Nightmare

56 9 0
                                        

Hope you like it!

Quotes fo this chapter :

"I don't chase after anyone anymore... If you want to walk out of my, life, i'll hold the fuckin' door open for you."

-------------------------------------------

Author's POV

Tiba saatnya ujian semester 1 berakhir. Selama seminggu belajar sampai otaknya hampir meledak, akhirnya Lucy dapat kembali bernapas lega. Dia sudah pusing dengan soal soal ujian ditambah masalah mimpi buruknya yang teburuk seminggu yang lalu. Benar benar membuat stres. Dan kali ini Lucy hanya tinggal menunggu pembagian raport, dan sepertinya dia butuh liburan.

Inilah tanggapan mama Lucy mendengar rencananya.

"Apa? Liburan?"tanya mama Lucy kaget mendengar rencana Lucy.

Lucy mengangguk. "Ya, Mom. Menurut Mom mending aku liburan ke mana?"

Mama hanya tersenyum menanggapi Lucy. "Terserah kamu. Apa mungkin kamu mau liburan bersama Papa?"

Senyum Lucy mengembang mendengarnya. "Ide bagus, Mom! Mom memang yang paling... paling..."

"Paling apa?"

"Paling tua di rumah ini."canda Lucy sambil menyengir kuda.

Mama mengacak rambut Lucy gemas. "Udah, ah, Mama mau masak buat makan malam dulu. Dan mending sekarang kamu mandi."

Lucy mengangkat jempolnya dan matanya mengikuti gerakan langkah mamanya menuju dapur. Kemudian dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi di kamarnya.

Selama 30 menit Lucy berendam di bathup dan berpakaian. Dia segera menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan. Ketika sampai di meja dapur, dia melihat makanan makan malam sudah tersaji sementara Friska dan Eric sudah menunggu. Lucy duduk di samping Eric.

"Di mana Eric?" tanya Lucy.

Friska menampilkan devil smirk-nya. "Dia sudah ku kunci rapat di lemari gudang." Matanya dibuat juling kemudian dia meniru setan setan yang sedang tertawa, tapi malah melenceng menjadi suara ibu ibu rempong di pasar. "Hahahaha... "

Lucy meringis melihat penyakit jahil Friska kambuh. Sementara Eric hanya menatap Friska datar. Mama yang datang dari arah dapur sambil membawa jus jeruk terlihat bingung.

"Hei, mana Ethan?"

Lucy segera menunjuk ke arah Friska. "Ini! Ini dia pelakunya! Penyebab dari segala wabah penyakit."Dia menggeleng gelengkan kepalanya seperti tidak habis pikir akan kelakuan Friska.

Friska mendecak sebal. "Gak, Mommy-"

"Dia mengunci Ethan rapat di tong sampah!"balas Lucy sambil menampilkan wajah tak berdosa.

Friska menggeleng. "Gak! Siapa juga yang ngunci di tong sampah."protes Friska.

Mama memirigkan kepalanya. "Jadi, kalau bukan di tong sampah, di mana?"

Friska gelagapan. "eh, itu... Aku gak ngunci kok, Mom. Cuma tadi Aku gak ngira kalo Ethan ada di gudang. Makanya aku kunci deh gudang."

Tiba tiba Ethan datang dengan wajah cemberut. "Apaan! Dia bohong!"Ethan menuding Friska yang langsung pura pura bodoh. "Jelas jelas dia ngunci aku pas aku mau ngasih tau kalau dia udah punya pacar!"

Friska menggeleng. "Gak, Mom. Itu Fitnah! Percaya pindah agama."

Mama melihat Ethan dan Friska bergantian. "Ah, sudahlah, lupakan saja. Ayo kita makan."

Almost is Never EnoughTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang