GEDURHAM SANG PEMBUNUH FILGAMOR

27 1 0
                                        

Siang itu tampak cukup terik. Udara segar pagi perlahan-lahan menghilang, menyisakan rasa panas yang kian menusuk. Raja Oharim telah selesai melakukan ritual untuk melepaskan sihirnya. Topeng-topeng para pasukan Hylandir itu telah terlepas. Gerak-gerik pasukan Ibukota seketika terhenti. Dalam waktu singkat mereka tampak terpaku memandangi orang-orang Hylandir. Terlihat jelas ketakjuban dari raut wajah mereka sebab menyaksikan kejadian itu. Mereka telah melihat sebuah kenyataan yang akan mengubah kepercayaan mereka selama ini. Tentu kami juga tidak percaya pada awalnya, sebab selama ini orang-orang Hylandir dianggap sebagai Kaum Har, makhluk buas penghuni Tanah Kesslein. Namun saat ini kepercayaan seluruh Pasukan Ibukota tentang Kaum Har akan sirna. Mereka telah melihat wajah-wajah yang sama dengan wajah mereka di balik topeng itu, wajah dari sesosok manusia. Namun diantara kejadian itu, ada satu hal yang tak kuperkirakan telah terjadi begitu cepatnya. Sebuah tanda tersingkap di lengan Gedurham. Sebuah tanda yang dibicarakan oleh si Gadis Putih padaku. Tato matahari yang berada di atas sebilah pedang. "Bukankah itu tanda Ordo Elme?" gumamku.

"Lancang sekali kau bocah! Disaat seperti ini kau menanyakan hal yang tidak penting padaku?" tanya Gedurham yang tampak geram.

"Aku melihatnya! Tato berwarna hitam di lenganmu, bergambar matahari di atas pedang! Kau bagian dari Ordo Elme! Apakah menghancurkan Hylandir tujuan Ordo Elme!?" seruku.

"Hei, aku tidak paham dengan yang kau bicarakan," sela Gumbedor.

Goran menoleh padaku. "Hey Satra, tato itu adalah tanda sebagai anggota keprajuritan," ujarnya.

Sontak aku terkejut. Aku memikirikan tentang kata-kata yang diucapkan Goran. Bagaimana bisa ia mengetahui tanda itu? Lalu, bukankah itu tanda Ordo Elme? Si Gadis Putih itu tidak mungkin berbohong padaku. 

"Bagaimana kau tahu?" tanyaku.

"Kami masuk ke pelatihan adat keprajuritan bersama, kemudian aku keluar dari pelatihan keprajuritan untuk bergabung di legiun pemburu naga," jawab Goran.

"Eh, kau dan Gedurham?"

"Ya," jawabnya singkat.

"Tanda itu adalah tanda anggota keprajuritan, tepatnya untuk prajurit setingkat kapten," sambungnya.

Ditengah percakapan itu, Gedurham menyela dengan nada kesal. "Hentikan omong kosong ini!" ujarnya tampak geram seolah-olah ingin segera menyudahi pertanyaanku ini.

Ia berjalan mendekatiku. Menatapku dengan tajam. 

"Jika kau ingin tahu tanda ini, kenapa tidak bertanya dengan ketua divisimu sendiri? Faradir-lah yang mendirikan cabang keprajuritan 40 tahun yang lalu," ujarnya seraya mendorong tubuhku dengan arogan. Tampaknya ia kesal akibat kelancanganku.

"Sudahi pembicaraan tak berguna ini! Dan kenapa kalian berhenti hanya karena sihir Kaum Har semacam ini?" seru Gedurham kepada pasukan-pasukannya. Kemudian ia membalikan badannya, kembali ke barisan pasukan Ibukota.

"Tunggu! aku tidak akan membiarkanmu melanjutkan pertumpahan darah ini!" seru Goran.

"Jangan coba halang-halangi kami," ujar Gedurham seraya menghunuskan pedang ditangannya.

Gedurham tampak menggenggam erat pedangnya. Layaknya bersiap untuk menyerang. Ia memulai langkah pertamanya, bergerak ke arah Goran. "Sial, orang ini bersungguh-sungguh untuk menyerang Goran," pikirku. Lalu tanpa banyak pikir panjang, aku mengambil pedang yang tersangkut di Navak Goran.  Sesaat Gedurham mengayunkan pedangnya, aku menghalaunya. Pedang kami beradu satu sama lain. Goran saat itu tampak terkejut dengan tindakanku. Gedurham tampaknya telah tersulut amarah, tugasnya sebagai kapten Pasukan Ibukota terhalangi oleh kami. Sudah tentu ia akan menghabisi kami jika perlu.

"Legiun Pemburu Naga punya urusan apa menghalangi tugas Pasukan Ibukota?" ujar Gedurham.

Tenaganya sangat kuat. Ia mendorong tubuhku, mencari celah untuk serangan kedua. Kekuatanku tidak sebanding dengannya. Aku terdorong hingga jatuh, dan tampaknya Gedurham melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menghabisiku. Seolah-olah ia tidak segan untuk menghabisi orang yang menghalanginya. Sesaat Gedurham mengayunkan kembali pedangnya, kali ini Goran menyongsong serangannya dengan Navak miliknya. Nyawaku terselamatkan oleh Goran. Saat itu senjata mereka saling beradu, tidak sekali atau dua kali, namun berkali-kali. Mereka tak segan-segan menyerang satu sama lain. Saling adu kekuatan dan keterampilan dalam bertarung. Satu lawan satu. Tidak ada seorangpun yang berani mencampuri pertarungan sengit itu. Cukup lama mereka saling tukar menukar serangan, saling halau dan menghindar sampai kemudian mereka tampak kelelahan dan sedikit menahan diri serta menunggu serangan satu sama lain.

"Ternyata kemampuanmu semakin tumpul dimakan usia," ujar Goran seraya terengah-engah akibat kelelahan.

"Lihatlah dirimu, sudah letih seperti itu ... Mungkin kau memang lebih cocok menjadi pawang burung," ejek Gedurham.

Goran tampak terpancing dengan ejekan Gedurham. "Oh ya, apa sebutan untukmu ... ah, si pembunuh Filgamor. Ya, pria pembunuh naga legendaris yang kesulitan melawan seorang pawang burung. Sungguh konyol," ujar Goran.

"Akan kutunjukan padamu seperti apa saat aku memenggal kepala Filgamor itu, Sialan!" seru Gedurham seraya melayangkan serangannya ke Goran.

Mereka kembali melanjutkan pertarungan yang sengit itu. Sementara seluruh orang saat itu hanya memperhatikan mereka yang sedang bertarung. Tidak ada yang melanjutkan pertempuran ataupun mengangkat senjata mereka kembali. Sebagian besar prajurit Pasukan Ibukota itu tampaknya mengerti bahwa pertempuran tidak perlu dilanjutkan. Sebab mereka bukan lagi bertempur untuk menghabisi sarang makhluk buas. Mereka paham bahwa Hylandir yang sesungguhnya adalah pemukiman yang dihuni manusia. Namun Gedurham bukan orang yang bisa berhenti begitu saja. Ia adalah orang yang selalu menjalankan sumpahnya hingga akhir. Maka demikian pertarungan itu tetap berlanjut, bahkan semakin sengit. Pertarungan antara harga diri dan tekad dari dua orang pria yang memiliki tujuan mereka masing-masing. Mereka menyusuri jalan yang berlainan arah dan bertemu pada titik ini, dimana harus menyelesaikannya atau tidak sama sekali. Navak dan pedang saling beradu, berdentang keras disertai teriakan Gedurham dan Goran yang bersahutan. 

Namun ditengah pertarungan itu, tanah disekitar kami berguncang dengan hebat. Bukan akibat pertarungan yang sedang berlangsung, namun tanah disekitar kami bergetar layaknya gempa bumi yang dahsyat. Tanah-tanah mulai retak. Demikian juga suara gemuruh terdengar kian membesar. 

"Apa yang terjadi?" ujar Gumbedor.

- TBC


Pesan Dari Author:
Hai, terima kasih sudah baca cerita ini hingga chapter terakhir dan masih setia menunggu kelanjutannya. Tapi dengan berat hati, author tidak bisa menjanjikan kelanjutan ceritanya. Maaf beribu maaf tapi memang karena keterbatasan waktu dan kesibukan lain. Tidak ada niatan untuk mengecewakan kalian, tapi author berharap kalian mengerti. Dan, jika memang ada yang tertarik untuk bekerjasama demi menyelesaikan cerita ini, author sangat open banget untuk berdiskusi dan siapa tahu bisa bekerjasama buat menyelesaikan cerita ini. 

Akhir kata, terimakasih yang sebanyak-banyak nya untuk apresiasinya terhadap cerita ini. Sebenarnya masih banyak misteri yang belum terungkap, dunia Dracomillir masih belum terbuka sepenuhnya. Dan masih berharap suatu hari nanti akan bisa menyelesaikan cerita dari dunia Dracomillir ini.

Terimakasih.





Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 28, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DRACOMILLIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang