Chapter 10

11.1K 591 11
                                    

Sehabis makan malam, kami sepakat untuk nonton film di laptop milikku. The Maze Runner 2: The Scorch Trials.

Tatapanku memang fokus ke layar laptop, namun tanganku mengarah ke arah Harrolds. Berusaha mengambil kentang goreng dalam bungkusan di tangannya.

"No!" teriakku, ketika tanganku belum juga mendapat kentang goreng. Yang ada, Harrolds malah berusaha menggenggam tanganku di dadanya.

Aku tanpa memperdulikan reaksinya, menghempaskan tangannya lalu memakan kentang yang baru saja kudapat dan fokus kembali menonton film.

Karena lelah sedari tadi bersandar, aku menelungkupkan tubuhku dan memajukan laptop agar sesuai dengan jarak pandang mataku. Nah, barulah aku sadar. Harrolds sedari tadi diam saja.

Kulirik wajahnya sekilas. Uh-oh, sepertinya dia marah karena kejadian tadi. Aku kan tidak bermaksud. Siapa yang menyuruhnya untuk terlalu ge-er seakan aku ingin dia menggenggam tanganku.

Harrolds sekarang ikut menelungkupkan tubuhnya, namun sedikit membelakangiku. Wajahnya masih saja cemberut.

"Can you got my butt?" Aku bernyanyi, mencoba mencairkan suasana.

"What?" Harrolds memandangku bingung.

"Can you got my butt~?" lanjutku bernyanyi lagi.

"Okay!" Seru Harrolds sambil tersenyum lebar dan menyentuh bokongku.

Aku langsung tertawa. Lalu menutup Laptop secara kasar dan meletakkannya di nakas. Dengan secepat kilat aku menindih tubuhnya yang masih telungkup. Duduk di atas punggungnya.

"Jangan cemberut, okay?" Kataku lalu mengecup pipinya dari samping.

Dan seketika itu juga, Harrolds membalikkan tubuhnya. Membuatku sedikit tergeser. Lalu kedua lengannya memeluk tubuhku hingga kepalaku bersandar di dadanya.

"Argh, Harrolds! Ahaha.." Aku tertawa sambil menahan sakit di perutku, bagaimana tidak? Harrolds menggelitik pinggangku sembari menahan tubuhku.

"Stop! Stop it...." Aku mengusap air mataku.

Harrolds diam, menatap mataku dalam.

"Quill, aku ingin memberitahumu sesuatu."

Uh-oh, nada suara Harrolds sangat serius sekarang.


"Memberitahu apa?"

"Setelah aku mengatakan hal ini, aku terima semua keputusanmu."

"Keputusan apa?"

"Memilih meninggalkanku, atau tetap bersamaku."

Aku mengernyit tidak suka, tentu saja aku akan tetap bersama dengannya selamanya. Kalau tidak begitu, untuk apa janji suci pernikahan?

"Katakan!" nada suaraku tak suka, apa dia begitu memandang remeh diriku? Aku tidak mungkin meninggalkannya apapun yang terjadi.

Harrolds mengambil nafas panjang, lalu memeluk tubuhku. "Aku mengidap penyakit, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)"

Aku menganggukkan kepalaku dalam dekapannya.

"Aku tau." Jawabku santai.

Nafas Harrolds seakan tercekat, dia diam. Mungkin dia masih kaget.

"Kau tau? Sejak kapan?"

"Sejak... sudahlah, itu tidak penting. Yang penting, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Aku semakin menenggelamkan kepalaku di dadanya.

"Kau tidak takut?"

"Tidak." Jawabku cepat dan yakin, lalu menatap matanya.

Harrolds tersenyum samar. "Bagaimana kalau aku yang takut?"

"Kenapa?" mataku berkedip dua kali, bingung. "Aku takut hilang kendali dan menyakitimu lebih banyak lagi. Dan kalau itu terjadi, mungkin aku akan menyuruhmu untuk meninggalkanku. Atau sebaliknya, aku yang pergi."

"Tidak!" Aku berontak dari dekapannya.

"Aku tidak mau! Jangan berani-berani kau melakukannya!" lanjutku marah. Aku tidak suka, sungguh. Itu hanya akan membuang-buang waktu dan menyakiti satu sama lain.

"Kenapa?"

"Harrolds, aku tidak suka pembahasanmu! Aku tidak mau drama percintaan seperti itu terjadi pada kita! It sucks! Saling menjauh, saling menyakiti diri sendiri, tapi pada akhirnya tetap mencari satu sama lain dan tetap bersama. Itu seperti drama picisan, buang-buang waktu!" jelasku panjang lebar, nafasku terengah menahan amarah.

"Ok, ok. Itu tidak akan terjadi, aku janji." Harrolds kembali mendekap tubuhku.

Aku diam. Harrolds diam.

Kami diam. Terhanyut oleh pikiran dan perasaan masing-masing. Hanya terdengar suara gemuruh hujan di luar sana.

Semoga saja, hal-hal baik selalu menyertai kami.

***

Ok, aku mulai bingung lagi bikin lanjutannya gimana. Aku bikinnya sambil denger lagunya Afgan sama Maudy – Hanyalah Kamu. OST nya Perfect 10. Webseries gitu, di Youtube. Iklan Ponds. Tapi suka banget, satu episode paling sekitar 5 menit an. Pemainnya Pamella Bowie, Afghan, sama Boy William. Tahun 2014 gitu :v

Nah, soal yang bagian nyanyi awal, menepis tangan sama yang nyanyi "Can you got my butt?" itu aku terinspirasi dari video couple orang mwehehe. Aku suka nge stalk akun instagram @coupleshabit sama @loversspot


My Freak HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang