BAB 1 - Lagi!

19.4K 995 35
                                        

-Anna POV-

Aku menghela nafas pelan dipinggir lapangan sambil melihat minuman isotonik yang ku pegang untuk kakak kelasku itu. Disana, ya tepatnya di lapangan basket, dengan keringat yang bercucuran mendrible bola ditengah riuhnya penonton oh betapa keren nya dia, seketika aku merasa panas, ya pipi aku pasti memerah.

Seperti biasanya aku selalu menyemangati tim basket di sekolahku ini, walaupun ini pertandingan persahabatan tetapi ini sangat menarik bagiku karena yang bermain adalah kakak kelas yang sudah lama aku kagumi. Di pinggir lapangan seperti ini sambil meneriaki namanya, itu salah satu hobiku. Aku berharap dia semangat karena ada aku di sini yang menyemangatinya.

Prit!

Terdengar suara peluit dari arah utara tanda permainan telah usai dan dimenangkan oleh tim kakak kelasku itu pastinya. Aku tersenyum sumringah lalu berniat untuk menghampiri kakak kelasku itu.

"Kak Naufal!"

"Kak Naufal!" Aku menoleh kearah samping terlihat seseorang memegang kaleng isotonik yang sama sepertiku. Ah Tasya, ya dia saingan terberatku seantreo sekolah untuk mendapatkan hati Kak Naufal, kakak kelasku itu.

Kak Naufal terlihat bingung sambil menaikan satu alisnya. Langkahku terhenti ketika melihat Tasya dengan langkah yang lebih cepat menghampiri Kak Naufal sambil menyerahkan minuman isotonik yang telah dipersiapkannya, Kak Naufal melirik ku sedetik! Hanya sedetik, setelah itu dia acuh dan tersenyum sangat manis kepada Tasya. Sial kenapa aku harus melihat pemandangan yang mengerikan ini, tanpa memikirkan akibatnya aku langsung meremas minuman isotonik itu lalu berbalik meninggalkan mereka berdua.

Aku Kecolongan Lagi! Ya, sudah sering aku keduluan oleh Tasya! Parahnya, Tasya itu sering mendapatkan perlakuan istimewa dari kakak kelasku! Menjijikan, apasih istimewanya dia? Tasya kan super Bad girl, sok kecantikan lagi kenapa Kak Naufal lebih milih Tasya! Astagfirullah, aku beristighfar berkali-kali.

  Tapi bukan kak Naufal saja mungkin, seluruh kakak kelas pada umumnya tertarik dengan dia. Tolong berikan aku alasan kenapa Tasya bisa membuat mereka menyukainya! Apa dengan lipstiknya yang tebal dan merah menyala? Make up nya yang super putih sampai beberapa lapis? Atau bajunya yang terlalu ketat dan memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda?

  Kenapa laki-laki sangat tertarik dengan yang begituan sih. Aku tidak mengerti, apa aku juga harus berdandan seperti itu dan membuat kak Naufal jatuh cinta kepadaku? Dasar cabe murah, sering modus! Aku iri tentu saja, serasa hidup ini gak adil. Dunia ini di kuasai oleh rupa yang di bantu oleh make up, jelas aku tidak suka.

"Pokoknya aku akan buat kak Naufal bertekuk lutut ngemis cinta aku! Liat aja!"

***

-Naufal POV-

Yeah! Tim gue menang lagi, gue selaku ketua tim basket di SMA Pancasila salah satu sekolah ternama di Jakarta ngerasa bangga, karena latihan selama ini tidak sia-sia. Setelah gue tos-tosan bareng tim gue, gue berjalan kearah tempat tas tim gue disimpan. Tapi..

"Kak Naufal!"

"Kak Naufal!"

Seseorang-- Eh oke dua orang memanggil nama gue, gue menoleh bingung. Di sana dua-duanya berjauhan dan masing-masing memegang minuman isotonik, ya dia Anna dan Tasya, dua orang sekaligus adik kelas dari beratus ratus fans gue disekolah ini yang dengan semangat menggebunya ngejar-ngejar gue.

"Kak, Ini minuman buat kakak, kakak pasti haus ya." Tiba-tiba Tasya udah ada disamping gue, gue menoleh sekilas ke arah Anna yang terlihat kesal sambil menatap tajam kearah sini lalu langsung mengalihkan pandangan ke arah Tasya dan tersenyum semanis mungkin sambil mengucapkan terimakasih. Gue tertawa dalam hati, sudah beberapa kali Anna keduluan oleh Tasya, dan memang tidak usah dipungkiri lagi kalau sesekolahan telah mengenal mereka sebagai; rival.

   Tapi secara pribadi gue emang lebih tertarik sama Tasya, bagaimana ya... Anna itu terlalu biasa dan bahkan terlalu normal, prestasinya gemilang, wajahnya yang cantik, cute dan menggemaskan, aktif, alim, keliatanya pun dia sering ke mesjid saat dzuhur dan itu memungkinkan kalau dia rajin ibadah. Semuanya itu terlalu normal, terlalu membosankan bagi gue. Membosankan, camkam itu.

  Sedangkan Tasya itu bad girl, lihat saja tampilannya dan kayaknya dia itu jauh banget sama agama nya, gue mau ngajak dia kearah yang benar, aneh tapi nyata, gue ini salah satu pengidap penyakit psikologis langka, mungkin cuma gue yang ngerasain dari sekian banyak manusia di dunia ini. Psikolog yang sering gue konsultasikan menyerah, dia bilang ini cuma permainan sugesti gue aja. Tapi, ketertarikan terhadap yang tidak normal membuat gue frustasi, di sisi lain gue menikmatinya, tapi di sisi lain gue ngerasa bukan ini yang gue mau.

  Ah, gue sendiri tidak mengerti. Yang terpenting, dirinya sudah tidak sabar menantikan kelakuan mereka berdua lagi. Terlebih pada si sempurna itu, Anna.

"Selamat berjuang dapetin gue Nadira Adrianna!" Gue tersenyum menyeringai.

***

[Setelah dirombak pun, hasilnya sama. Tetep sedikit ceritanya ehe]

--

He's My SeniorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang