22. Teka-teki

8.7K 963 80
                                        

Mei, 2016

Pekan UTS sudah berakhir, dan selama dua minggu yang terasa panjang itu Reihan sudah mencoba untuk menyembunyikan segalanya—perasaannya yang campur aduk, emosinya yang seakan selalu tersulut, serta teka-teki yang kini sudah terpecahkan. Sampai berapa lama lagi ia harus bertahan dengan kondisi seperti ini? Menanggung semuanya sendiri, seolah-olah menjadi orang di belakang layar yang tahu segalanya.

"Rei, denger nggak sih gue ngomong apa?"

Pertanyaan itu menyadarkan Reihan dari lamunannya. Nadhira kini sedang sibuk di depan laptopnya entah mengerjakan apa, Reihan tidak begitu mendengar omongan sahabatnya itu sejak tadi. Pikirannya terus melayang-layang ke sebuah nama: Jasmine Alatas.

"Sorry, kenapa Dhir?"

"Business plan gue..." jawab Nadhira lirih. 

Layar laptop Nadhira menyembunyikan ekspresi wajah cewek itu, membuat Reihan kesulitan menebak apa yang terjadi dengan business plan-nya. Entah kenapa sedikit bagian dari Reihan berharap kalau business plan itu gagal. Tidak, bukannya ia tidak mendukung Nadhira atau apa, hanya saja... ke New York? Berdua dengan Emir? Membayangkannya saja membuat Reihan ngeri!

"Pasti gagal kan? Doa gue tuh emang selalu manjur, Dhir," timpal Reihan mencoba terdengar sesantai mungkin, sementara Nadhira langsung menatapnya sinis.

"Belum gagal yee, masih ada harapan berhubung business plan gue statusnya cadangan. Panitia lagi menyeleksi tiga yang udah terpilih, idenya emang keren-keren banget sih!" respon Nadhira sambil berdecak kagum.

Reihan hanya manggut-manggut sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada ujung meja kantin, tidak sabar menunggu soto betawi pesanannya datang. Obrolan mengenai business plan itu seolah menguap begitu saja—yah, kini yang terpenting bagi Reihan adalah mencari solusi atas apa yang sedang terjadi. Sebuah solusi yang dapat menyelamatkan semua orang dan tidak ada yang terluka. 

Tapi kalau dipikir-pikir... mustahil bukan? Sebuah happy ending hanya terjadi di film-dilm Disney atau drama Korea kesukaan Nadhira. Hidup bukanlah film yang berdurasi dua jam, atau drama Korea yang berdurasi paling banyak 32 episode. Hidup adalah realita, dimana tidak semua permasalahan dapat terselesaikan dengan sebuah solusi yang brilian.

"You okay?" 

Pertanyaan itu membuat Reihan tersadar, mendapati Nadhira yang duduk di depannya kini menatapnya dengan khawatir. 

"Kenapa harus enggak?"

"Ada apa, Rei? Apa ini urusan IPK lo? Maksud gue, lo nggak bisa ngerjain UTS dan terancam ada yang ngulang di semester pendek?" tanya Nadhira, mencoba menerka-nerka.

Reihan menggeleng, "Nggak ada yang peduli walaupun IPK gue rendah dan harus ikut remedial, Dhir."

"Hush, ngomongnya kok gitu!" timpal Nadhira sambil menatap Reihan galak, "Hmm, lagi berantem sama Kak Adrian? Atau sama bokap lo?"

Lagi-lagi Reihan menggeleng, hening beberapa saat sebelum akhirnya cowok itu membuka suara.

"How do you know it's love, Dhir?" 

Nadhira diam mematung selama beberapa saat, ia hanya bisa menatap Reihan dengan terperangah. Pertanyaan yang sederhana, yang seharusnya bisa dijawab dengan mudahnya oleh Nadhira, tapi kemudian pertanyaan itu malah seolah-olah menjadi bumerang baginya. Rasa sayangkah yang ia miliki untuk Emir? Rasa berterima kasih kah? Rasa nyamankah karena Emir  hadir ketika ia butuh teman? Atau apa?

"You don't know, you just feel it," jawab Nadhira pelan.

***

Dosen Statistika yang selalu menggunakan pakaian yang fashionable dengan brand sekelas Zara, Mango, atau Topshop dan rok selutut itu memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, terdengar suara benturan yang keras antara ujung high heels yang dipakainya dengan lantai kelas yang terbuat dari marmer. 

Friends, Lovers, or Nothing?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang