Hope you like it!
-----------------------------------------------
Author's POV
Rosse menatap anaknya dengan tatapan sedih. Menurutnya, Lucy sudah berubah drastis, 180 derajat. Lucy yang biasanya periang dan hobi menjahili saudara saudaranya itu berubah menjadi lucy yang pendiam, tidak banyak bicara. Seakan menutup diri terhadap semua orang.
Rosse teringat ketika dirinya mengatakan kepada Lucy bahwa ada seseorang yang menolongnya dan mengantarnya pulang. Harry. Rosse tahu bahwa Harry adalah orang yang baik ketika dia melihat Harry menatap Lucy dengan penuh kelembutan.
Cinta remaja. Pikir Rosse.
Tapi dia tidak tahu bahwa dengan cinta, itu bisa merubah anaknya. Lucy.
Setiap hari Lucy hanya berdiam diri dikamarnya dan tidak pernah mau keluar. Dia keluar hanya pada waktu malam hari, sambil menenteng gitar, dan pergi menuju taman. Selalu seperti itu dan Lucy akan pulang keesokan paginya.
Jujur, Rosse mulai cemas akan keadaan anaknya itu. Sangat khawatir sebagai seorang ibu. Mungkin ini ada hubungannya dengan masalah Lucy dengan Harry. Tidak tahu pasti. Rosse hanya bisa menduga duganya.
Pagi ini Rosse berencana untuk membuatkan makanan kesukaan Lucy. Berharap Lucy akan kembali seperti dulu.
Tapi itu sirna ketika dia mengetuk pintu kamar Lucy, berniat mengantarkan makanan.
TOK!TOK!TOK!
Tidak ada balasan dari dalam. Rosse menghela napas panjang sebelum masuk. Selalu seperti ini. Lucy bagaikan mayat hidup.
"Lui sayang, ayo makan dulu. Ini mom buatin makanan kesukaan kamu."kata Rosse sambil meletakkan nampan yang berisi makanan di meja belajar Lucy. Dia melihat Lucy yang sedang duduk dipinggir jendela kamarnya dan menatap keluar dengan pandangan kosong dan menerawang. Lucy hanya menoleh sekilas kemudian kembali menatap ke luar. Helaan napas kembali terdengar dari Rosse.
Dengan perlahan dia membujuk Lucy supaya makan. Lucy mengangguk dan akhirnya Rosse tersenyum lega.
"Di habisin ya, Lui."katanya. Kata kata yang selalu dilontarkannya ketika menyuruh Lucy makan. Dan Lucy akan mengangguk. Setelah itu Rosse keluar dari kamar Lucy dan mentutup pintunya dengan pelan.
***
Gadis itu menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tangannya yang semakin kurus memeluk kedua kakinya dengan erat. Lucy.
Binar yang dulu selalu ada dimatanya berganti dengan tatapan datar.Tidak ada ekspresi yang ditampilkan gadis itu.
Wajahnya yang semakin tirus dan pucat membuat dia benar benar seperti mayat hidup. Dia tidak mau mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Dia butuh waktu untuk itu.
Lucy melirik makanan yang baru diantarkan ibunya. Dia menatap lama makanan yang dulu menjadi kesukaannya. Kemudian menyendokkan makanan itu ke mulutnya dengan perlahan.
Dia hanya memakan 1/3 dari makanan di piring itu sebelum kembali memandang keluar jendela.
Dia menatap jalanan di depan rumahnya yang ramai.
Dia masih memandang dengan kosong.
Dia masih menunggu hari dimana seseorang menepati janjinya.
Menunggu hari dimana dia bisa memandang bintang lagi bersama orang itu.
Seseorang yang sangat berarti baginya.
Dan dia hanya bisa menunggu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Almost is Never Enough
Ficção AdolescenteAlmost is never enough. Geezz... Being a Directioner girl? No! I dont like them! However, why I could fall in love with one of them? Love at first sight? Nope I probably do not mean in the eyes Ok ooojookooioikiiiiibo2f c ojjbbp Opo oiooocbf0pxk...
