin ini. Tapi bau dupa yang menyengat itu masih menyelubungi dan menggerogoti dalam diam, dan suara suara tamu mulai memuakkan jiwa. Pias dingin itu nyata namun tidak ingin membuat Junghwan sadar bahwa kini tidak akan ada lagi yang menggendongnya ke kasur setiap kali tertidur.
Ayahnya sudah tiada, dibunuh oleh bajingan yang bahkan belum Junghwan temui.
Ambang perasaan waras tak waras harus Junghwan acuhkan sekejap selama prosesi kunjungan makam berlangsung selama tiga hari, yang terasa selamanya itu. Siapa yang akan siap jika orangtua satu satunya pun kini meninggalkan kita tanpa kata terakhir? Itu lah yang Junghwan rasakan. Sang ayah yang pamit saat pagi, tak lagi akan pulang pada malam hari.
"Junghwan, ayo makan."
Junghwan menenggelamkan wajah. "nanti aja"
"kamu belom makan dua hari ini, kan besok pagi kita harus ke ruang kremasi. jadi kamu makan dulu sekarang ya?"
"gak mau tan, aku─"
Tiba tiba saja ada keramaian di pintu rumah duka, banyak kamera dan mobil berjejer di halaman. Junghwan mengusap wajahnya yang sembab, langsung berdiri dengan kepala penuh tanda tanya akan keramaian itu. Seorang lelaki keluar dari salah satu mobil, tampak terbiasa dengan kamera kamera yang menyoroti bak berjalan di karpet penghargaan bahkan sedikit berdadah dadah. Pun dengan beberapa bodyguard dibelakang mengikutinya berjalan menuju ruang duka yang Junghwan tempati.
"selamat malam, benarkah ini ruang duka So Jaehyun?"
Tante Junghwan membelalak, buru buru mengelap tangannya dan berjabat tangan dengan lelaki itu. Penampilannya gagah dengan jas yang tampak mahal dan tebal, wajah yang pucat memelas bahkan menepuk pundak sang tante yang sumringah. Junghwan sedikit mengernyitkan alis. Muka pria itu tak asing, tapi ia tak ingat pernah lihat dimana.
"pak, kenalkan ini keponakan saya sekaligus anak satu satunya kak Jaehyun, So Junghwan. Junghwan, kamu tau beliau kan?"
Pria itu terkekeh melihat Junghwan yang banya bisa berdiri diam, lalu berjalan mendekati. "halo Junghwan, saya Park Jeongwoo. saya turut berduka cita sekaligus ingin menyampaikan permohonan maaf ya nak"
Junghwan masih diam ketika dipeluk oleh Jeongwoo, berjengit tidak nyaman ketika tangan tangan besar pria itu meremas posesif pinggang dan pipi pantatnya.
"maaf karena saya sendiri yang harus ngasih hukuman setimpal ke ayahmu."
Begitu bunyi bisikan Jeongwoo sekilas, yang bagai terasa petir dan tusukan tajam ditelinga Junghwan. Raut liciknya sempat ia saksikan beberapa detik sebelum akhirnya pria itu malah ikut menangis dan membual dengan manis didepan semua orang yang ada disana tentang betapa ia mengenal ayah Junghwan.
"M-MAKSUDNYA BAPAK YANG BUNUH AYAH SAYA??!?!!! KURANG AJAR, MENDING BAPAK MATI AJA!!!"
Junghwan marah semarah marahnya, hatinya sangat sakit, dengan dendam langsung menjambak rambut Jeongwoo ditempat. Semua orang disana tentu kaget dan heboh memisahkan keduanya, sementara Jeongwoo tidak panik sama sekali dan dengan satu tangan ia mendorong badan kecil Junghwan hingga terhempas ke lantai. Para bodyguard langsung mendorongnya keluar ruang pemakaman dan menggiringnya ke mobil, seakan dia adalah barang berharga yang harus dijaga baik baik dan tak boleh tersentuh sedikitpun. Mata memerah Junghwan sekilas bertemu dengan pandangan angkuh Jeongwoo sebelum pria itu benar benar meninggalkan ruangan.
Plak!
"apa yang ada dipikiran kamu, Junghwan?! sadar! kamu tau dia siapa???!!"
Pipi Junghwan ditampar keras oleh neneknya, membuat Junghwan tidak bisa melakukan apa apa selain duduk diam menahan tangis. Suasana masih heboh malam itu dari para tamu yang membicarakannya, membuat telinga Junghwan ingin meledak.
YOU ARE READING
Vehement [WooHwan]
FanfictionWooHwan Oneshot. 🔞 Jeongwoo, Dom Junghwan, Sub bakwanseember, 2024.
![Vehement [WooHwan]](https://img.wattpad.com/cover/353559691-64-k361822.jpg)