"Daripada kau bertanya tentang hal-hal konyol, bagaimana kalau bermain bentuk awan. Ini tidak akan sepayah permainan lingkarang kejujuran itu," kataku.
"Baiklah," jawabnya.
Kami menyipitkan mata mencari-cari bentuk awan yang memang benar mirip dengan sesuatu selain awan itu sendiri.
Sebenarnya tidak terlalu ada awan apapun yang berbentuk familier di mataku atau James, tetapi setidaknya kami masih belum menyerah untuk mencarinya.
Awan-awan itu hanya mengambang dan bergerak lambat, dan entah kenapa itu membuatku jengkel. Beberapa awan mulai saling memisahkan diri dan bergabung dengan awan yang lain, dan beberapa juga mulai lenyap terbawa angin.
"Aku dapat satu." James menunjuk ke atas. "Yang itu mirip kelinci."
Aku berusaha melihat secara jelas ke arah James menunjukkan jarinya. "Tidak sama sekali. Itu mirip seperti kura-kura," kataku.
"Kau baru saja menyebutkan dua spesies hewan yang berkebalikan dalam masalah kecepatan, bisa jadi awan itu mirip keduanya," balasnya.
"Tidak mungkin. Yang kulihat hanya kura-kura."
"Kelinci."
"Terserahlah." Aku kembali melihati awan-awan. "Kurasa yang itu seperti kupu-kupu."
"Tidak ada yang seperti kupu-kupu."
"Tapi yang itu serupa."
"Baiklah. Kurasa kau benar. Dan coba lihat yang satu itu. Bentuknya seperti kacamata."
"Tidak. Itu lebih seperti capung."
"Kukira kau benar."
"Tidak. Kau benar. Itu mulai mirip dengan kacamata."
"Senang berargumen denganmu."
"Terimakasih tuan basa basi." Lalu kami tertawa.
Sisanya kami hanya memandangi awan bergerak dan diam dalam keheningan.
**********
Aku memikirkan kembali tentang apa yang kukatakan tentang kehidupan air. Kalau diingat-ingat kembali, itu terdengar membosankan hidup sebagai air. Tapi kali ini bagaimana dengan awan? Mereka agak terlihat seperti air dan secara teknis memang air yang menguap.
Mereka terlihat pasrah dan hanya mengikuti angin. Tapi apa bedanya dengan air? Mereka kehidupan air yang selanjutnya--sudah pasti. Entah mengapa saat aku menceritakan kehidupan air kepada James tanpa memikirkan siklus air--atau mungkin karena aku terlalu enggan berpikir tentang sains.
"Kau lapar?" Tanya James.
"Lumayan," jawabku. "Apa kau punya daun mint?"
"Aku melemparkannya ke danau."
"Kenapa?" Aku terduduk.
"Lupakan. Beberapa meter dari sini ada sebuah supermarket dan pemukiman atau bisa dikatakan kota kecil. Aku bisa membeli permen mint dan obat kumur mint."
"Kalau kau kesana aku akan ikut."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Ride to Home (On Going)
RomanceRachel tidak menyangka tersesat di hutan membuatnya bertemu dengan seorang cowok tampan, dan menyeretnya ke dalam perjalanan panjang menuju Virginia Beach. Sebelumnya, hidup Rachel adalah sebuah bencana. Kini hidupnya adalah anugerah. Dia menemukan...
