Oktober, 2012
Reihan mondar-mandir di depan rumahnya seraya mencoba menelepon ponsel Nadhira dengan cemas. Tangannya gemetaran sejak tadi karena ia lupa untuk menjemput sahabatnya itu di sekolah, padahal ia sudah berjanji untuk mengajak Dhira pulang bersama.
"Kenapa Rei, kok mondar-mandir gitu?" tanya ibunya heran melihat tingkah laku anak bungsunya itu.
Reihan menggeleng sambil tersenyum tipis, mencoba menutupi kecemasannya—karena kalau sampai ibunya itu tahu, bisa gawat!
"Jangan bohong. Kenapa? Kamu gak menang pertandingan futsal tadi siang?"
Lagi-lagi Reihan menggeleng. Ah, kalau dicecar pertanyaan seperti ini, Reihan jadi tidak bisa lama-lama menutupi hal apapun dari ibunya—yang seolah tahu semuanya. Aneh.
"Bukan gitu, Ma... aku lupa jemput Dhira habis pulang futsal, dan sampe sekarang kayaknya aku belum liat dia pulang ke rumah, deh. Teleponnya juga nggak diangkat," akhirnya Reihan mengatakan yang sejujurnya.
"Lho... kok bisa?" kali ini ibunya terdengar kaget, kemudian menatap rumah bercat putih di seberang dengan was-was, "Coba kamu samperin ke rumahnya. Kali aja kamu gak liat pas dia sampe rumah?"
Reihan terlihat ragu sebelum akhirnya menggeleng, "Aku gak enak sama Tante Sasha, Ma."
Ibunya itu langsung mendekati Reihan dan mengelus kepalanya lembut, "Lagian kok kamu bisa lupa jemput Dhira? Tumben-tumbenan banget?"
"Yaa gitu, Ma. Aku tadi nganterin temenku dulu pulang."
"Temen yang mana?"
Mendengar pertanyaan itu, Reihan langsung salah tingkah. Ia jadi ingat belum cerita tentang cewek kelasnya yang entah kenapa belakangan ini jadi sering mengobrol dengannya, dan cewek itu adalah manajer tim futsal di sekolahnya—yang kebetulan tadi siang menonton pertandingan futsalnya dan tidak bisa pulang karena hujan, jadi Reihan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Manajer tim futsal aku, namanya Viola. Tadi siang dia gak bisa pulang karena hujan deres banget, jadi aku sekalian nawarin dia pulang bareng deh, Ma," jawab Reihan sambil tersenyum sungkan.
Ibu Reihan menggelengkan kepalanya pelan, "Jangan sampe gara-gara itu kamu jadi lupa lho sama Dhira. Kasian dia kalo pulang sendiri terus kehujanan."
Reihan diam saja mendengar kalimat itu, dan ketika ibunya masuk kembali ke dalam rumah, ia memberanikan diri untuk mengecek Nadhira ke rumahnya.
Tok... tok... tok...
Merasa tidak ada jawaban, Reihan lalu membunyikan bel beberapa kali.
"Eh, Reihan? Ada apa malam-malam begini?" tanya Sasha—ibu Nadhira—heran.
"Hng... nggak Tante, mau ketemu sama Dhira. Dhira nya ada?"
Tante Sasha mengangguk, namun ekspresinya terlihat khawatir, "Dhira kehujanan tadi siang, terus pas sampe rumah dia langsung tidur. Eh, sekarang badannya malah anget. Tante jadi takut... Mana si Om lagi di luar kota pula!"
Reihan langsung merasa menyesal ketika mendengar jawaban Tante Sasha. Sejak kecil Nadhira selalu sakit habis terkena hujan, walaupun hanya beberapa titik. Dia punya alergi hujan. Karena alerginya itu, setiap melihat hujan Nadhira jadi ketakutan sendiri.
"Aduh, Tante. Maaf banget Rei tadi siang ada tanding futsal jadi gak bisa pulang bareng Dhira..."
Tante Sasha langsung tersenyum, walaupun ekspresi khawatir itu tetap ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
