"Eh?" salah seorang teman Nadhira yang blasteran terkesiap kaget ketika Emir menghampiri mereka sambil membawa sepiring sushi.
Emir hanya tersenyum canggung, "Ganggu ya?"
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Nadhira mengangkat kepalanya yang sejak tadi ia tempelkan di meja kantin itu untuk menyembunyikan matanya yang bengkak akibat tidak berhenti menangis.
Merespon pertanyaan Emir, Nadhira mengangguk.
"Yah, padahal gue bawa sushi..." sahut Emir sambil menyodorkan sushi yang dibawanya ke arah Nadhira yang duduk di depannya—yang kontan membuat kedua temannya langsung saling pandang dengan tatapan penuh arti.
Nadhira langsung menelan ludah ketika melihat sushi di depannya.
"Ya udah kalo nggak mau," tukas Emir kemudian mencomot satu sushi dan memakannya dengan lahap, yang langsung direspon Nadhira dengan memukul pelan punggung tangan Emir.
"Siapa bilang gak mau?"
Emir tertawa renyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Makanya jangan nangis terus, nanti sushi-nya jadi sedih tuh."
Nadhira baru akan membalas perkataan Emir ketika tiba-tiba kedua temannya berdeham dengan kelewat berisik.
"Eh, kayaknya yang ada disini bukan cuma Dhira deh. Iya kan, Nao?" tanya Renata retoris pada Naomi, yang langsung disusul dengan anggukan semangat cewek blasteran itu.
"Kita jajan yuk! Masa yang dibeliin makan Dhira doang? Leggo, Ren!" ajak Naomi sambil melirik Nadhira—yang sedang mengunyah sushi-nya—dengan tatapan penuh arti.
Dengan cepat, Nadhira menahan kedua temannya itu, "Ih, pada mau kemana?"
"Mau kemana-mana deh, biar nggak jadi nyamuk," respon Renata asal kemudian bangkit dari duduknya kemudian berjalan menjauhi Nadhira dan Emir.
Kontan wajah Nadhira memerah setelah kepergian kedua temannya itu. Entah kenapa sejak kejadian Emir mendatangi rumah Nadhira waktu itu, seolah-olah Nadhira terus menghindarinya. Padahal setelah dipikir-pikir, tidak ada yang salah dengan kalimatnya waktu itu kan?
Yah, tapi yang penting sekarang adalah bagaimana agar Jasmine tidak melakukan hal-hal jahat lainnya pada Nadhira. Melihat apa yang terjadi di kelas Matematika Ekonomi tadi membuat Emir benar-benar marah—entah marah pada Jasmine yang keterlaluan itu, pada Nadhira yang mau-mau saja percaya dengan Jasmine, atau pada dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa karena ada Reihan disana.
Bukan apa-apa, hanya saja ia paling tidak suka kalau ada yang melakukan hal seperti itu, terutama yang sifatnya merugikan orang lain. Kalau orang yang diperlakukan seperti itu oleh Jasmine, walau itu bukan Nadhira sekalipun, pasti Emir akan bersikap sama. Eh, iya kan?
"Thanks ya Mir," ucap Nadhira yang sedang memakan sushi-nya itu sambil melirik sekilas ke arah Emir, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke sushi di depannya.
Emir mengangguk, "Santai aja, Dhir. Bukan apa-apa kok."
Sambil menyantap sushi terakhirnya, Nadhira menggeleng.
"Bukan karena sushi."
"Oh?" kali ini Emir terlihat bingung.
"Thank you for saving my day," lanjut Nadhira pelan, pipinya merona merah ketika mengatakan itu.
Duh... jantung Emir rasanya mau copot mendengar kalimat sederhana yang terlontar dari mulut Nadhira barusan.
Emir baru akan merespon ketika ekor matanya menangkap sosok Jasmine berjalan menuju mejanya bersama Reihan. Ia sangat kenal Jasmine. Keadaan seperti ini—di depan orang-orang banyak—akan sangat menguntungkan bagi cewek itu. Semua orang pasti akan iba kalau melihat Jasmine menangis sambil meminta maaf atas kejadian hari ini, sedangkan Nadhira secara alamiah akan meresponnya dengan tak acuh, seperti apa yang terjadi di kelas tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
