"Lho, kok kalian diem-dieman gitu sih?" tanya Renata heran ketika melihat Nadhira dan Reihan sibuk dengan ponsel masing-masing, padahal mereka duduk bersebelahan. Belakangan ini ia mereka memang terlihat jauh dan canggung, atau itu hanya perasaannya saja?
Nadhira menggeleng pelan sambil memaksakan sebuah senyum, "Nggak apa-apa, Ren. Gue cuma grogi karena hari ini bakal presentasi."
Omongannya itu kontan memancing rasa penasaran Reihan, namun cowok itu enggan bertanya.
"Presentasi apa?" tanya Naomi bingung, kemudian sebelum Nadhira menjawab, cewek blasteran itu tiba-tiba saja menepuk jidatnya, "Oh my gosh! Is is today? Your business plan, right? Yang bareng Emir itu, kan?"
Refleks Nadhira menyikut Naomi sambil tertawa, "Nggak usah sok-sok lupa gitu deeh!"
Naomi tersenyum jahil lalu mengalihkan pandangannya ke Reihan, "Rei, Jasmine mana? Kok nggak masuk?"
"Sakit," jawab Reihan datar.
"Jenguk dong pacarnya yang lagi atit, kan kasian," timpal Renata sambil cekikikan, namun Reihan tidak meresponnya.
"Sakit apa?" kali ini giliran Nadhira bertanya.
"Nggak tau."
Nadhira memicikkan matanya ke arah Reihan, "Ditanya baik-baik juga, jawab yang bener kali! Hari ini gue ada presentasi bukannya nyemangatin, malah diem aja. Tanya kek gitu, gimana presentasinya, tentang apa, itu presentasi buat apa..."
Reihan diam saja seolah-olah omongan Nadhira itu angin lalu.
"Eh, koala! Gue marah ya kalo lo diem terus?!"
Mendengar Nadhira mengatainya dengan sebutan 'koala', kontan Reihan tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali ia mendengar Nadhira mengatainya dengan julukan itu, kalau tidak salah ketika SMA? Atau bahkan SMP? Bukan tanpa alasan, tapi karena Reihan memang seorang pemalas yang hobi makan—lalu kemudian tidur ketika sudah kekenyangan, persis seperti koala.
Sempat ragu sebentar sebelum akhrinya Reihan merangkul sahabatnya itu sambil menjitak kepalanya, "Lo nyebelin sih. Makanya jangan jauh-jauh dari gue, Dhir."
Deg... deg.. deg..
Debaran jantung yang aneh itu terasa lagi, debaran yang hampir selalu muncul tiap kali ia melakukan kontak fisik dengan Reihan. Weird, pikirnya tak mau ambil pusing.
"Eh, Rei! Hati-hati lo kalo ngerangkul bini orang!" seru Renata heboh kemudian mencoba memisahkan dua sahabat itu, sementara Reihan semakin mempererat rangkulannya.
"Biarin, dari masih bayi juga Dhira udah sama gue, emangnya kenapa?"
Naomi mengangkat kedua alisnya sambil melirik ke arah Emir, "Tuh, yang di ujung sana udah panik ngeliat kalian berdua akur lagi."
Nadhira mengikuti arah pandangan Naomi dan mendapati Emir sedang memperhatikannya dari sudut kelas, membuat Nadhira tiba-tiba saja dihujani rasa bersalah—entah karena apa. Sejak apa yang terjadi dengannya dan Emir belakangan ini, ia merasa ada sesuatu yang berubah di antara mereka, walaupun baik ia maupun Emir tidak ada yang pernah mengatakan apa-apa.
"Nanti pulang kampus temenin ke rumah Jasmine yuk!" ajak Reihan kemudian, yang langsung di respon dengan gelengan pelan Nadhira.
"Ih, kenapa?"
"Nggak ah, nanti gue jadi nyamuk!" jawab Nadhira seadanya kemudian mencoba menjauhkan lengan Reihan yang masih menjuntai di pundaknya.
Reihan mendesis pelan, "Ya udah kalo gitu, gue doain semoga business plan lo sama Emir nanti gagal!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
