Kehilangan dan harapan

1.2K 66 4
                                        

Ren POV

Satu jam setelah resepsi pernikahan

aroma obat-obatan mulai menguar di setiap penjuru ruangan rumah sakit.ingatanku kembali memutar setiap reka kejadian yang kualami. ingatan saat aku berlari-lari melewati lorong rumah sakit ini. apa yang kau rasakan saat wanita yang telah resmi menjadi istrimu harus terbaring di rumah sakit, dengan luka yang parah dan tak sadarkan diri ?

kacau, hidupku terasa kacau. bahkan saat ku genggam tangannya bukan lagi ketenangan yang kurasa. melainkan rasa takut akan kehilangan. berusaha membuang dan melupakan insiden yang sempat terjadi. mencegah segala kemungkinan buruk yang mungkin akan kulakukan sebagai pembalasan,nantinya. 

aku tau, wanitaku ini sangat membenci dendam maupun pembalasan yang bersifat melukai. tapi apa jadinya jika sekarang dia yang selalu berusaha meyakinkanku justru terbaring lemah tak berdaya.

"Ren, maaf aku....aku nggak bisa... selamatin Anin. Andai aja.. aku tadi nggak ..."

"sssttt udah Kiran, jangan nangis lagi. kamu nggak maukan kalo Anin bangun nanti, dia harus liat kamu nangis. nanti dia jadi ikut sedih."

"tapi, Ren...."

kurangkul bahunya dan kugiring keluar ruangan. mengantarkannya kembali kepada Keenan.

"mending sekarang kamu pulang sama Keenan. Nan kamu anter Kiran pulang sekarang. dan Kiran , kali ini aja aku mohon jangan bantah perintahku ini. oke ?"

untuk sesaat senyum yang kupaksakan semakin memudar, bersamaan dengan langkah Kirana dan Keenan yang semakin menjauh. kulangkahkan kakiku kedalam ruangan bernuansa putih biru itu, kembali.mendekati ranjang tempat wanitaku terbaring. sedikit kudekatkan wajahku ke wajahnya. kukecup singkat keningnya, sembari berbisik ke telinganya. 

"cepatlah sadar sayang "

Flashback on

hari ini adalah hari penting untukku dan Anin. setelah prosesi pernikahan kami selesai. malam ini seperti keinginannya, resepsi pernikahan kami hanya mengundah orang terdekat. bahkan dia ingin semua acaranya nanti dilakukan di halaman belakang rumah.

malam ini dengan gaun warna biru cerah menjuntai jatuh membalut setiap lekuk tubuhnya, ditambah dengan beberapa hiasan kecil dibahunya. dia nampak cantik malam ini...TIDAK....dia selalu tampil cantik dimataku.tangannya sekarang terulur melingkar indah dalam genggamanku. seolah menyatakan bahwa aku adalah miliknya dan dia adalah milikku. 

acara berlangsung dengan lancar. semua tersusun dengan rapi dan teratur.hingga tanpa sengaja aku tertusuk duri bunga mawar yang saat itu menjadi hiasan meja.

" kamu nggak apa-apa Ren ?"

"hanya luka kecil, sayang"

tapi ntah karena apa perasaanku menjadi sedikit memburuk.

"kamu mau kemana Nin ?"

"mau ambil plester di dalam.sebentar aja kok Ren"

kepergiannya memang hanya untuk sesaat pikirku hing, terdengar keributan didalam rumah.

kulihat tubuh Anin telah terbaring dilantai dengan kepala penuh darah. seketika itu juga aku berlari kearahnya, memeluknya dengan erat. pikiranku tersa berat, seolah duniaku runtuh untuk sesat. hingga sebuah teriakan meyadarkanku.

"REN AYO !! KITA HARUS BAWA ANIN KE RUMAH SAKIT "

kulihat sebuah tangan dengan luka goresan yang cukup dalam. bahkan bersibah darah terulur kearahku.

" Kirana ? "

"udah nggak ada waktu Ren ! ayo !"

saat aku sampai di rumah sakit. Kirana mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi di dalam rumah.betapa terkejutnya aku mendengar setiap ceritanya.

"anin saat itu sedang melangkah ke ruang keluarga, hingga kulihat Clara mengikutinya dari belakang. saat itu juga, aku punya firasat buruk. segera kuikuti mereka, hingga kulihat Clara mengambil vas bunga dan menghantamkannya ke kepala Anin. Ren...a...aku...sung....sungguh minta maaf"

"lalu bagaimana tanganmu bisa terluka ?"

" aku yang mengetahuinya segera berlari ke arah Clara yang saat itu akan menusuk Anin. dan seperti yang kamu tau, kami saling berebut pisau itu, dan...."

"cukup kirana. makasih karena kamu sudah melindungi Anin"

Flashback off

betapa bodohnya aku, yang tak mampu melindungi wanitaku sendiri. bahkan membiarkannya terluka tak sadarkan diri.

,,,,

5 hari kemudian...

"ayo sayang, kamu harus segera bangun. mau sampai kapan kamu terlelap seperti ini ? aku dan semua orang rindu sama kamu. " ucapku dalam hati

sudah hampir lima hari, dan wanitaku tak kunjung sadarkan diri. hampir setiap hari pula aku selalu menemaninya disini.tak mampu ku pejamkan mata barang sebentar. jujur aku sangat takut, akan kehilangannya.

urusan kantor ? dengan baik hati Keenan mengijinkan ku untuk mengambil cuti hingga Anin sadar. namun meski begitu aku tetap tidak bisa menerima semua kebaikkannya. selama dirumah sakit, aku tetap mengontrol kinerja di kantor. bahkan membawa beberapa dokumen untuk kukerjakan disini, dan mengutus salah seorang karyawan kepercayaanku untuk mengambilnya jika sudah selesai.

lagi lagi hari telah berganti malam, dan wanitaku masih terlelap dalam mimpinya.

" kamu harus bangun Nin. bukannya kamu bilang, setelah acara pernikahan kamu mau menghabiskan sepanjang hari kita dengan mengobrol, membaca, memasak dan memandang indahnya gemerlap bintang di langit malam bersama. kita akan melakukannya bersama, segera setelah kamu sadar. karena itu, kamu harus bangun sayang. jangan buat aku dan yang lain menunggu. kami mungkin akan bersabar menunggu kamu. tapi kamu taukan, aku nggak suka ngeliat kamu yang berpenampilan lemah seperti saat ini ? I love you my lady. Please, opens your eyes for me " 


Whispering Of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang