SMA Pelita Jaya, 2012
"Dhir, hari ini film The Avengers tayang!" teriak Reihan sambil berlari-lari dari koridor di depan kelas menuju bangku tempat Nadhira duduk.
Nadhira hanya menoleh sedikit, kemudian menggelengkan kepalanya dan kembali menenggelamkan diri ke laptop yang sedang digunakannya untuk mengerjakan tugas presentasi pertamanya di SMA.
"Kok lo nggak excited gitu sih? Ini The Avengers, Dhir!"
"Gue udah tau beritanya dari minggu lalu, tau! Lagipula bukannya kalo premier itu cuma untuk orang-orang tertentu aja ya? Kalo kita beli tiket sekarang pasti udah keburu habis, Rei," jawab Nadhira tanpa menoleh sedikitpun, sedang asyik mengetik materi presentasi Biologinya.
Reihan kemudian tersenyum penuh arti ke arah Nadhira, yang direspon cewek itu datar.
"Apa?"
"Gue dikasih bokap tiket premier The Avengers!"
Mendengar itu, refleks Nadhira langsung teriak kegirangan sambil merangkul Reihan, "DEMI APA REI!?!?!"
Tidak sulit bagi Reihan untuk mendapatkan perlakuan 'istimewa' seperti itu, mengingat ayahnya adalah sutradara yang sudah memiliki nama besar di dunia perfilman Indonesia dan sudah menghasilkan banyak karya-karya yang terkenal dan menjadi box office.
Reihan mengangguk antusias kemudian mengacak-acak rambut Nadhira sambil tertawa seperti anak kecil. Mereka adalah penggemar berat komik-komik Marvel dan DC ataupun film-film superhero. Reihan dan Nadhira bahkan punya tabungan bersama untuk membeli komik-komik baru ataupun kaset-kaset animasi superhero. Mereka sudah mengumpulkan banyak sekali judul komik, mulai dari yang terkenal dan sangat iconic seperti Spiderman dan Batman, sampai yang tidak terlalu populer di Indonesia seperti Moonknight dan Aquaman.
Maka dari itu, kali ini Reihan memanfaatkan jabatan ayahnya untuk minta tiket premier film The Avengers, ia tahu Nadhira akan sangat senang!
"Kita cabut kelas yuk, Dhir?!" ajak Reihan sambil tersenyum lebar kemudian mengeluarkan tiket itu dari kantung celana abu-abunya dan mengibas-ngibaskannya di udara.
"Ayo, Dhir! Nggak usah kelamaan mikir. You only live once! Lagipula selama ini absen lo kan masih kosong, masa selama SMA nggak pernah cabut sih? Nikmatin masa-masa remaja lo lah," bujuk Reihan lagi, seperti seorang iblis yang sedang membujuk manusia untuk berbuat dosa.
Kalau urusan cabut dari sekolah, Reihan ahlinya.
Nadhira terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya mengiyakan, walaupun ia tahu resikonya jika ketahuan oleh kedua orangtuanya, ia pasti akan kena omel habis-habisan.
"Yuk!!!"
***
Vespa Piaggio berwarna putih milik Reihan diparkirkan tidak jauh dari pintu masuk, sementara helmnya dititipkan ke petugas keamanan.
Nadhira dan Reihan kebagian menonton premier The Avengers di Plaza Senayan yang jaraknya cukup jauh dari sekolah mereka yang berada di bilangan Pondok Indah. Untung saja Reihan selalu sedia membawa dua helm untuk Nadhira, walaupun cewek itu selalu menolak kalau disuruh pakai helm. Alasannya? Ia takut rambutnya lepek. Yah, biar bagaimanapun Nadhira tetap seorang perempuan!
"Duh, kita boleh masuk gak ya? Kita kan masih pake seragam!" bisik Nadhira ketika mereka memasuki gedung bioskop yang dipadati penonton.
Reihan meletakkan jari telunjuknya di bibir, sementara matanya mengamati seisi gedung bioskop.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends, Lovers, or Nothing?
Teen FictionFriends, lovers, or nothing? We can really only ever be one. Don't you know, we'll never be the inbetween ♪
