Lima

126K 6.9K 155
                                        

Rere's POV

Aku melangkah keluar dari Lift lima menit setelah Alvero meninggalkan apartemenku.

Sebenarnya aku bisa saja turun bersama Alvero tapi tidak. Aku ingin menggunakan lima menitku untuk menangisi kebodohanku untuk terluka saat aku jelas-jelas tahu kalau itu adalah tidak mungkin untuk seorang Alvero mencintaiku dan menerimaku.

Padahal aku sendiri sudah tahu konsekuensinya untuk mengutarakan perasaanku. Artinya aku siap terluka, tapi ternyata dampaknya lebih sakit dari dugaanku.

Aku berjalan menyusuri lorong kecil menuju kearah taman yang berada di belakang apartemenku.

Hatiku dan pikiranku masih tidak bisa bekerja sama, hatiku sibuk memikirkan rasa kecewa dan sakit akibat penolakan Alvero. Sedangkan pikiranku seakan sibuk mencerna ucapan Ruben. Ruben.... pengagum Rahasiaku?

Aku melihat sosok laki-laki tinggi ditengah keremangan lampu taman, berdiri tegap membelakangiku.

Aku menarik nafas panjang dan melangkah maju menuju kebelakang tubuhnya dan menepuk pundaknya pelan.

Ruben berbalik. Senyumnya juga merekah. Di tengah dadanya, dia mendekap sebuket mawar merah yang indah, dan di tengah buket bunga itu, ada kotak beludru kecil dengan warna senada.

"Makasih untuk meluangkan waktu menemui gue." Ujarnya dengan senyum yang tulus.

Aku juga ikut tersenyum. "Maaf, gue gak tau kalau bunga itu, lo yang kirim." Gumamku merasa bersalah.

Ruben menggeleng dan tersenyum. "Gak masalah. Yang penting sekarang lo udah tau dan ada di depan gue."

"Lo mau ngomong apa?" Tanyaku to the point. Jujur aku lebih memilih duduk di pojokan kamarku, menyalakan lagu mellow dan menangisi kebodohanku sekarang ini.

Ruben tersenyum dan menyerahkan buket bunga itu kepadaku. "For you, Pretty." Ujarnya.

Aku menerima buket bunga itu dengan kernyitan di kening. Bingung.

"Happy Valentine's day, Rebecca." Gumamnya pelan.

"Thanks." Ujarku masih bingung.

"Ehm... Becca..." seketika itu juga Ruben berlutut di hadapanku aku mundur selangkah dan terperangah melihat Ruben yang seperti itu.

"Ben, lo ngapain?!" Pekikku sambil melihat kanan kiri.

"Gue cuman mau ngungkapin perasaan gue."

Aku tersentak.

Permainan macam apa ini?

Aku baru saja menyatakan cinta dan di tolak tidak lebih dari 15 menit yang lalu. Dan sekarang ada orang yang mau menyatakan cinta kepadaku? Aku tidak siap.

"Ben..."

"Shhht..." Dirinya meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. "Biarin gue bicara sampai selesai."

Aku terdiam. Entah kenapa aku seakan melihat diriku di posisi Ruben. Memohon cinta pada Alvero.

"Gue udah memperhatikan lo dari dua tahun yang lalu, Bec."

Aku kembali tercekat. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Sama seperti diriku yang mencintai Alvero diam-diam. Kali ini, bayangan mengenai Diriku yang berada di posisi Ruben, seakan tercetak jelas.

"Gue gak tau arti dari perasaan yang gue rasakan ke lo, tapi yang gue tau adalah, gue mau bersama lo. Menjalani hari, menghabiskan waktu bersama lo."

"Ben... gue..."

Ruben... dia cowok yang baik kok.

Kata-kata Alvero kembali terngiang. Pikiran mengenai harapan Alvero untukku menemukan cinta yang baru kembali menyapa.

Fated! [#DMS 2]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang