Cahaya-cahaya merah muncul dari segala arah, malam yang semula tenang menjadi gaduh dengan teriakan teriakan melengking naga yang mengerikan. Semakin lama cahaya-cahaya merah yang sangat banyak itu menampakan bentuknya semakin jelas. Itu adalah mata dari sekumpulan Micmic, naga jenis Armae Jaki yang tidak memiliki sayap untuk terbang, namun gerakan nya sangat lincah dan sangat berbahaya karena selalu berburu dalam kelompok.
Mereka sudah mengepung posisi kami sambil terus mengeluarkan suara-suara yang mengerikan. Sepuluh ... tidak, lebih dari dua puluh Micmic samar samar terlihat dari kegelapan. Tiga ekor mulai maju, sesekali menampakan taringnya seolah mengintimidasi kami.
Dari tatapan mata para Micmic itu, terlihat seperti sangat ingin membunuh kami. Kurasa posisiku adalah sebagai mangsanya. Tubuhnya yang tak terlalu tinggi dengan sisik hitam dan mata merah, menyatu dengan keadaan bukit nabia dimalam hari. Taringnya terlihat sangat mengerikan, seketika dua Micmic berlari kearahku, diikuti dengan belasan lainnya mulai mendekat.
Bolmur segera bertindak cepat, mengayunkan Navak besarnya kearah sekumpulan Micmic yang mencoba menerkam, berharap mereka akan mundur. Tapi kenyataannya tidak, semua Micmic mulai mendekat perlahan tapi pasti. Beberapa yang sudah terlanjur berhadapan dengan Bolmur mulai menyerang bersamaan dengan beringasnya.
Bolmur sempat kewalahan, namun akhirnya tiga ekor naga tumbang juga dengan tebasan Navak-nya. inilah kemampuan seorang pemburu naga yang sudah sangat berpengalaman, bahkan dalam keadaan terdesak, tetap masih bisa berpikir jernih dan tidak panik menghadapi sekumpulan Micmic yang dapat mengoyak tubuh manusia dengan mudah. Namun seiring tumbangnya tiga ekor, Micmic yang lain menyusul menerkam Bolmur. Sekuat tenaga aku berlari kearah Bolmur, dengan menggunakan Vesla milikku aku berusaha membantu Bolmur.
"Kyaaaaaaaakkk ..." Suara teriakan Micmic yang mencoba menyerang kearahku, kugerak-gerakan Vesla untuk menghalau gerakannya. Sementara Bolmur masih sibuk menghadapi sekumpulan Micmic, aku berusaha setidaknya membunuh salah satu darinya. Akhirnya aku nekat menerjang Micmic dihadapanku kucoba arahkan Vesla kearah mulutnya yang terbuka lebar.
Vesla miliku berhasil menghunus tepat di kerongkongan, Micmic itu menggelepar memberontak dan akhirnya tergelepar lemas. Meski tangan ini gemetar kupaksakan menarik kembali Vesla ku dan menolong Bolmur yang terlihat kewalahan menghadapi Micmic yang silih berganti mencoba menyerangnya. Aku mencoba berlari ke arahnya, tapi tiba-tiba kakiku tertarik ke belakang, tubuhku ambruk, kulihat ke belakang seekor Micmic menggigit dan menarik kakiku.
Kuraih Vesla tepat disampingku, "Kena!" Teriakku karena berhasil menusuk dadanya. Namun, Micmic itu tetap tidak mau melepaskan gigitannya, aku terbanting sana-sini karena gerakannya, dan akhirnya ia melemparku ke arah pepohonan. Aku merasakan sakit yang hebat di bagian kaki yang tergigit, kulihat terdapat luka sobek yang agak parah.
Setengah mati aku mencoba berdiri, kulihat Bolmur sudah benar-benar kelelahan mengimbangi pergerakan belasan Micmic yang sangat lincah. Di tanah sudah ada banyak Micmic yang mati maupun sekarat terkena tebasan Navak dari Bolmur. Malam itu adalah neraka bagi kami berdua, cahaya-cahaya merah yang muncul dari mata sekumpulan Micmic menjadi cahaya-cahaya yang mungkin menuntun kami ke arah kematian.
Entah apa yang kurasakan saat ini putus asa, kepanikan, ketakutan dan keinginanku untuk membantu Bolmur bercampur aduk. Angin tiba tiba berhembus kencang, suara pekikan burung burung di hutan bersahutan. Entah apa yang terjadi, aku sangat kebingungan. Sambil menahan rasa sakit ini aku berusaha mendekat ke arah Bolmur. tiba tiba aku melihat sesosok bayangan, sesosok bayangan manusia berjalan mendekat kearah kami.
"Bolmur ... lihat itu, mungkin dia pemburu naga, dia mungkin akan membantu kita!" Aku berusaha memberitahu Bolmur dan berharap itu benar-benar pemburu naga yang akan membantu kami. Bolmur hanya menoleh tak berkata apapun. belum selesai rasa penasaranku, aku dibuat bingung dengan para Micmic yang mulai menjauhi Bolmur, padahal tadi mereka menyerang tak henti-hentinya.
"Bolmur ... Bolmur ..." kucoba memanggilnya, Bolmur tidak mengindahkan panggilanku, dia hanya tertegun melihat kearah sosok manusia itu, entah karena apa, aku benar benar sangat kebingungan sekaligus mencoba memahami situasi yang terjadi.
"Satra ... mundurlah," tiba tiba Bolmur memerintahku sambil terus menatap kearah orang itu.
Semakin dekat, semakin terlihat, aku semakin sadar mengapa Bolmur menyuruhku untuk menjauh. Dia bukan pemburu naga, dia tidak terlihat seperti akan menolong kita, dia tidak terlihat seperti manusia. Tubuhnya tegap, kulitnya bersisik layaknya seekor naga, tatapannya sangat mengerikan.
Apa itu? seekor naga yang mirip manusia? atau manusia yang berkulit naga? Bolmur mengarahkan Navak kepadanya. Akupun berusaha siaga, menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Vesla kupegang sangat erat, keringat dingin terasa mengucur dari tangan.
"Pergilah Satra!" Teriak Bolmur.
"Tidak, Bolmur ... aku tidak mungkin pergi sendirian," Aku menolak untuk meninggalkan Bolmur melawan sekumpulan Micmic dan makhluk yang tiba tiba muncul itu.
Baru selesai kami berbicara, Makhluk itu mengucapkan kata-kata aneh, bukan seperti berbicara dengan kami, matanya membelalak ke langit, tak berapa lama dia kembali menatap kami dengan tajam. Kurasakan sesuatu bergerak menyentuh kakiku.
"Ini gila!" Aku benar benar ketakutan, yang tadi menyetuh kaki ku adalah ekor dari tubuh Micmic. Tubuh naga yang telah mati itu bergerak-gerak, bersamaan dengan tubuh-tubuh Micmic yang telah mati lainnya.
"Tidak mungkin ... tidak mungkin ... siapa dia? monster macam apa dia??" Bolmur mulai goyah, dia perlahan mundur dan sesekali melihat tubuh-tubuh Micmic yang telah mati sebelumnya bangkit kembali, para Micmic itu mulai membuka mulutnya, mata nya mulai bergerak lagi, salah satunya mulai bersuara ...
Sebuah sihir yang mengerikan terjadi didepan mata kami.
"Kyaaaakkkk ... Kyaaaaakkk ..." belasan Micmic itu kembali hidup, luka luka bekas tusukan dan sabetan senjata itu hilang tak berbekas, melihat kejadian yang seperti sihir itu, aku merasa bahwa kami tidak akan sanggup melawan makhluk yang ada di hadapan kami sekarang. Belum sempat kami bergerak, tiba-tiba makhluk itu sudah berada di hadapan Bolmur.
"Awas!" seketika aku memperingatkan Bolmur. dia mengangkat Navak miliknya, akupun mencoba mendekat berharap dapat membantu Bolmur. dia mengayunkan Navaknya dan aku mencoba menghujamkan Vesla ku ke arah makhluk itu, kulihat cipratan darah ditubuh makhluk itu. Pikirku, salah satu dari kami berhasil melukainya. Aku salah, Bolmur ambruk seketika itu juga, tubuhnya terbenam oleh darah.
"Bolmuuurr!!!" Aku berteriak, Bolmur tergeletak lemas, dia tak bergerak sedikitpun. Tidak tahu apa lagi yang harus aku perbuat, yang kulakukan hanya mencoba menyerang dan terus menyerang, tak lama hingga akhirnya aku terlempar jauh olehnya.
Rasanya tulang rusukku patah, apakah ini akhir? aku tidak mau mati seperti ini, bahkan kemarin aku baru saja berjanji dengan Vineli. Tidak ... tidak ... tidak ... teriakku dalam hati. Kukumpulkan sisa-sisa kekuatan, nafasku tersengal-sengal, seluruh tubuhku merasakan sakit, tapi aku tidak mau mati disini.
Naluri ...
akhirnya aku mengalah, mengalah oleh naluri bertahan hidupku ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, aku mencoba lari menjauh, kemanapun itu, terjatuh dan terguling lalu bangkit kembali seakan tidak kurasakan sakit di tubuh ini, kulihat dibelakang, makhluk itu mengejarku dengan beberapa Micmic dibelakangnya. Hingga pada akhirnya aku memijakkan kaki di tepi sebuah tebing batu. Tak sanggup aku menahan tubuh ini, kubiarkan tubuh ini terjatuh, tepat dari tepi tebing itu makhluk itu berdiri melihat kearahku, seolah membiarkan aku terjatuh.
"Byurrrr!!!!"
rasanya aku terjatuh di air ... sungai kah? entahlah ... aku tidak bisa menggerakan badan sedikitpun ...
perlahan badan ini semakin menuju dasar air, cahaya putih dari permukaan terlihat disertai buih-buih.
cahaya itu memudar seiring tubuh ini yang semakin terbenam ke dasar yang semakin dingin ...
KAMU SEDANG MEMBACA
DRACOMILLIR
FantasySeluas apakah dunia? Untuk apa manusia mencari tahu? Bahkan setelah ratusan tahun menginjakkan kaki di tanah ini, mungkinkah manusia lupa dengan hal-hal yang telah ditentukan untuk mereka? Sejauh apapun mencari, pada akhirnya akan kembali ke tempat...
