04. Sushi

8.8K 1K 93
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat ketika Nadhira sampai di kampus. Napasnya tersengal-sengal ketika ia memasuki kelas dan duduk di bangkunya yang paling depan, seperti biasa.

"Dhir, abis dari mana kok keringetan gitu?" tanya Renata, teman kampus Nadhira yang kebetulan mengambil kelas Matematika Ekonomi yang sama semester ini.

Renata Lubis merupakan teman dekat Nadhira sejak awal masuk semester lalu. Mereka mengambil kelas yang sama pada pelajaran Pengantar Bisnis dan Statistik, dan sejak saat itu mereka jadi sering mengobrol dan lama-lama menjadi teman akrab. Nadhira dan Renata juga memiliki 'geng' yang berisi tiga cewek jurusan Manajemen yaitu Nadhira Idris, Renata Lubis, dan Naomi Agatha. Sebenarnya geng mereka terdiri dari empat orang kalau ditambah dengan Jasmine Alatas, tapi cewek itu jarang berkumpul dengan mereka sejak hubungannya dengan Reihan kian intens.

Nadhira tersenyum tipis, "Iya, gue hari ini berangkat naik ojek hehe."

Renata langsung membelalakkan matanya, "Hah?! Naik ojek? Serius lo? Si Reihan mana?"

"Dia hari ini cabut kelas katanya. Mau jalan sama Jasmine," jawab Nadhira pelan ketika ekor matanya menangkap Pak Burhan, dosen Matematika Ekonomi yang killer masuk ke dalam kelas.

Setelah mengatur napas, Nadhira mengeluarkan buku pelajaran dan kertas binder dari dalam tas punggung miliknya, menunggu Pak Burhan memberikan aba-aba untuk memulai kelas.

"Baik saya absen dulu," kata Pak Burhan dengan suaranya yang berat, diikuti dengan acungan tangan mahasiswa-mahasiswa ketika namanya dipanggil.

"Nadhira Idris!"

Dengan sigap Nadhira langsung mengacungkan tangannya, diikuti dengan pertanyaan, "Mana temanmu si Reihan? Hari ini kan kuis?"

Nahira hanya tertawa canggung mendengar pertanyaan itu, "Eh... dia lagi gak enak badan, Pak."

"Semester lalu nilainya sudah dapat D gara-gara sering nggak ikut kuis. Bilang sama dia ke kantor saya besok!"

***

Kantin Fakultas Ekonomi atau yang biasa disingkat KaFE itu memang selalu ramai kalau sedang jam istirahat makan siang, karena biasanya pada jam 12 sampai jam 1 memang tidak ada kelas, kecuali kelas tambahan atau kelas pengganti.

"Sushi lagi?" tanya Renata sambil menggelengkan kepalanya, membuat poni yang jatuh tepat di atas alisnya itu bergerak sedikit.

Nadhira hanya cengengesan dan menyantap makanan pesanannya dengan lahap. Ia memang sangat suka sushi! Apalagi kalau sushi salmon-nya Sushi Tei—yang hanya ia beli kalau sedang awal bulan atau kalau sedang dapat uang jajan tambahan.

"Sushi tuh enak bangeeet," respon Nadhira sambil mengambil sushi Chicken Karage miliknya dengan sumpit dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.

"I can't resist anymore sushi in our friendship, Dhir. It's enough seeing you makan sushi every fuckin' day," timpal Naomi sambil tertawa-tawa melihat tingkah teman yang baru ia kenal beberapa bulan belakangan itu.

Naomi Agatha yang menjadi satu-satunya anak Manajemen yang memiliki skor TOEFL di atas 600 itu memang belum lama kenal Nadhira, tapi ia merasa sudah sangat cocok! Mereka memiliki selera yang sama dalam urusan drama Korea, dan kalau sudah membicarakan hal itu, mereka bisa lupa waktu.

"Eh, by the way... Jasmine mana?"

Pertanyaan itu membuat Renata yang sedang terpaku dengan iPad-nya menoleh, kemudian melirik penuh arti ke arah Nadhira.

"Ah, lo kayak nggak tau dia aja, Nao!"

Mendengar jawaban Renata, Naomi langsung mengangguk antusias dan mengeluarkan ekspresi siap-bergosip-ria-till-drop khasnya. Tidak butuh waktu lama sampai Renata melanjutkan, "Hari ini aja Dhira naik ojek loh, ke kampus. Gara-gara Reihan rela-relain absen demi nemenin Jasmine jalan!"

Naomi langsung memasang wajah 'wow' yang tidak dibuat-buat, cewek itu bahkan sampai tepuk tangan segala!

"Great! Gue salut sama Jasmine!" teriak Naomi dengan nada sarkastik, membuat Nadhira hanya tersenyum kikuk.

"Reihan juga emang lagi nggak enak badan kok," bela Nadhira kemudian.

Duh, Rei... gara-gara gue lo jadi diomongin sama orang-orang. Maaf ya? batin Nadhira, ia merasa tidak enak karena membuat Reihan dan Jasmine seolah-olah berada di posisi yang salah. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada salahnya kan? Toh hubungan mereka juga tidak mengganggu atau merugikan orang lain.

Dengan cepat Naomi mengibas-ngibaskan tangannya di udara, "Sssh! Don't you dare belain dia kayak gini, Dhir. You went here by ojek, you said?!"

"Gapapa kali, Nao. Gue sama Reihan kan nggak harus selama-lamanya bareng terus."

"Gapapa?!?" Naomi mengulangi penyataan Nadhira dengan kaget, seolah-olah itu merupakan kalimat asing, "Your house is in Pondok Pinang, which is near Pondok Indah Mall, which is like thousand kilometers away and you went here by ojek?!"

"Cuma sekitar tujuh belas kilometer, Nao. Don't make it sound horrible," timpal Nadhira datar.

Renata mengangguk setuju, tidak memedulikan respon Nadhira.

"Lagipula gue emang pernah denger gosip-gosip tentang Jasmine, deh!"

"Gosip apa!?" tanya Naomi yang tidak kalah antusias, cewek itu sampai memajukkan badannya ke depan dengan sepasang mata yang menatap Renata penasaran.

Ketika mendengar apa yang Renata katakan, Nadhira seolah-olah tersambar petir. Sekarang ia tahu alasan kenapa setiap melihat Jasmine, ada sesuatu yang rasanya tidak benar.

Hanya satu yang ia tidak tahu; apakah hal yang dikatakan Renata itu benar atau tidak.

***

Malam-malam sekali tiba-tiba ponsel Nadhira yang selalu ia letakkan di atas meja belajarnya bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Reihan.

Reihan Soe: dhir udah tidur belom

Reihan Soe: gue lg butuh saran lo nih

Nadhira langsung mengernyitkan dahinya. Saran? Mau ngapain sih nih anak tengah malem gini nanyain saran segala? gumam Nadhira dalam hati sambil membalas pesan dari Reihan itu.

Nadhira Idris: kebangun gara2 chat lo nih. kenapa?

Baru saja ia menekan tombol 'send' ketika tahu-tahu Reihan sudah membacanya.

Reihan Soe: menurut lo kalo gue nembak Jasmine skrg, kecepetan gak?

Reihan Soe: gue dari dulu emg gak berpengalaman bgt deh urusan beginian

Melihat nama cewek itu refleks membuat Nadhira membanting ponselnya ke atas kasur. Kenapa dia bisa terlambat tahu tentang cewek itu sih? Ketika Reihan, sahabatnya, sudah tergila-gila dan seolah bisa mati kalau harus hidup tanpa cewek itu.

Nadhira Idris: kecepetan, jangan buru2. kaya bsk langsung lamaran aja

Reihan Soe: kalo bisa gue pengen deh!

Membaca pesan terakhir yang dikirim Reihan membuat Nadhira membelalakkan matanya. Apa-apaan itu barusan!?

Nadhira Idris: you deserve someone a lot better. jangan buru2. get to know her first

Reihan Soe: artinya apaan dhir?

Nadhira Idris: jangan lupa baca doa sebelum tidur

Setelah membalas chat dari Reihan, Nadhira memutuskan untuk mematikan ponselnya dan tidak merespon lagi apapun yang Reihan katakan. Ia bukannya tidak senang Reihan akhirnya dekat dengan cewek selain dirinya, hanya saja... kenapa Jasmine orangnya?

***

A/N: latar belakang tempat cerita ini di Universitas Indonesia, beberapa bagian kayak lokasi dan nama kantin saya adaptasi dari Universitas Indonesia itu sendiri. Tapi ada juga beberapa tempat yang hanya imajinasi saya, namanya juga fiksi hehehe :P

Friends, Lovers, or Nothing?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang