Tanpa sepengetahuan kak Naufal dan dengan perasaan kecewa tentunya aku memungut kembali bekalku dari tempat sampah sambil memandangi kak Naufal yang perlahan mulai menjauh, padahal ini adalah nasi goreng paling enak sedunia tapi malah dibuang kan heman. Apalagi yang buat bidadari hidup aku, Mama
Sambil menghela nafas pelan aku berjalan pergi menuju kelasku, untung saja di lorong menuju toilet ini sangat sepi jika ramai pasti sudah banyak gosip tersebar
Aku menggerutu sambil terus mencoba menghubungi Baron, dari tadi hanya operator yang menjawabnya membuatku kesel sendiri. Aku mau cepet-cepet bilang kalo tadi aku ngasih bekal sama kak Naufal dan ada Tasya terus ngasih tau kalo malem ini Tasya akan ngenalin kak Naufal ke keluarganya. Dari mana aku tau? jangan ditanya, aku tadi denger secara detail apa yang Kak Naufal dan Tasya bicarain walaupun hati taruhannya
"Assalamu'alaikum"
Aku tersentak, hening. Mending banget ada cowok yang salam dulu kalo ditelpon
"Halo, anda orang kan?"
"Eh, Wa'alaikumsalam Baronnn kamu kok lama banget ngangkatnya si?"
"Maafin gue Na, gue lagi dirumah sakit"
"Lah siapa yang sakit ron?"
"Bukan apa-apa, oh iya ada apa?"
"nanti pulang sekolah bisa kan ketemuan? aku punya misi rahasia buat kita berdua"
"Eh, bi-bisa bisa dimana?"
"Cafe deket sekolah aku aja, yaudah itu aja si dadaah"
Tanpa menunggu jawaban akupun langsung menutup sambungan telepon dan berbalik menuju kelas
Tapi.,
"Lo kenal Baron dari siapa?"
Tasya tepat dibelakangku sambil melipat kedua tangannya, berarti..berarti dia ngedenger apa yang aku sama Baron bicarain dong ih Mamaaaaa
"Itu kuping apa gagang panci hello?"
"Ya kuping lah"
"Nah nyahut"
Tasya kemudian mendekat kearahku, aku merutuki sikapku yang malah gelagapan didepan si ratu kelek ini
"Perlu gue ulangin pertanyaannya?"
"Kemarin gak sengaja ketemu, emang kamu kenal sama Baron?"
BAGUS! Anna emang hebat, aku bersorak sorai terlebih melihat sikap Tasya yang salah tingkah kali ini
"Bukan urusan lo"
"Lah, aku kan cuma nanya. Lagian Baron ganteng hampir sama lagi kayak kak Naufal, siapa tau kan aku bisa move on dari kak Naufal"
Terlihat raut wajah Tasya yang tambah tidak bersahabat, aku tertawa dalam hati
"Oh.. y-ya bagus dong, jauh-jauh sana move on dari pacar gue"
"Dengan senang hati" tapi bono. mana mungkin aku bisa lupain kak Naufal?
Tasya pun menghentakkan kakinya meninggalkanku yang sedang bernafas lega
***
Dengan perasaan campur aduk, aku kembali ke kelas tanpa memperdulikan apapun disekelilingku
"Anna gue minjem buku catatan kimia lo dong"
"Ambil aja di tas"
"Asik asik, tumben nih gak banyak omong"
"Udah sanaa"
Aku mendorong tubuh Amber agar sedikit menjauh dariku, Amber hanya cemberut lalu terlihat lirikan matanya tepat kepada apa yang aku pegang
"Abis darimana sih Na? ini lagi si Stich nya kotor emmm bau lagi wlek" Dengan menyebalkannya Amber mengambil kotak bekalku lalu langsung berekspresi jijik
Kenapa sih setiap aku kesel pasti ada orang yang nyebelin kayak Amber, Salah aku apaa
"Itu Stich dari si Rika ya? gila bau banget"
Aku hanya diam tidak bergeming sambil tatapan lurus ke depan, Amber terlihat menggaruk tengkuknya lalu menyeretku ke pundaknya sambil mengangguk-anggukan kepalanya
"Pasti si Naufal budug itu lagi ya? yaudah Nangis aja lah Na, lagian denger-denger pak Maktum nya gak bakalan masuk, mau ngelahirin"
Aku memandang Amber kaget, masa iya? Pak Maktum ngelahirin. Apa jangan-jangan... terlibat LGBT kayak saipul jamil?
"Istrinya, gue belum selesai ngomong"
Aku menghela nafas pelan, lalu duduk seperti biasa sambil menatap Amber
"Mber"
"Yoiiii Na"
"Aku tadi ngasih ini sama kak Naufal tapi malah dibuang sama Tasya-"
"KURANG ASEM BANGET SI DIA? MESTI GUE KASIH KELEK SI RIKA BIAR TAMBAH ASEM HAH?"
Aku memutarkan bola mata lalu menjambak pelan rambut Amber
"Jadi pendengar yang baik dulu sekarang oke?"
"Oke,oke"
***
Amber berlari keluar kelas dia terlihat sangat marah, dikepalanya juga ada tanduk merah super panas membuatku tambah pusing saja dengan sekuat tenaga akupun mengejar Amber. Pasti sesuatu akan terjadi, sesuatu hal yang kurang baik..
Berkat berlari dengan sekuat jiwa dan raga akhirnya aku dapat mengejar Amber yang terlihat masuk kedalam kelas Tasya! Masyaaaarakat bumi pertiwi Amber edan!
"Assalamu'alaikum pak izin ada perlu sama Tasya"
Aku menggeplak wajahku sendiri sambil gregetan apasih Amber ini? Dengan gelagapan aku mencubit lengan Amber sambil memasang wajah memelas tapi sama sekali tidak diperdulikan oleh Amber sampai akhirnya keluar Tasya dengan wajah bantal, yaampun ini anak tertidur dikelas pas pelajaran pertama? semalam dia ngapain
"Hoamm ada perlu apaan kalian? ganggu aja lagi tidur. Eh By the way makasi juga sih udah-"
"Ikut gue dan JANGAN BANYAK BACOT!"
Aku meringis mendengarnya, Tasya mengerlingkan matanya kearahku dan aku hanya menjawab dengan mengedikan bahuku tidak tahu, Tasya dengan wajah menyebalkannya ikutan mengedikan bahu lalu menurut saja dengan Amber. Aku yang paling belakang hanya bisa mengekori mereka saja dan pasrah terhadap apa yang akan dilakuin sama Amber
***
KAMU SEDANG MEMBACA
He's My Senior
Humor[TAMAT - CHAPTER LENGKAP] Suka sama senior tampan apalagi alim dan taat ibadah, itu memang wajar. Tapi gimana kalo senior lo itu tipe ceweknya 'Bad girl'? "KAK LOOK AT ME PLEASE!" -Nadira Adrianna. [Beberapa part di private] [My first story on wattp...
