Sudah dua hari Eyang Nina tidak sadarkan diri di ICU, tepatnya sejak Kamis malam. Ketika itu, Nadhira baru setengah jam sampai di rumah lalu tiba-tiba ibunya mendapat kabar dari adiknya yang tinggal di Bandung kalau Eyang Nina masuk ICU karena terkena serangan jantung.
Eyang Nina adalah nenek Nadhira satu-satunya, karena kalau nenek dari ayahnya sudah lama meninggal—jauh sebelum Nadhira lahir. Mendengar kabar itu, Nadhira langsung ngotot ingin ikut ke Bandung menjenguk nenek satu-satunya itu.
"Menurut Papa, Eyang masih bisa sadar kan?" tanya Nadhira ketika mereka duduk di ruang tunggu, sementara jam di rumah sakit yang berada di kawasan Pasteur itu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Ayahnya itu tersenyum tipis, "Berdoa, Nak. Sekarang yang penting kondisi Eyang sudah membaik."
Nadhira menghembuskan nafas berat. Ia dulu sangat dekat dengan neneknya dan sering menginap di rumah neneknya—yang berada tidak jauh dari rumahnya dan masih di kawasan Pondok Indah—ketika liburan sekolah. Tapi sejak setahun belakangan, neneknya pindah dari Jakarta dan lebih memilih tinggal di Bandung bersama anak bungsunya yang menikah dengan seorang nahkoda kapal pesiar dan sedang kerepotan mengurus anak-anaknya yang masih kecil sendirian karena sering ditinggal suaminya melaut sampai berbulan-bulan.
"Kenapa Eyang bisa kena serangan jantung ya, Pa? Kan keluarga mama nggak ada yang punya riwayat penyakit jantung?"
"Eyangmu itu kan bertahun-tahun kena diabetes. Tadi malem papa ngobrol-ngobrol sama dokternya, katanya diabetes itu kalau sudah menahun memang banyak efeknya. Ya salah satunya kena serangan jantung ini," jawab ayahnya panjang lebar.
Bisa dibilang neneknya itu adalah anggota keluarga yang benar-benar dekat dengannya, dibandingkan dengan kedua orangtuanya sendiri. Walaupun Nadhira memang dekat dengan ayah dan ibunya, tapi kedekatan itu hanya sebatas hubungan orangtua dan anak sewajarnya. Nadhira lebih sering menceritakan kesehariannya pada Eyang Nina, dan berhubung rumah neneknya itu dekat dengan SMP dan SMA-nya dulu, ia jadi sering mampir kesana setiap pulang sekolah diantar oleh Reihan.
Omong-omong soal Reihan, Nadhira jadi ingat ia belum memberitahu Reihan tentang kondisi neneknya, karena biar bagaimanapun Reihan sudah menganggap Eyang Nina sebagai neneknya sendiri.
Dengan cepat Nadhira mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya. Seharian tidak mengecek ponsel membuat banyak sekali pemberitahuan dan pesan masuk, dari grup teman-teman ceweknya di kampus, dari grup kelasnya, dan dari Reihan yang isinya menanyakan keberadaan Nadhira sejak Kamis malam.
Reihan Soe: dhir udah pulang blm? gue otw kampus. nanti gue minta maaf ke tante sasha yaa
Reihan Soe: dhir sorry bgt, tadi Jasmine sakit terus gue ngurus dia dulu. pas sampe kampus udah kemaleman dan udah nggak ada lo. lo udah balik kan?
Reihan Soe: tadi hujan deres bgt dhir, lo naik ojek ya? pake jas hujan gak? apa naik taksi?
Reihan Soe: nadhira bales dong, udah sampe rumah blm? kok rumah gelap?
Reihan Soe: dimana dhir kok gak ada org dirumah?
Reihan Soe: dhir sakit ya? kok gak ngampus?
Membaca semua pesan yang masuk dari Reihan membuat dada Nadhira rasanya sesak. Ia ingin menceritakan semuanya ke Reihan, tentang Eyang Nina yang terkena serangan jantung, tentang ketakutannya kalau Eyang pergi, tentang penyesalannya karena belakangan sibuk dengan urusan kampus dan jarang menghubungi Eyangnya itu...
Nadhira Idris: gue di Bandung, eyang masuk ICU
"Nadhira," panggil ibunya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
