SOSOK YANG KEMBALI MUNCUL

54 8 2
                                        

Aku tidak bisa membiarkan mereka saling bunuh satu sama lain. Kakiku memacu langkah semakin cepat mendekati kerumunan pertempuran itu. Darah-darah segar mengalir dari tubuh-tubuh yang telah gugur membuat dataran timur Hylandir sebelumnya hijau menjadi kemerahan. Perutku bergejolak sebab jejap dengan darah-darah dan isi perut yang berserakan di tanah. Tangan ini tak kuasa menahan untuk menutup kedua telinga karena mendengar jeritan demi jeritan, tangisan serta raungan penuh keputus-asaan. Aku berlari sesekali berusaha menghindari kerumunan demi kerumunan dalam pertempuran itu. Mencari-cari sosok Gedurham sang kapten Pasukan Infanteri Ibukota di tengah pertempuran sengit yang sedang berlangsung.

"Wuss!" tiba-tiba sebuah pedang hampir saja mengenai kepalaku.

Aku terperanjat, tanganku segera menggenggam senjataku. Kemudian tidak disadari ada seorang pria berjanggut cokelat yang tampak cukup tua dihadapanku, mengacungkan pedangnya ke leherku. Ia melihatku dengan tatapan yang lelah, Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Pria tua itu mengenakan zirah besi yang tampak dikenakan prajurit Infanteri Ibukota.

"Hei, aku dari Ibukota! Lihatlah aku dari Legiun Pemburu Naga!" ujarku sambil menunjukan lambang Divisi Pasukan Pengintai di lenganku yang sudah terlihat lusuh.

Seketika orang tua menghela nafasnya, kemudian ia menurunkan pedangnya. "Ah, hampir saja!" ujarnya.

"Apa kau melihat Gedurham? Aku perlu menemuinya,"  tanyaku kepada si prajurit tua itu.

"Dia ada di barisan paling depan," jawabnya. Kemudian prajurit tua itu pergi begitu saja meninggalkanku.

Ditengah pertempuran yang begitu kacau, aku berusaha sebisa mungkin memahami keadaan sekitar. Ditengah kebingungan, celah yang terkunci di pikiranku tiba-tiba saja terbuka. "Helm naga, helm naga," gumamku mencoba mengingat-ingat pakaian yang dikenakan oleh Gedurham. Kemudian aku terus berlari menerobos kerumunan-kerumunan Pasukan Infanteri Ibukota. Beberapa tubuh dari prajurit Pasukan Infanteri maupun prajurit-prajurit Hylandir bergelimpangan di depan mataku. Korban pertempuran ini semakin bertambah seiring langkah demi langkah aku berlari di tengah pertempuran itu, terus mencari-cari sosok Gedurham di antara ribuan manusia yang sedang bertempur satu sama lain. Aku berlari hingga berada di garis depan pertempuran yang amat kacau. Seperti terjebak ditengah kerumunan ribuan banteng yang saling bertubrukan satu dengan lainnya. Rasanya sulit untuk berlari, sesekali tubuh ini bertubrukan dengan prajurit lainnya hingga aku terjungkal. Ditengah kekacauan itu sebuah tangan menarik lengan bajuku, aku tertarik ke belakang hingga jatuh beralaskan punggung. Badanku terseret ke belakang seolah seseorang menarikku begitu kerasnya.

"Aduh!" rasa nyeri mulai menggeliat keluar sedikit demi sedikit terasa bahuku.

"Kau bocah pemburu naga yang kemarin ikut di barisan kaum Har itu kan?"

Aku menoleh mendengar seseorang berbicara di belakangku. Matanya menatapku dengan tajam. Namun dari ciri-ciri tubuh dan pakaiannya membuatku tersadarkan. Ia adalah Gedurham yang aku cari.

"Gedurham, maksud saya Kapten! Saya membawa pesan dari Goran, pemimpin kelompok kami."

"Dari mana asalmu?" tanya Gedurham.

"Lukaru, Kapten," jawabku.

Aku dibawanya hingga sedikit ke belakang barisan pasukan di garis depan. Kudongakkan kepala hingga bisa melihatnya sekilas. Saat itu helm naga yang ia kenakan sebelumnya sudah tak nampak lagi di atas kepalanya. Zirahnya penuh dengan cipratan darah dan jubahnya tampak sedikit robek. Dia benar-benar bertempur bersama pasukannya di garis depan.

"Apa yang Legiun Pemburu Naga lakukan di Hylandir? Kalian berhasil lolos juga dari kaum Har itu?" tanya Gedurham seraya melepaskan cengkraman tangannya dari lengan bajuku.

DRACOMILLIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang