Akhirnya kelas Mikroekonomi yang membosankan itu selesai juga! Sejak dulu Emir tidak terlalu suka pelajaran yang didominasi teori, ia paling payah kalau urusan hafalan. Bahkan ia tadi sempat tertidur setengah jam kalau teman sebelahnya, Kevin, tidak segera membangunkannya. Selain faktor materi yang memang membosankan, dosennya juga tidak bisa berhenti bicara hingga kepalanya terasa pening.
"Cabut duluan, Vin!" pamit Emir sambil melakukan tos yang jadi khas cowok-cowok.
"Oke, hati-hati dijalan Mir!"
Langit sudah gelap ketika ia keluar dari kelas, ditambah lagi awan mendung yang seolah-olah membuat kampusnya itu terlihat horror. Teman-temannya yang lain—Arkan, Nico, dan Reihan—sudah pada pulang karena hanya mahasiswa yang masuk program Kelas Unggulan yang mendapat jadwal sampai malam.
Kelas Unggulan sendiri adalah program yang dikhususkan bagi mahasiswa-mahasiswi yang mampu mendapatkan IPK diatas 3,5 pada semester pertama dan mencapai skor TOEFL minimal 475. Anak-anak yang masuk kedalam program ini akan mengikuti kelas tambahan setelah selesai kampus sampai jam tujuh malam untuk pelajaran-pelajaran yang seharusnya baru bisa diambil semester depan.
Sebelum pulang, Emir mampir sebentar ke tempat 'nongkrong' anak-anak Ekonomi yang berada di belakang kantin. Ada beberapa senior-seniornya yang sedang asyik merokok dan mengobrol disana.
"Kelas malem Mir?" tanya salah seorang senior yang ia lupa siapa namanya itu.
Emir mengangguk sambil menyalami mereka satu per satu dan menyapa mereka dengan sebutan 'bang'.
"Lagi ada apaan nih, bang, rame-rame?" tanya Emir basa-basi. Ia tahu sekarang sedang ada pendaftaran calon anggota Badan Eksekutif Mahasiswa atau yang biasa disingkat 'BEM' untuk Fakultas Ekonomi.
Seniornya merekrut beberapa orang yang memang mudah bergaul dan sering ngobrol-ngobrol di tongkrongan. Ada desas-desus kalau Emir juga salah satu dari yang terpilih, tapi ia tidak mau ambil pusing. Kalau memang ia direkrut, ia akan masuk keanggotaan. Sebaliknya, kalau memang tidak, Emir tidak berminat untuk mendaftar jadi anggota.
Salah satu seniornya yang berada di semester akhir—yang kalau tidak salah namanya Genta—langsung menepuk-nepuk bahu Emir pelan, "Pengen ikut organisasi apa lo rencananya?"
Emir hanya tertawa, "Waduh gue jadi tremor nih bang, ditanyain kayak gini-gini."
"Sini, diobrolin aja sama kita-kita," respon Genta santai sambil mencoba menyalakan rokok yang entah ke berapa itu dengan korek.
Obrolan mengenai organisasi, visi, misi, sampai menyerempet ke politik Indonesia itu benar-benar membuat Emir tertarik. Ia memang tadinya ingin mengambil jurusan Hukum, tapi ia tidak kuat kalau harus menghafal. Sejak kecil Emir memiliki cita-cita ingin menjadi menteri, atau apapun yang penting bisa menduduki bangku pemerintahan sama seperti ayahnya.
KaFE sudah sepi ketika Emir berjalan melalui koridornya. Booth tempatnya biasa membeli jus juga sudah tutup sejak sore. Tidak banyak mahasiswa yang masih berada di kampus sampai larut—apalagi sekarang sudah jam delapan malam—kecuali anak-anak organisasi.
Emir sudah berjalan jauh melewati kantin ketika ekor matanya menangkap sosok yang sedang duduk di salah satu bangku kantin paling ujung dengan kedua telapak tangan menahan rahang kanan dan kiri. Seketika bulu kuduknya langsung meremang, namun ia memberanikan diri untuk menoleh.
Seorang gadis berambut sebahu yang kecoklatan itu sedang duduk—atau tertidur?—dengan mata terpejam di sana, dengan tas punggung Jansport berwarna merah marun diletakkan persis di depannya.
Eh? Nadhira?
Emir mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan diri. Gadis itu benar-benar Nadhira Idris, sahabat kecil Reihan Soeharsono. Sedang apa dia duduk disitu sendirian?
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
