"Hah?!? Ngapain?" Nadhira terperanjat ketika mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan Emir itu.
Ia yakin setengah mati tidak salah dengar. Makan malam bersama... keluarga Emir? Astagaa!! Maksudnya, yah, kan tidak ada apa-apa di antaranya dan Emir, jadi rasanya agak aneh kalau diajak makan malam bersama keluarganya secara formal... eh, iya kan? Makan malam berdua saja tidak pernah!
Emir mengangguk lambat-lambat, "Papa baru pulang tugas. Rencananya dia bakal pensiun dini gitu, Dhir. Cuma dinner biasa kok, kebetulan Papa juga mau ketemu temennya di Jakarta."
"Kenapa harus ditemenin gitu? Emang selama ini kalo nyambut kepulangan Papa harus ada yang nemenin?" tanya Nadhira polos, membuat Emir langsung tersenyum kecut dan memutar otaknya untuk memikirkan alasan apa lagi yang harus ia keluarkan agar bisa mengenalkan Nadhira ke orang tuanya—atau yang lebih tepat, ke ayahnya.
"Eh, ya nggak juga sih..." jawab Emir pasrah, "Kan gue bilang, itu kalo lo emang ada waktu dan nggak sibuk aja."
Nadhira melahap sushi di depannya pelan sementara dalam pikirannya, ia sudah menyiapkan banyak skenario perkenalannya dengan orang tua Emir. Yah, maklum, ini adalah pertama kali ia bertemu dengan calon mertua, jadi Nadhira tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
EHH TUNGGU. Calon mertua?! Dari mana sih datangnya pikiran ngelantur itu!? batin Nadhira sambil merutuk dirinya sendiri.
Kembali ke topik utama. Hmm, bersikap sopan? Tentu saja, ia memang selalu sopan kepada orang yang lebih tua. Jenis obrolan apa yang harusnya ia bicarakan? Bagaimana kalau ibunya Emir adalah sosok ibu-ibu angkuh ala sinetron—dengan sanggul setinggi gedung pencakar langit dan eye liner-game yang on fleek?!? Ah, pengalaman Nadhira yang nol besar itu benar-benar membuatnya repot!
"Liat nanti yaa, Mir. Kalo emang bisa, nanti gue kabarin ya?" jawab Nadhira kemudian dengan nada sok tenang, alih-alih memberi kepastian.
***
Tidak terhitung sudah berapa kali Nadhira memencet bel rumah Reihan dengan tidak sabar. Tidak mungkin kan Reihan sudah tidur padahal matahari masih belum terbenam?! Saat ini Nadhira sedang sangat butuh saran cowok itu—yah, walaupun sebenarnya tidak terlalu membantu. Sejak kapan pula saran seorang Reihan Soeharsono bisa membantu? Nadhira hanya perlu ada orang yang meyakinkannya atas keputusannya; entah itu ikut makan malam atau tidak.
Sementara menunggu ada respon dari dalam rumah Reihan, Nadhira tidak henti-hentinya memijit nomor telepon sahabatnya itu pada ponselnya. Terhitung sudah lima kali sambungan teleponnya tidak ada yang mengangkat.
"Hm?"
"REIII BUKA PINTU. Gue di depan!!!" teriak Nadhira dengan bersemangat.
Selang beberapa detik, di balik pintu bercat putih itu munculah seorang cowok dengan rambut berantakan dan mata setengah terbuka.
"Rei, gue butuh saran! Ini soal hidup dan mati gue, Rei!"
Reihan yang masih belum sepenuhnya sadar itu hanya mengangguk malas.
"Ih, dasar koala. Kerjaan lo kalo nggak nempel sama kasur, ya makan!" celetuk Nadhira sambil menarik-narik tangan Reihan keluar dari dalam rumah.
"Nggak mau keluar ah Dhir, ngantuk! Ngomong disini aja kenapa sih!?" balas Reihan sewot sambil mengucek-ucek matanya.
Nadhira menggigiti bibir bawahnya sebelum mulai bicara. "Rei, gue diajak dinner gitu sama Emir."
"Ya, terus?"
"Kok lo nggak excited gitu, sih... ini kan pertama kalinya gue diajak makan malem sama cowok," ujar Nadhira, pipinya merona ketika ia mengatakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
