"Dhir?" panggil Reihan pelan ketika sedang di perjalanan pulang.
Nadhira terpaksa harus pulang ke Jakarta lebih dulu keesokan harinya dan tidak bisa menunggu Eyang Nina karena pada awal minggu—yang berarti hanya dalam hitungan kurang dari 24 jam lagi itu—akan ada dua kuis yang akan cukup berpengaruh bagi nilainya semester ini. Sementara kedua orangtuanya akan pulang nanti malam.
"Hm?"
"Nggak jadi."
"Apa sih?" tanya Nadhira sewot. Pikirannya masih melayang ke Bandung, yang kini sudah tertinggal berkilo-kilo meter di belakangnya.
Kemarin akhirnya Eyang Nina berhasil melewati masa-masa kritis dan sudah dipindahkan dari ruang ICU menjadi ruang inap biasa. Untunglah, karena kalau tidak, mungkin Nadhira akan merelakan kedua kuisnya hari Senin besok. Kehadiran Reihan merupakan suatu keberuntungan juga baginya—karena cowok itu memaksa untuk ikut menunggu Eyang Nina dan bahkan memilih untuk menginap di rumah Tante Sania daripada pulang ke Jakarta.
"Tuh kan, malah marah-marah!"
Nadhira memutar bola matanya ke atas kemudian mengeratkan jaket yang dipakainya. Siang itu langit mendung dan hujan mulai turun rintik-rintik, membuat Reihan memperlambat laju mobilnya.
"Ya, ngomong tinggal ngomong. Kayak sama siapa aja," timpal Nadhira datar, ada ekspresi takut di wajahnya yang selalu muncul ketika hujan mulai datang.
Reihan melirik sahabatnya itu sekilas, "Lo masih bete sama gue ya, Dhir?"
"Bete kenapa?"
"Gara-gara gue waktu itu nggak jemput lo? Eh, teknisnya sih jemput, tapi lo udah keburu pulang," jawab Reihan sambil cekikikan sendiri, membuat Nadhira makin sebal melihatnya.
"Nggak lucu."
"Ih, kok gitu?"
"Ya, kalo nggak ada Emir dan posisinya gue ketiduran di kantin, menurut lo gimana? Seenggaknya kabarin lah, bales chat gue kek, angkat telepon, apa kek, pokoknya kabarin kalo lo emang nggak bisa."
Reihan langsung menyernyitkan dahinya heran, "Lo aja nggak chat atau nelpon gue sama sekali, gue jadi lupa kan!"
"Nggak chat?!" Nadhira mengulangi kalimat Reihan, "Gue ngechat dan nelponin lo sampe gak keitung deh tuh... HP lo aja nggak aktif."
"Hah?" kali ini Reihan yang terlihat bingung.
"Emang Jasmine nggak bilang apa-apa gitu?"
"Bilang apa?"
"Ya, waktu itu gue juga ngabarin dia nanyain lo dimana, tapi cuma di read doang."
Reihan menatap Nadhira tidak percaya. Mana mungkin Jasmine tidak memberitahunya kalau memang apa yang dikatakan Nadhira itu benar? Jasmine kan juga teman dekatnya Nadhira, mana mungkin dia tega? Lagipula Jasmine bukan orang yang seperti itu.
"Nggak mungkin, kalo emang iya dia pasti bakal bilang."
Nadhira mencibir pelan, "Duh lo tuh kenapa sih, Rei? Jadi buta gara-gara cinta."
"Lo tuh yang sibuk sama Emir, sampe eyang sakit aja gue dikabarinnya belakangan," balas Reihan sambil mempercepat laju kemudi dengan ekstrem.
Mendengarnya, Nadhira langsung tertawa terbahak-bahak.
"Your argument is invalid!" teriak Nadhira, kemudian melanjutkan, "Gue nggak sengaja ketemu Emir, kebetulan dia juga lagi di Bandung. Terus yaudah dia nganterin gue ke rumah sakit."
"Kebetulan yang dialami lo berdua tuh terlalu janggal. Kebetulan Emir lewat kantin malem-malem terus ngajak lo pulang bareng, ini sampe di Bandung aja kebetulan ketemu. Kan aneh."
Kalau dipikir-pikir, perkataan Reihan ada benarnya. Kebetulan yang dialami olehnya dan Emir itu terlalu janggal. Seolah-olah langit memang sudah berkonspirasi agar jalan mereka bersinggungan.
"Mungkin nggak sih Rei, itu takdir?" tanya Nadhira pelan.
Reihan diam saja, membiarkan keheningan menjawab pertanyaan Nadhira. Terus terang ia juga tidak tahu apa itu bisa disebut dengan takdir, dan kalau ia bisa berharap, entah kenapa ia ingin jawabannya bukan—itu bukan takdir.
***
Ketika malam tiba, Reihan tidak bisa tidur. Pikirannya melayang-layang ke Jasmine yang sekarang sedang mogok bicara dengannya karena sejak kemarin ia tidak memberi kabar, lalu ke Nadhira dan kesehatan Eyang Nina, dan ke Emir.
Reihan Soe: mir, thanks banget ya udah ngejagain dhira
Emir Laksamana: santai aja, rei
Reihan Soe: sori nih jadi ngerepotin
Emir Laksamana: ngerepotin maksudnya?
Reihan Soe: lo jadi mesti ngejagain dhira gara2 dia sahabat gue dari kecil. thanks bgt mir!
Sambil menunggu balasan dari Emir, Reihan mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja lampu. Ada sedikit harapan kalau Emir bersikap baik dengan Nadhira hanya karena semata-mata Nadhira adalah sahabat Reihan sejak kecil. Sejauh yang Reihan tahu, Emir adalah tipe orang yang tidak mudah dekat dengan cewek manapun—tidak sebagai teman sekalipun. Ia memang dingin dan cuek kalau urusan cewek.
Emir Laksamana: bukan karena dia temen lo kok, rei
Balasaan dari Emir langsung membuat Reihan membeku. Nah, sekarang apa maksud Emir dengan mengatakan begitu? Jadi dia baik pada Nadhira bukan karena cewek itu adalah sahabat Reihan? Kalau begitu jadi...
Tidak. Tidak mungkin.
***
"Jadi menurut kamu, Emir emang suka sama Nadhira ya?" tanya Reihan ketika jam dinding kamarnya menunjukkan pukul satu malam.
Akhirnya ia berhasil membujuk Jasmine untuk berbaikan dengannya, dengan cara mengirimkan martabak kesukaan Jasmine ke rumahnya dengan bantuan jasa pengiriman online yang sedang marak belakangan ini.
Jasmine Alatas, lawan bicaranya lewat telepon, menjawab dengan semangat.
"Iya, Rei. Pasti Emir suka! Kalo nggak, gak bakalan Emir kayak gitu."
Reihan merasa aneh ketika mendengar jawaban Jasmine, seolah-olah pacarnya itu sangat mengerti Emir. Bukannya Jasmine tidak kenal Emir sama sekali?
"Yaudah lah, jangan ngurusin mereka. Biarin aja kalo emang Nadhira juga suka sama Emir."
Ah, tidak. Rasanya ada yang tidak benar. Nadhira suka dengan Emir?
"Kayaknya mereka gak cocok," timpal Reihan sambil menarik selimutnya lagi, masih ingin meyakinkan diri.
"Kok kamu mikir gitu?"
Reihan terkekeh pelan sebelum akhirnya mengatakan, "Nadhira suka cowok kayak Adam Sandler atau Jim Carrey gitu, Jas. Yang humoris gitu deh. Emir terlalu dingin dan nggak hangat, kalo menurut aku."
Hening lama sekali sebelum akhirnya Jasmine membuka suara, "Setinggi apapun selera atau kriteria kita tentang calon pasangan, akan kalah ketika kita jatuh cinta tanpa alasan. Kamu nggak akan bisa tau perasaan orang, Rei, bahkan perasaan kamu sendiri aja kamu belum tentu tau pasti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
