Kalau kau pernah berlari dengan sangat kencang hingga merasakan tubuhmu seperti melayang di udara, mungkin kau bisa melakukannya di hamparan padang rumput hijau yang sangat amat luas ini. Disini aku biasa menghabiskan waktuku. Aku tinggal di sebuah desa tempat tinggal orang-orang suku Lukaru. Sebuah desa kecil yang terletak di lembah Kuri, tak terlalu jauh dari ibukota.
Pagi ini, orang-orang di desa terlihat sangat sibuk sekali. Ibuku pagi itu mengingatkanku kalau hari ini adalah perayaan ke 350 tahun kekalahan Kesslein Grimar. Aku sengaja mengendap-endap keluar desa sejak pagi agar terhindar dari tugas-tugas yang akan merepotkanku.
Disini setiap setahun sekali, seluruh Suku yang ada di Tanah Kesslein akan mengadakan pesta, termasuk juga di desaku. semua orang akan menari bersama di pelataran desa dan melakukan banyak upacara adat yang membosankan.
Tiga setengah abad yang lalu, 20.000 pasukan gabungan dari suku-suku manusia berhasil mengalahkan seekor naga raksasa, Kesslein Grimar yang pada zaman itu adalah penguasa benua ini. Setelah perjuangan yang amat panjang, akhirnya manusia dapat mengalahkan Kesslein Grimar. Dan bertahun-tahun setelah itu manusia secara bertahap mulai membangun peradabannya di tanah ini.
Sebelum manusia merebut benua ini, manusia terpecah belah dan hidup dengan membangun kota-kota apung di lautan tenang yang terbuat dari kayu-kayu dan jerami. Ya, lautan... karena dahulu, laut adalah tempat paling aman bagi manusia. dan satu-satunya daratan adalah Tanah Kesslein. Benua yang pada saat itu hanya dipenuhi makhluk raksasa buas yang disebut Naga.
Manusia pada masa itu hanya pergi ke daratan sesekali untuk berburu Copholk, reptil besar pemakan rumput yang dagingnya sangat digemari semua orang. Dan pada saat itu juga mereka mencari tanaman dan buah-buahan untuk persediaan makanan. tak jarang dari anggota ekspedisi ke daratan itu, ada beberapa yang tak kembali karena sial berhadapan dengan Naga-naga buas.
Seimar Darka ...
Seluruh penjuru Tanah Kesslein pasti mengenal nama itu, kini patungnya yang berukuran raksasa berada di tengah-tengah ibukota. Dia pria yang penuh ambisi, dan dengan teman-teman serta saudara-saudaranya ia menciptakan senjata-senjata seperti Navak (serupa dengan pedang begerigi di salah satu sisinya), Vesla (galah dengan mata tombak yang berulir diujungnya), Drakelock (senapan dengan mekanisme bubuk mesiu serta berbagai macam jenis peluru), dan Labowe (serupa dengan busur silang), dimana kemudian senjata-senjata ini khusus dibuat untuk membunuh naga.
Senjata-senjata itu membutuhkan pengembangan dalam waktu lama sebelum dapat menembus kulit naga yang dikenal sangat keras. Maka ditempa lah Navak, Vesla dan anak panah Labowe berlapis-lapis dengan campuran besi dan baja Telari, jenis baja terkuat yang ditemukan oleh suku Telari, suku penempa termahsyur pada zaman itu. Sementara peluru-peluru Drakelock dibuat dengan campuran logam dan perak berkualitas tinggi.
Maka dengan demikian senjata-senjata itu berhasil menembus kulit naga dan mulailah manusia melakukan perburuan dengan menggunakan senjata-senjata itu.
Seimar Darka lah yang menciptakan tekhnik memburu naga. Dan seiring berjalannya waktu, Suku-suku di kota apung mulai membentuk legiun-legiun pemburu naga. Legiun-legiun itu berada di bawah naungan Suku terkuat yaitu Suku Darka, dimana pemimpinnya adalah Seimar Darka yang kelak memimpin pertempuran melawan Kesslein Grimar dan mengembalikan kejayaan manusia yang telah memudar.
Ya, kakek tetua ku selalu menceritakan sejarah itu pada anak-anak setiap hari perayaan dari tahun ke tahun, sampai-sampai aku tahu dan hafal benar semua cerita-ceritanya itu. Hingga tengah hari aku masih berbaring merasakan hembusan angin yang kencang di hamparan rumput yang luas ini. Matahari tertutup rapat oleh gulungan awan putih yang menggumpal seperti kapas. Dikejauhan terlihat dua ekor Copholk sedang memakan rumput dengan tenangnya.
"Suasana ini benar benar menenangkan."
"Satra! Hei, segera kembali ke desa!! kau harus melihatnya!" Tiba-tiba saja terdengar jelas suara Vineli, teman perempuanku memanggil.
Raut wajahnya terlihat seperti ada hal yang sangat penting. Belum aku beranjak dari tempatku bersantai, Vineli sudah kembali berlari menuju desa.
"Pasti sesuatu yang penting terjadi disana," gumamku seraya bangkit dan berlari menyusul Vineli.
Jarak padang rumput dengan desaku sangatlah dekat. Hanya beberapa saat saja aku telah sampai di desa. Terlihat kerumunan warga desa, mereka tak seperti biasanya. Sesaat kemudian seorang pria dari desaku berlari menuju kerumunan sambil berteriak ke teman-teman nya yang menyusul di belakang.
"Dia sudah kembali! Bolmur si Pemburu Naga!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DRACOMILLIR
FantasySeluas apakah dunia? Untuk apa manusia mencari tahu? Bahkan setelah ratusan tahun menginjakkan kaki di tanah ini, mungkinkah manusia lupa dengan hal-hal yang telah ditentukan untuk mereka? Sejauh apapun mencari, pada akhirnya akan kembali ke tempat...
