BUKIT NABIA

1K 88 16
                                        


Suara pekik auman naga terdengar dari kejauhan bersahutan dengan nyanyian burung yang samar terdengar diantara ranting-ranting pohon besar di sepanjang jalan. Aku berjalan perlahan menyusuri hutan, sudah satu hari sejak aku meninggalkan desa. Bukit Nabia sudah tampak dari kejauhan. Bolmur terlihat seperti sudah hafal jalan mana yang harus dilalui, sambil sesekali ia menebas ranting yang menghalangi jalan dan menyingkap rumput ilalang setinggi dada.

Semakin lama kami berjalan, hutan ini semakin memudar lebatnya. Ternyata kami sudah menyusuri hutan ini hingga habis, dan tiba lah kami sudah berada di sebuah padang yang sedikit gersang dengan bukit bukit kecil. Hanya sedikit rerumputan tumbuh dan beberapa pohon besar yang tegap berdiri.

Saat aku memandang hamparan bukit itu, kurasakan angin berhembus kencang bagaikan hendak mendorongku. Kulihat bayangan sesuatu di tanah yang semakin membesar.

"Satra merunduk!"

Bolmur berteriak sambil menghunus Navak yang ditaruh dibahunya dan berlari kearahku tatkala bayangan tadi semakin membesar. Kemudian auman kencang terdengar disertai angin besar yang membuatku terpental ke tanah. Kulihat ke atas, tanganku mengepal, ingin rasanya aku bangun namun badan ini rasanya mati rasa, mataku menolak berkedip.

Baru kali ini aku melihat seekor naga hidup terbang tepat diatas kepalaku, takjub sekaligus ngeri rasanya. Belum saja jadi pasukan legiun sudah ada Naga besar yang hampir menyambar tubuhku, ini benar benar gila ...

"Kenapa ada naga Armae sebesar itu disini?"

Aku mendengar Bolmur berbicara. Raut wajahnya tampak heran sambil melihat naga yang hampir menyambarku tadi terbang pergi ke arah selatan.

"Bangunlah ... kita harus segera sampai ke bukit Nabia sebelum gelap." ujar Bolmur sambil menarik tubuhku.

"Bolmur, apakah nanti kita akan memburu naga sebesar itu?"

"Tidak, naga itu kelas Armae Dinobal, itu spesies Valchmar. Ukurannya hingga 17 meter, sangat berbahaya untuk pemula sepertimu."

Jawab Bolmur sambil merapikan tas bawaan dan perbekalan kami yang sempat jatuh berantakan. Setelah aku menginjakkan kaki keluar wilayah aman suku Lukaru, aku telah belajar menghadapi hal yang biasa dihadapi oleh seorang pemburu naga.

Tanah Kesslein berisi tempat-tempat yang sangat berbahaya. Walaupun sejak 3 setengah abad yang lalu Tanah Kesslein telah dimenangkan oleh manusia dengan mengalahkan Naga Abadi yang menguasainya, tetap saja kami harus bertahan hidup dengan mempertaruhkan nyawa disini. Manusia yang ingin hidup damai hanya bisa terkurung di desa desa ataupun di Ibukota yang dilindungi oleh pasukan legiun sehingga aman dari serangan naga-naga buas.

Akhirnya setelah sekian lama berjalan, kami sampai di bukit Nabia. Hari sudah petang, aku dan Bolmur memutuskan untuk membuat sebuah api unggun dari ranting-ranting yang kukumpulkan saat perjalanan tadi.

"Besok kita akan memburu Duraka. Sekarang kau pegang ini." Bolmur melemparkan sebuah Vesla, senjata mirip tombak yang terkenal bisa menembus kulit naga sekeras apapun. Aku baru kali ini memegang sebuah Vesla.

"Dan bacalah ini. Ini adalah teknik dasar memegang Vesla, serta cara-cara dasar melakukan gerakan serangan dan bertahan menggunakan Vesla. Besok pagi kita akan bergerak menuju timur bukit," Bolmur memberikan sebuah buku berisi tekhnik dasar penggunaan senjata untuk pasukan legiun. Aku menerimanya dan langsung tertarik membaca isinya. Malam semakin larut ... Karena asyiknya membaca, aku tak sadar jika Bolmur sudah terlelap. Dingin semakin menusuk tulang, suara-suara aneh mulai terdengar saling bergantian satu sama lain.

Aku semakin larut dalam tulisan-tulisan buku ini, namun tak lama aku mendengar suara langkah samar-samar semakin mendekat. Perlahan kumatikan api. Pikirku api akan menarik perhatian naga. Kucoba bangunkan Bolmur dengan suara lirih. Perlahan suara derap langkah kian membesar diiringi gemerisik dari arah semak-semak. Benar saja, dari kejauhan aku melihat sepasang mata mengawasi kami.

"itu Micmic. Sial, kita sedang diburu." Tak kusadari Bolmur sudah siaga dengan Navak miliknya disampingku.

DRACOMILLIRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang