Chapter 10: sultan rajo bumi dan sinuhun akhirat 1

2.2K 51 0
                                        

Keadaan Sultan Rajo Bumi setelah hampir 2 purnama dirawat oleh Dewi nawangwulan kini mulai membaik. Laki-laki bertubuh tinggi besar dengan rambut panjang yang ditutupi topi tarbus tinggi ini mulai bisa berjalan. Meskipun harus dibantu oleh beberapa orang.

Ketika itu hari berangsur malam. Sultan rajo bumi yang kesehatannya semakin membaik tengah duduk disebuah kursi besar ditepi pembaringannya.

Disampingnya berdiri 3 orang. Mereka adalah Dewi nawangwulan, Raja naga langit, dan Dewa langit penguasa api.

Mereka bertiga bermaksud menemui dan menanyakan kabar keadaan Sultan rajo bumi.

Selain itu, Raja naga langit dan Dewa langit penguasa api ditugaskan untuk mencari keterangan penyebab terlukanya Sultan rajo bumi.

Sultan rajo bumi berdiri. Ia menghela nafasnya, seakan hendak melepaskan beban berat yang mengganggunya. Dengan berpegangan ditepi jendela kamar, ia bisa melihat hamparan awan yang berwarna keemasan. Warna itu akibat dari bias cahaya matahari yang tengah beranjak menuju peraduannya.

Sungguh indah dan nyaman sekali untuk dilihat mata.

Akan tetapi, pemandangan yang luar biasa indah ini tak bisa mengalihkan perhatiannya. Sepasang mata yang tajam itu tak bisa melepaskan bayangan apa yang pernah dilihatnya.

Bayangan pertarungan hebat yang pernah terjadi beberapa waktu lalu tak akan pernah pupus dari ingatannya.

*

Hari itu, seperti kebiasaannya yang sering turun kewilayah dunia bawah. Sultan rajo bumi menyamar seperti kebanyakan orang.

Ketika itu, sultan rajo bumi tengah asik menyaksikan seorang pembeli sedang menawar sebuah barang. Mungkin karena harga yang ditawarkan kepadanya masih jauh, maka sipedagang masih enggan menjual barang dagangannya.

Ternyata sipembeli itu sangat menginginkan barang tersebut, akan tetapi jumlah uang yang dibawanya tidak mencukupi, sehingga ia terus berusaha menawar.

Sultan rajo bumi tersenyum geli ketika orang yang bermaksud membeli barang itu gagal. Dengan ngedumel ia melangkah pergi. Sedangkan sipenjual hanya melihat kepergiannya dengan menggeleng-gelengkan kepala.

Sultan rajo bumi hendak kembali melangkahkan kakinya, ketika tiba-tiba suasana pasar berubah ramai riuh rendah.

"Ada apa ini." gumam sultan rajo bumi penasaran.

Dilihatnya orang-orang nampak berlarian tak tentu arah. Ada yang saling bertabrakan satu sama lain. Bahkan orang yang tadi sempat Sultan rajo bumi lihat saling tawar menawar barang tampak berlari berdampingan !

Rasa penasaran dari sultan rajo bumi terjawab.

Tak berapa lama setelah keributan terjadi, Sultan rajo bumi melihat beberapa sosok yang menyebabkan keributan ini.

Sosok-sosok tersebut ternyata adalah sosok siluman berukuran besar berwarna biru.

Para siluman besar itu nampak mengamuk dan menghancurkan seisi pasar. Bahkan beberapa orang yang berhasil ditangkap oleh para siluman itu langsung dimakan mentah-mentah.

Geram luar biasa Sultan rajo bumi melihat hal ini. Hampir saja ia melompat menerjang mereka. Ketika tiba-tiba ia melihat seseorang yang dikenalnya tengah melangkah pelan menuju para siluman besar itu.

Sultan rajo bumi terus memperhatikannya. Orang yang dikenalnya itu tampak berjalan santai tak tergesa-gesa. Padahal, menurut perkiraan sultan rajo bumi, orang yang ia kenal itu pasti akan menghajar dan memusnahkan para siluman itu. Tapi, kenapa saat ini orang itu tidak melakukannya. Sultan rajo bumi tak busa habis pikir.

Maka ia memutuskan akan terus memantau pergerakan dari orang tersebut.

"Apa sebenarnya yang hendak kau perbuat, wahai Dewa langit penguasa petir?" batin sultan rajo bumi.

Orang yang ia lihat ternyata adalah Dewa langit penguasa petir. Salah satu dari lima dewa penguasa elemen semesta dikerajaan atas langit.

Tapi, sultan rajo bumi tampak heran juga dengan penampilan dari dewa langit penguasa petir ini. Biasanya, ia melihat orang ini selalu mengenakan pakaian serta jubah berwarna peraj berkilat. Tapi, kini yang ia lihat adalah pakaian ringkas warna merah serta memakai jubah hitam. Dikepalanya juga memakai sebuah blangkon.

Orang yang dikenal oleh sultan rajo bumi sebagai dewa langit penguasa petir ini melangkah menghampiri para siluman raksasa itu.

Melihat kedatangan manusia berblangkon hitam ini, gerakan buas para siluman terhenti. Dan yang membuat sultan rajo bumi terkejut adalah bahwa para siluman itu memberi hormat dengan bersujud kepada dewa langit penguasa petir.

"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" ucap manusia berblangkon itu dengan tatapan mata tajam.

Para siluman itu tetap bersujud tidak berani menjawab pertanyaan yang sederhana itu.

Manusia berblangkon itu tampaknya tidak senang dengan keadaan yang demikian itu. Maka dengan cepat tangannya menjambak kepala salah satu dari siluman itu. Dan membentak.

"Jawab pertanyaanku bangsat! Apa yang sedang kalian lakukan disini! Atau kubunuh kalian satu persatu!" kata manusia berblangkon hitam itu.

Dengan menahan sakit. Siluman yang dijambak itu merangkapkan kedua tangannya didepan dada dan menjawab dengan tertahan-tahan.

"Ampuni kami sinuhun akhirat. Kami hanya bersenang-senang saja."

"Keparat. Kalian semua bertindak sesuka hati tanpa ada perintah. Kalian tahu apa hukuman yang akan kalian terima, hah?" ujar manusia berblangkon yang ternyata adalah sinuhun akhirat adanya.

"Ampun sinuhun, kami, siluman danawa meminta ampunan kepada junjungan kami, sinuhun akhirat." kata salah satu siluman yang masih bersujud itu.

Sinuhun akhirat tertawa dingin. Dan dengan gerakan tiba-tiba, seperti memegang benda ringan. Tubuh siluman danawa yang tengah dicengkramnya itu ia lemparkan tepat kearah sultan rajo bumi bersembunyi !

Kejut sultan rajo bumi melihat serangan mendadak ini. Tak mungkin tidak. Pasti dewa langit penguasa petir atau yang dipanggil oleh para siluman itu sinuhun akhirat telah mengetahui keberadaan dirinya. Maka, dengan sigap pula sultan rajo bumi melesat menghindar.

"Bumm...!"

Suara bedebum terdengar ditempat sultan rajo bumi tadi berada. Tubuh siluman danawa yang dilemparkan itu tampak menggeliat menahan sakit.

Sultan rajo bumi berdiri tegak menghadap sinuhun akhirat. Sikapnya langsung waspada dengan langsung memasang kuda-kuda yang kuat.

Demi melihat sultan rajo bumi, sinuhun akhirat ataupun juga dewa langit penguasa petir menyeringai.

***


Babad jawadwipaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang