"Dhir, nggak capek?" tanya Emir sambil menyeka peluh pada tengkuknya.
Nadhira menggeleng sambil tersenyum puas menatap kertas-kertas di tangannya yang berisikan kuisioner dari beberapa koresponden yang mereka temui hari ini di kawasan Jakarta Pusat; mulai dari Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Bundaran HI, Monumen Nasional, dan berakhir di Taman Suropati, tempat mereka sekarang mengobrol.
Sementara Emir yang duduk di bangku taman sebelah Nadhira itu pun ikut tersenyum puas. Jadwal mereka hari ini bukan hanya untuk membagikan kuisioner mengenai tugas business plan mereka, melainkan sekalian menemaninya hunting dengan kamera Leica barunya.
Kini matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, membuat langit biru itu perlahan tergantikan dengan semburat oranye yang bergradasi dengan menawan—mulai dari mahoni, kemudian satu lapis di bawahnya ada magenta, diikuti dengan oranye, ivory, sampai kuning gading.
"Nanti jangan bilang bokap gue ya, kalo gue keluyuran kemana-mana!" Nadhira memperingati dengan wajah sok serius, "Dia tuh agak over protective gitu, ya lo tau sendiri lah. Kalo dia tau gue jalan kaki dari parkiran Monas ke Bundaran HI, bisa-bisa yang ada gue nggak bakal dikasih izin buat pergi lagi sama lo."
Emir tersenyum menggoda sambil manggut-manggut, "Oh gituu... jadi ceritanya ada yang ketagihan jalan-jalan bareng gue ya?"
Kalimat itu mengundang gelak tawa Nadhira, yang kemudian meninju lengan Emir pelan.
"Aduh!" ringis Emir dramatis, "Elo tuh ya, kalo ketawa pasti sambil mukul-mukul. Bisa diem aja nggak sih, itu tangan?"
Nadhira memasang ekspresi jahil sambil menjulurkan lidahnya, "Biarin! Gue kan mau jadi petinju, tau! Ngalahin Pacquiao sama Mike Tyson."
Kontan Emir tertawa terbahak-bahak, lalu ketika cewek itu akan melancarkan serangan tinjunya lagi, secara refleks Emir langsung menahannya dengan menggenggam tangan Nadhira erat. Entah dari mana keberanian itu berasal, namun selama beberapa detik yang menyenangkan itu Emir merasa nyaman mengadu jari jemarinya dengan milik Nadhira.
Eh... menyenangkan? batin Emir.
Sejak kapan tepatnya ia merasa senang ketika berada di dekat Nadhira? Entahlah. Ia jarang sekali merasakan hal-hal seperti itu, seolah-olah indra perasanya kebas dan hatinya sudah tidak lagi ada disana.
"Dhir," panggil Emir beberapa saat kemudian tanpa melepaskan genggaman tangannya, sementara Nadhira hanya mematung sejak tadi—tidak menggenggam tangannya balik, tapi tidak pula melepaskannya.
"Hm?"
Banyak hal yang berkecamuk di pikiran Emir; tentang benang kusut yang seolah melilit mereka, tentang Jasmine, tentang masa lalunya dengan orang yang sekarang menjadi pacar sahabat Nadhira itu, tentang trauma yang dimilikinya, dan tentang... perasaannya.
Tunggu. Perasaannya? Memang apa yang ia rasakan pada Nadhira? Tidak ada. Ia hanya kasihan melihat Nadhira pada awalnya, lalu ia mulai agak sedikit resah akibat Jasmine yang seolah-olah 'mengincar' Nadhira sebagai akibat dari persahabatannya dengan pacar Jasmine sekarang, dan keresahannya itu menjadi kekhawatiran sejak Jasmine terang-terangan mengibarkan bendera peperangan antara ia dan Nadhira. Itu saja kan?
"Makasih ya?"
Walaupun tidak melirik lawan bicaranya secara terang-terangan, tapi ekor mata Emir dapat menangkap gurat keheranan yang timbul di wajah Nadhira.
Emir memang tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, membiarkan keheningan yang—anehnya—tidak terasa menjemukan itu seolah-olah menjadi saksi atas apa yang terjadi di bawah langit kala itu, bahwa hati yang sekeras batu sekalipun dapat luluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
