Akhirnya Reihan sampai juga di rumah sakit yang terletak di kawasan Pasteur itu setelah selama dua jam memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, mengabaikan telepon masuk dan pesan yang dikirim oleh Jasmine sejak pagi tadi.
"Permisi, ruang ICU dimana ya, Sus?" tanya Reihan kepada salah satu perawat yang sedang melewati koridor.
Dengan tanggap, perawat itu langsung menunjukkan arah ruang ICU yang tidak jauh dari koridor utama rumah sakit.
Setelah mengucapkan terimakasih, Reihan langsung setengah berlari ke arah ruangan yang dituju, dengan harapan sekarang Eyang Nina sudah sadar. Terus terang selama ini satu-satunya figur nenek yang pernah ia miliki adalah Eyang Nina, neneknya Nadhira. Ia bahkan ikut merasa sedih ketika Eyang Nina pindah ke Bandung.
Tulisan 'ICU' sudah terpampang beberapa meter di depannya ketika ia melihat Nadhira disana sedang menangis.
Reihan baru akan mempercepat langkahnya ketika ia melihat ada orang lain di sebelah Nadhira. Orang yang ia kenal baik itu menyandarkan kepala Nadhira di bahunya. Kontan langkah Reihan langsung terhenti.
Emir? Kok dia bisa ada disini? Bukannya Emir bilang dia nggak tau Nadhira dimana? pikiran-pikiran itu langsung berkecamuk di kepala Reihan. Entah kenapa ia merasa sangat marah sekarang. Ya, sangat marah.
Kenapa Nadhira lebih memilih memberitahu Emir duluan ketimbang dirinya? Maksudnya, ini Eyang Nina! Nadhira tahu lebih dari siapapun kalau Reihan sudah menganggap Eyang Nina seperti neneknya sendiri. Kenapa Nadhira tidak memberitahunya sejak awal kalau Eyang Nina masuk ICU? Kenapa setelah berhari-hari Nadhira baru bilang padanya? Dan kenapa bisa Emir yang lebih dulu ada disini? Kenapa bukan dia?
"Dhir," panggil Reihan pelan setelah sebelumnya menyalami kedua orangtua Nadhira serta tantenya, Tante Sania.
Nadhira tidak bergeming dan tetap menyembunyikan wajahnya di balik bahu Emir.
Kemudian Reihan mengalihkan pandangannya ke Emir dan berusaha terdengar sebiasa mungkin, "Eh, Mir. Baru dateng?"
"Udah daritadi, Rei. Duduk sini."
"Kenapa?" tanya Reihan pelan. Hanya Nadhira yang menangis di ruang tunggu, walaupun wajah ibu dan tantenya juga terlihat sayu.
Ia ingin sekali menghibur Nadhira, seperti yang Nadhira lakukan dulu. Berhari-hari Nadhira menemaninya di rumah sakit dan tidak pernah absen, sambil membawakannya makanan dan baju ganti. Lalu ketika keadaan semakin buruk, Nadhira akan ikut menangis sambil memeluknya. Itu lebih dari cukup dan kini ia ingin membalas itu semua.
"Eyang kritis," jawab Emir singkat kemudian berusaha menenangkan Nadhira dengan menepuk-nepuk punggung cewek itu dengan lembut.
Reihan terperangah menatap pemandangan di depannya, kontan rahangnya mengeras. Mata coklatnya menatap Nadhira lekat-lekat.
Kenapa, Dhir? Kenapa harus Emir?
***
Rumah Sakit Kanker Dharmais, 2014
"Rei, bacain doa terus untuk Mama," bisik Nadhira sambil memeluknya erat.
Reihan hanya bisa diam sejak dokter menyatakan ibunya kritis. Air matanya entah sudah berapa lama mengalir dan membasahi kemeja sekolah Nadhira.
"Gue nggak punya siapa-siapa Dhir, selain Mama.."
"Tante Indah pasti sembuh. Pasti," kata Nadhira dengan yakin, tatapan matanya seolah-olah membuat Reihan tersihir dan mempercayai kalimatnya.
Ia percaya ibunya bisa sembuh.
"Lo masih punya kak Adrian, lo masih punya bokap. Liat, sekarang mereka semua ngumpul disini. Lagipula lo masih punya gue, lo nggak sendirian Rei."
Nadhira terus menerus membisikannya kalimat itu dan memintanya untuk terus berdoa, lama-kelamaan Reihan merasa kata-kata sahabatnya itu adalah mantra. Ia dengan sukarela mengikuti semua yang dikatakan Nadhira.
"Dhira, tolong bujuk Rei makan ya. Dari kemarin malam dia nggak mau makan," suara kak Adrian, saudara kandung satu-satunya yang ia miliki itu terdengar sayup-sayup.
Tidak lama kemudian Reihan mencium bau makanan menyeruak ke seluruh ruang tunggu.
"Rei, makan ya? Nyokap gue masakin kesukaan lo nih, nasi goreng udang. Tapi udah dingin, soalnya dari pagi. Gapapa ya?"
Reihan diam saja, pandangannya fokus kepada pintu depan ruang ICU.
"Rei, kalo sakit... yang jagain Tante Indah siapa? Sini makan sedikit, biar nggak sakit," bujuk Nadhira sambil memegang tangan Reihan erat.
"Kenapa Mama sih, Dhir?" tanya Reihan kemudian, matanya terlihat sayu dan lelah.
"Karena Tante Indah wanita hebat. Dia bisa membesarkan lo sendiri, bisa jadi figur bapak juga buat lo."
"Kenapa orang-orang hebat dikasih cobaan sama Tuhan, ya?"
Nadhira menjawab sambil menatap kedua mata Reihan lurus-lurus, "Bersama cobaan juga datang hikmah, Rei. Kita harus percaya itu. Tuhan itu adil, Dia tau kapasitas hamba-Nya. Dia nggak mungkin kasih cobaan yang Dia tahu hamba-Nya nggak bisa lewati."
Hening tidak ada respon apa-apa sampai akhirnya Reihan membuka suara.
"Mama... lagi dimana ya, Dhir?"
"Disitu Rei, lagi istirahat sebentar."
"Kok Mama nggak bangun?"
"Katanya, kalo Rei bandel dan nggak mau makan, Tante Indah nggak mau ketemu."
Reihan menatap Nadhira sambil tersenyum, walaupun air matanya masih mengalir deras. Nadhira tidak henti-hentinya menyeka air mata sahabatnya itu dengan sapu tangan Hello Kitty yang selalu dibawanya kemana-mana, sapu tangan kesayangannya yang tidak pernah boleh dipinjam oleh siapapun termasuk Reihan sendiri.
"Gue belum minta maaf ke Mama, Dhir."
"Nanti juga bisa pas Tante Indah sembuh. Makanya jangan bandel! Sini makan, jadi anak baik sekali-sekali," respon Nadhira sambil memaksakan sebuah senyum.
"Dhir..."
"Ya Rei?"
"Mama tau nggak ya kalau dia satu-satunya hal yang paling penting yang pernah gue punya?"
Tidak ada jawaban dari Nadhira, hanya ada isakan tangis. Nadhira memeluknya erat seolah-olah ingin mentransfer seluruh energi yang ia miliki pada Reihan.
"Bukan pernah Rei, tapi masih. Lo masih punya Mama. Tante Indah masih disini."
"Kalau dia udah nggak disini?" tanya Reihan lagi, satu-satunya yang ia pikirkan adalah ibunya. Ia tidak peduli kalau sejak tadi ia meracau kemana-mana. Ia tidak peduli tidak makan. Ia hanya ingin ibunya sembuh.
"Jangan ngomong gitu lagi, Rei," bisik Nadhira lirih.
"Kenapa?"
"If you lose yourself, I'd lose mine too."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Novela JuvenilFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
