SMA Global Jaya, 2013
"Mir, ada anak baru cantik banget! Udah liat belom?" tanya teman kelasnya, Tito.
Emir menggeleng, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi tertarik sama sekali. Sejak pagi teman-teman kelasnya sudah ribut membicarakan anak baru yang katanya cantik itu.
"Jangan nanya Emir lah, To! Kalo urusan cewek kan dia nggak pernah demen," sahut temannya yang lain.
Bukan, Emir bukanlah seorang gay. Dia hanya trauma terhadap perempuan, maka dari itu agak sulit untuknya menerima kehadiran perempuan manapun. Teman dekat perempuannya di sekolah saja hanya ada satu orang, itu juga karena temannya itu kebetulan tinggal di apartemen yang sama dengannya.
Trauma terhadap perempuan itu diawali sejak ia masih kecil, ketika ibunya membawa selingkuhannya ke rumah setiap ayahnya sedang dinas ke luar negeri. Ayahnya adalah seorang duta besar Indonesia yang memang jarang berada di rumah, selau berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Dulu ia belum mengerti siapa sosok pria yang selalu dibawa ibunya ke rumah, ia selalu mengira itu adalah pamannya.
Sampai ketika Emir sudah duduk di bangku SMP kelas tiga, ia akhirnya mengerti. Ibunya sendiri yang memintanya untuk tidak mengatakan apa-apa, dan sampai detik ini ayahnya masih belum tahu tentang hal itu sama sekali. Ia benci ketika melihat ibunya bersikap baik di depan ayahnya, seolah-olah ia adalah istri terbaik di dunia yang setia menunggu suaminya pulang dari dinas berbulan-bulan dan bertahun-tahun di belahan dunia lain. Sejak itu—lebih tepatnya sejak awal masuk SMA—Emir memilih untuk tinggal sendiri di Jakarta, menjauhi Bandung dan segala mimpi buruknya.
"Mir, Mir, nengok Mir!" teriak Tito sambil menepuk pundak Emir tidak sabaran, membuat Emir akhirnya mengikuti arah tatapan Tito ke koridor di depan kelasnya.
Seorang cewek dengan wajah cantik lewat di depannya sambil malu-malu.
"Permisi," ucap cewek itu pada Emir yang berdiri tepat di depan pintu, kontan Emir langsung bergeser dan mempersilahkan cewek keturunan Arab itu masuk.
"ASIKKK EMIR!"
"Kacau kita ditikung bos Emir!!!"
Emir hanya menggelengkan kepalanya mendengar teman-temannya bersorak sorai melihat adegan yang sebenarnya biasa-biasa saja itu, "Kalo lo yang berdiri di depan pintu juga dia bakal tetep bilang permisi."
***
"Emir Laksamana ya?"
Suara yang asing itu membuat Emir yang sedang mengikat tali sepatu futsalnya menoleh.
Si anak baru. Kenapa dia disini?
"Eh, iya."
"Gue Jasmine Alatas, salam kenal ya!"
Emir mengangguk pelan sementara ia dapat mendengar suara berisik teman-temannya dari lapangan futsal yang hanya beberapa meter di depannya.
"Gue ganggu nggak kalo nunggu disini?" tanya cewek itu sambil tersenyum manis.
"Ganggu gimana? Nunggu siapa?" Emir balik bertanya dengan bingung.
Cewek bernama Jasmine itu langsung menunduk, wajahnya bersemu merah ketika ditanya.
"Kata anak-anak, lo pemain futsal paling jago di sekolah ini... kalo gue nonton, boleh ya?"
Emir mengedikkan bahunya santai, "Boleh-boleh aja kok."
Ketika peluit tanda sparing dimulai, Emir langsung berlari ke lapangan, disusul dengan pertanyaan teman-temannya tentang obrolannya tadi dengan si anak baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
