03. Cita-cita

10.7K 1.1K 101
                                        

Sudah tidak terhitung berapa kali Reihan menguap ketika sedang diajari Matematika Ekonomi oleh Nadhira, padahal besok akan ada kuis pertama di semester dua. Ah, dia memang payah! Walaupun nilainya hancur-hancuran semester lalu, tetap saja baginya seolah-olah angin lalu. Dari SMA sikapnya yang menyepelekan pelajaran itu tidak pernah berubah.

"Rei, ngerti gak sih?" tanya Nadhira tidak sabaran sambil memukul kepala Reihan dengan pulpen.

Reihan hanya menggeleng-geleng dan meletakkan kepalanya di atas meja ruang tamu rumah Nadhira, yang sudah jadi rumah keduanya. Dengan malas cowok itu membuka ponselnya dan terlihat mengetik pesan dengan hikmat.

"Chat sama Jasmine aja, lo bisa fokus! Masa ginian doang gak bisa?" Nadhira mencibir sambil menatap cowok di depannya sebal.

"Gue semangat ke kampus gara-gara ada dia, tau, Dhir!"

Nadhira memutar bola matanya ke atas.

"Lagian, kan gue gak pernah mau masuk Manajemen."

"Salah sendiri kenapa ngikutin gue? Harusnya lo kejar aja cita-cita lo, Rei," sahut Nadhira datar.

Reihan mengetuk-ngetukkan pulpennya ke atas meja, terlihat berpikir keras.

"Yah, dulu kan gue nggak tau cita-cita gue apa, Dhir. Yang ada dipikiran gue, pokoknya kita masuk ke fakultas yang sama—atau paling enggak, universitas yang sama."

Nadhira masih ingat obrolan mereka beberapa tahun lalu ketika masih SMA. Ia ingat Reihan mengatakan hal yang sama persis seperti itu.

"Terus sekarang lo udah tau cita-cita lo apa, Rei?" tanya Nadhira ragu-ragu.

Reihan tersenyum tipis, "Untuk sekarang, gue cuma perlu ngeliat senyum Jasmine setiap hari."

Entah apa yang membuat Reihan begitu tergila-gila dengan Jasmine. Selama ini Nadhira tidak pernah melihat Reihan seperti itu, seolah-olah cowok itu akan melakukan apa saja demi Jasmine.

Memang, Jasmine adalah salah satu teman dekatnya. Tapi Nadhira tidak memungkiri kalau diam-diam ia mengumpat dirinya sendiri karena sudah mengenalkan Jasmine dengan Reihan.

Ketika semester lalu—awal-awal kedekatan Reihan dan Jasmine—Reihan bahkan sering kali tidak masuk kuliah hanya karena pergi dengan Jasmine, atau lebih tepatnya jadi supir pribadi Jasmine. Reihan rela mengantar cewek itu kemanapun, membelikannya benda apapun, dan melakukan hal-hal gila lainnya yang membuat Nadhira benar-benar hampir kehilangan akal.

Reihan yang dulu ia kenal tidak seperti ini.

***

SMA Pelita Jaya, 2013

"Dhira!" panggil Reihan dari ujung koridor, membuat semua mata menoleh ke arahnya.

Nadhira yang baru saja keluar kelas ikut-ikutan menoleh ke sumber suara, mendapati Reihan sedang setengah berlari ke arahnya. Kemeja sekolahnya terlihat lecek dan rambutnya berantakan.

"Ngapain teriak-teriak gitu, sih?" omel Nadhira ketika Reihan sudah berjalan sejajar dengannya.

Reihan langsung tersenyum lebar, memamerkan brackets-nya yang berwarna biru itu. Dengan satu gerakan cepat cowok itu mengeluarkan ponselnya. Pada layar ponsel tertera sebuah poster perlombaan menulis cerita pendek mengenai Korea Selatan dan budayanya dalam sepuluh ribu kata, dan hadiahnya adalah ke Korea Selatan selama tiga hari.

"Terus maksudnya apa?" tanya Nadhira polos, masih tidak mengerti.

Reihan mendecak tidak sabaran, "Lo kan berbakat tuh, nulis-nulis novel. Terus lo juga demen Korea, ya ikut aja! Siapa tau lo menang terus bisa jalan-jalan ke Korea gratis? Kan lumayan banget!"

"Ah, gue nggak yakin Rei..." respon Nadhira sambil menggigit bibir bawahnya.

Memang sih, Nadhira suka menulis dan sudah menyelesaikan beberapa cerita sejauh ini. Namun tidak ada satupun yang pernah ia publish ke penerbit, ia juga tidak pernah meminta orang lain untuk membaca karyanya. Satu-satunya orang yang tahu kegemarannya dalam menulis adalah Reihan, cowok itu pernah iseng membuka-buka laptop nya dan membaca ceritanya tanpa izin.

"Ooh, jadi nyali lo cuma segini doang ya, Dhir?" tantang Reihan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana abu-abunya.

Nadhira refleks mendorong bahu Reihan sambil mengerucutkan bibirnya.

"If you never try, you'll never know."

Nadhira tetap diam saja sambil terus berjalan menuju kantin sekolah mereka yang mulai dipadati murid-murid. Matanya mencari-cari tempat yang kosong, dan ketika dapat, ia langsung menuju tempat duduk itu diikuti Reihan yang mengekorinya saja sejak tadi.

"Cita-cita lo apa sih, Dhir?" tanya Reihan ketika mereka sudah duduk di bangku paling pojok, menghadap langsung ke lapangan basket.

Cita-cita? Nadhira tidak tahu. Selama ini ia hanya mengikuti saran orang tuanya saja. Mereka ingin Nadhira masuk fakultas Ekonomi ketika kuliah nanti, maka sekarang ia mengambil jurusan IPS. Mereka tidak pernah benar-benar bertanya apa yang Nadhira inginkan. Nadhira memang bisa berenang dan bermain piano, tapi itu semua karena sejak kecil Nadhira memang sudah ikut les ini-itu. Satu-satunya bakat yang ia kembangkan sendiri hanyalah menulis, itu juga kalau bisa disebut bakat.

"Gue cuma mau bikin orang tua gue bahagia, Rei. Kalo lo apa?"

Reihan langsung tertawa mendengarnya, "Apaan sih, drama!"

"Idih, malah diketawain! Cita-cita gue mulia tau."

Sambil berpikir keras, Reihan mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja, kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan sejak dulu.

"Apa ya? Gue nggak kepikiran apa-apa sih. Gue ngikutin lo aja, deh."

Nadhira langsung menaikkan sebelah alisnya, "Lah kok ngikutin gue?"

"Iyaa," jawab Reihan ragu-ragu sambil mengedikkan bahu, "Dari dulu kan kita selalu bareng, Dhir. Lo ambil IPS, gue juga IPS. Jadi kayaknya kalo kuliah nanti lo mau ambil Ekonomi... gue juga, deh. Walaupun beda jurusan, seenggaknya kita satu fakultas dan satu universitas."

"Kok gitu?" Nadhira mengulangi pertanyaannya, masih terheran-heran.

Kalau dipikir-pikir, omongan Reihan memang ada benarnya. Sejak SD mereka selalu bersama. Reihan dititipi untuk menjaga Nadhira, dan cowok itu benar-benar menepati janjinya. Menjelang UN SMP saja Reihan tiba-tiba rajin belajar, biar bisa satu SMA dengan Nadhira katanya.

Reihan menatap Nadhira sebentar sebelum menjawab, "Gue nggak bisa ngebayangin kalo nggak ada lo deh, Dhir."

Nadhira yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak, apalagi melihat ekspresi Reihan yang sok serius itu. Ia langsung mengacak-acak rambut Reihan yang memang biasanya berantakan.

"Ya masa kita mesti bareng-bareng terus? Kalo gue punya pacar? Atau kalo lo punya pacar? Masa salah satu dari kita mesti jadi nyamuk?"

Mendengar kalimat itu Reihan langsung mendesah pelan, ia tidak pernah membayangkan kalau salah satu dari mereka punya pacar.

"Dhir, kalo lo punya pacar, terus pacar lo ngelarang lo temenan sama gue gimana?" tanya Reihan kemudian, masih dengan ekspresi serius.

Nadhira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan cowok manapun selain Reihan, jadi pasti akan sedikit aneh kalau membayangkannya dengan orang lain. Maksudnya, yah, seumur hidupnya, cowok yang ia kenal dengan baik hanya Reihan.

"Kalo lo yang dilarang gimana, Rei?"

Dengan tegas Reihan menggeleng, "Ya nggak mau, lah! Siapa dia ngelarang-larang? Kalo diibaratkan nih, lo tuh kayak separuh jiwa gue, Dhir. Hampir seumur hidup gue bareng-bareng sama lo."

Mendengar kalimat itu Nadhira hanya bisa diam, takut debaran jantungnya terdengar oleh Reihan.

***

A/N: cerita ini emang beberapa bagiannya ada yang flashback, jadi perhatikan baik-baik keterangan waktunya yaa! Kalo flashback, biasanya tulisannya italic. Enjoy!

Friends, Lovers, or Nothing?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang