05. Tunggu

8.4K 1K 29
                                        

SMA Pelita Jaya, 2013

"Hah?! Nungguin lo futsal? Lagi?" tanya Nadhira dengan ekspresi tidak percaya, sementara mereka berdua berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai sepi.

Hari itu Nadhira habis kerja kelompok di perpustakaan, sementara Reihan sudah tidak ada pelajaran lagi, jadi ia hanya menunggu Nadhira dengan bosan di kantin. Perutnya lapar sekali seharian tidak makan, namun Reihan mengurungkan niat untuk jajan yang berlebihan karena sedang menabung untuk membeli sepatu Nike running yang sedang sangat ia incar.

Sebenarnya Reihan bisa saja langsung minta dibelikan sepatu itu, tapi sejak orangtuanya bercerai ia jadi harus berpikir dua kali untuk meminta pada ibunya—walaupun sebenarnya ia bisa saja langsung meminta pada ayahnya yang seorang sutradara terkemuka di Indonesia, tapi ia tetap tidak mau. Ia tidak ingin ayahnya memandang rendah ibunya.

"Sebentar doang kok, Dhir. Ada sparing sama sekolah sebelah nih. Mau yaa?" tanya Reihan merajuk, "Kan gue juga udah nungguin lo dari tadi."

Nadhira langsung mengerucutkan bibir, "Ih pamrih!"

"Cuma sejam doang kok, gimana?" tanya Reihan lagi, mengacuhkan respon Nadhira.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Nadhira menggeleng, "Gue balik sendiri aja deh naik ojek... lagian kan lo tau gue lagi nggak enak badan, Rei."

Reihan mendesah pelan, "Ya karena lo lagi nggak enak badan makanya pulang sama gue aja. Ini juga masih gerimis!"

"Nggak mau Rei, gue mau pulang sekarang pokoknya. Udah sore, takut nyokap marah."

"Kan lo pulangnya sama gue, ya nggak bakal dimarahin lah," timpal Reihan mulai sewot.

Orangtua Nadhira memang memberlakukan aturan-aturan yang sangat ketat kalau berurusan dengan waktu, seperti tidak boleh pulang dari sekolah di atas jam enam (kecuali kalau ada acara tertentu) dan kalau akhir pekan, diberi kelonggaran waktu sampai jam delapan. Maklum, Nadhira adalah anak tunggal dan perempuan pula.

Sambil menatap Reihan dengan sebal, Nadhira menyerahkan ponselnya, memberi kode untuk Reihan menelpon dan meminta izin pada ibu Nadhira.

Entah kenapa ibunya itu selalu memberi toleransi kalau Nadhira izin dengan Reihan, walaupun itu melanggar aturan yang telah dibuat. Yah, mungkin karena memang mereka sudah bersahabat sejak kecil jadi ibu Nadhira sudah merasa percaya dengan Reihan? Entahlah, Nadhira tidak pernah tahu alasannya.

***

Tempat futsal yang menjadi langganan cowok-cowok SMA Pelita Jaya bermain terletak tepat di belakang sekolah. Kalau bisa menunjukkan kartu identitas pelajar, maka akan mendapat diskon pelajar.

Nadhira sedang duduk di bench dan mendengarkan lagu dengan earphone ketika bola futsal mengenai lengan kanannya.

Ah, hampir saja!

Walaupun begitu, tetap saja lengannya memerah. Ia jadi ingat waktu itu kepalanya terkena bola basket di sekolah dan harus menahan malu karena kepalanya benjol keesokan harinya.

Salah seorang lawan sparing Reihan dari sekolah lain berlari ke arahnya untuk mengambil bola dan meminta maaf. Cowok itu memiliki wajah yang lucu walaupun ia memliki postur badan yang cukup tinggi dan tegap, suaranya juga terdengar ramah.

"Eh, aduh, sorry banget ya! Gak kenapa-kenapa kan?" tanya cowok itu dengan ekspresi menyesal yang tidak dibuat-buat.

Nadhira tersenyum sambil mengangguk, walaupun sejak tadi ia meringis kesakitan.

Friends, Lovers, or Nothing?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang