Alvero's POV
"Jadi.... lo menerima pertunangan itu?"
Aku hanya bisa terdiam di seberang telepon mendapat pertanyaan itu.
Benarkah aku sudah menerima pertunangan itu? Ataukah aku hanya bersembunyi di balik punggung Cindy? Entahlah.
Jelas sekali sarat kekecewaan dan keterkejutan dari mata Rere siang tadi ketika Cindy memperkenalkan diri sebagai calon tunanganku.
Tapi bisaku apa? Mengatakan bukan dan mempermalukan Cindy? Atau merebut Rere dari samping Ruben ketika Ruben memperkenalkan Rere sebagai pacarnya dan mengklaim Rere sebagai milikku yang hanya sahabatnya?
"Ver..."
Aku memang hanya lelaki bodoh, pengecut, dan tidak mempunyai pendirian.
Apa mauku, akupun tidak mengerti.
"WOY ANAK CURUT! LO YANG TELEPON LO YANG DIEM. GUE MATIIN NIH TELEPON!!"
Aku terlonjak begitu mendengarkan teriakan dari sambungan telepon.
"Iya, iya santai!" Sewotku sambil beringsut kembali ke kasur.
"Lo gak ketiduran kan? Atau lagi ngelamunin Rere?" Tanyanya lagi.
Aku tidak menjawab lagi. Aku jelas tidak ketiduran. Tapi, kenapa sejak siang tadi, aku terus kepikiran tentang Rere? Melihat dia yang di bawa pergi oleh Ruben. Entah kenapa aku malah merasa ingin merebut tangan kecil itu.
Tut
Tut
Tut
Aku melongo. Orang itu benar-benar memutuskan panggilan?!
Setelah sadar aku kembali menelepon orang yang sama, dijawab pada panggilan pertama.
"Hal..."
"LO KALO KEBANYAKAN PULSA, JANGAN BUANG KE SINI. GUE BANYAK KERJAAN, GAK ADA WAKTU BUAT TEMENIN LO NGELAMUN!" Cerocosnya yang entah kenapa belakangan ini malah semakin bawel, seakan terpengaruh oleh kebawelan istrinya.
"Ya maaf! Lo tau sendiri lah kalau gue lagi galau." Ucapku tidak sepenuhnya menyesal.
Aku bisa mendengar orang diseberang sana menarik nafas panjang. "Jadi, lo terima pertunangan itu?" Dia kembali bertanya.
"Belum." Jawabku. "Bokap suruh gue buat mengenal Cindy lebih dulu."
"Terus?"
"Awalnya gue gak begitu peduli, tapi ya, Cindy pribadi yang menyenangkan."
"Terus lo mendadak cinta sama dia?"
"Gak lah! Gila aja lo!" Selaku cepat. "Gue cuman menganggap Cindy pribadi yang menyenangkan, gak lebih."
Orang disana menghela nafas panjang. "Ver, lo sadarkan kalau cinta itu berasal dari rasa nyaman akan pribadi seseorang?" Tanyanya.
"Tapi ini gak begitu. Gue yakin karena gue..." ucapanku tertahan. AH sejak kapan aku menjadi mellow begini?
"Karena?" Desaknya.
"Karena gue gak bisa berhenti memikirkan Rere sejak seharian ini." Ucapku pelan.
"Kenapa?"
"Entahlah. Gue cuman..." aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku katakan. Cemburu kah? Tidak enak kah?
"Ver, sampai kapan sih lo mau mengorbankan perasaan lo dan diri lo?" Tanyanya mendesakku. Terdengar jengah. "Kalau kebahagiaan bisa datang sendiri tanpa lo berusaha, gak akan ada manusia yang mengakhiri hidupnya sia-sia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fated! [#DMS 2]
Romantik(TELAH DI BUKUKAN. BISA DI TEMUKAN DI TOKO BUKU KESAYANGAN KALIAN 😊) Sequel Dirty Marriage - Anindana Orang bilang, Pertemuan PERTAMA adalah kebetulan, Pertemuan KEDUA adalah kepastian, dan pertemuan KETIGA adalah TAKDIR. "Aku hanya bisa bertanya k...
![Fated! [#DMS 2]](https://img.wattpad.com/cover/60875545-64-k703282.jpg)