seventeen

58 3 2
                                        

Tok... tok...

"Caty sayang bangun sayang" ucap mamaku dari luar. Jangan sangka aku tidak mendengarnya, tetapi hanya saja aku masih ngantuk.

Aku pun langsung menutup kepalaku dengan bantal, seolah-olah tidak mau mendengar suara mamaku itu.

Namun, akhirnya mamaku pun masuk ke kamarku dan menghampiriku dan menyibakkan selimutku.

"Ayo sayang, bangun, ini sudah jam setengah tujuh. Pesawatnya Calum take off jam 10" ucap mamaku setelah menyibakkan selimutku.

"Masih lama ah" ucapku yang membalikkan tubuhku menjadi memunggungi mamaku.

"emang kamu ga mau kumpul atau main dulu gitu sama Calum dan Luke?" Ucap mamaku, aku hanya diam tanpa menjawab apapun dengan mataku yang masih terpejam.

Kemudian mamaku keluar dari kamarku, seketika hatiku lega karena tidurku tidak perlu diganggu lagi oleh mamaku, karena menurutku ini masih terlalu pagi untuk bangun dihari libur.

Namun, sekitar 20menit kemudian, maybe. Terdengar pintu kamarku terbuka kembali,pertanda ada orang masuk. Aku menghiraukan hal tersebut, karena aku dapat meyakinkan, bahwa yang masuk ke kamarku itu adalah mamaku kalau tidak ya salah satu dari kakakku itu. Malesin banget.

"Cat, bukannya bangun juga" ucap Koh Justin sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku menghiraukannya, aku malah menjauh dan melanjutkan tidurku, kebo sekali aku ini.

"Berisik ih kokoh, sana keluar. Aku masih ngantuk" ucapku lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.

"Yakin gamau bangun nih? Nyesel lah, gamau buka mata mah" ucapnya. Perkataannya itu sukses membuatku penasaran. Kemudian aku menurunkan selimutku sampai seleher. Dan menengok ke arah kokoh ku itu.

"Apaan? Ga ada apa apa,ah dasar kamu tukang bohong" ucapku sambil mendorong Koh Justin menjauh dari ranjangku.

"Hai Caty" ucap seseorang tiba tiba dari bawah ranjang. Ngapain ia ada di bawah ranjang ku?

"C-ca..lum..?" Ucapku gugup karena kaget kenapa ia ada disini.

"Kok kamu bisa ada disini terus kamu juga bisa muncul dari kolong ranjang aku?" Tanyaku. Ia hanya tersenyum sedangkan kokohku yang menyebalkan itu hanya melihati dan mendengarkan percakapan kami.

"Tadi aku dateng kerumah kamu, terus kata mama kamu, kamu belum bangun terus aku diajak sama Koh Justin untuk bangunin kamu. Ternyata kamu kebo juga ya ehehe" ucapnya diakhiri dengan sedikit tawa. Aku hanya menyengir karena dikatain kebo.

"Aku ga kebo kok,cuma ini kan libur. Ih kamu belum jawab pertanyaan aku" ucapku.

"Apa?" Jawabnya yang balik bertanya sambil memasang wajah bingung dan itu sungguh menggemaskan membuat aku ingin mencium pipinya.

"Kamu kok bisa dikolong ranjang aku?" Tanyaku.

"Iya, disuruh ngumpet tuh sama dia" ucapnya sambil mengarahkan dagunya ke arah Koh Justin. Pantesan aja.

"Ohh" aku hanya mengangguk

"Udah sana mandi, ini udah jam 7 lewat Cat, aku sih udah mandi. Pesawat aku jam 10 lho" ucapnya

Kemudian raut wajahku berubah jadi sedih. Sedih karena sebentar lagi sahabat tercintaku akan pergi. Untuk waktu yang lama. Entah kapan ia akan kembali. Dan apakah jika ia kembali, ia masih mengingatku? Miris sekali. Lebih baik tidak usah kenal sama sekali sebelumnya daripada harus berakhir dengan perpisahan seperti ini.

Membayangi hal tersebut, tanpa sadar air mataku menetes perlahan.

"Kamu kenapa nangis?" Tanya Calum sambil menatapku.

"Ah diamah cengeng Cal, sans ae" kata Koh Justin. Mendengar itupun aku langsung memukul bahu kakakku yang sangat sangat menyebalkan itu.

Namun tiba-tiba, Calum memelukku erat. Sangat erat. Seolah-olah tidak ingin melepaskanku. Akupun awalnya kaget saat Calum memelukku seperti itu, karena itu pertama kalinya aku dipeluk oleh seorang cowok yang dimana ia bukanlah saudara, kakak, atau keluarga ku. Dia Calum, sahabatku.
Namun perlahan namun pasti, akupun menggerakan tanganku ke punggung Calum, berusaha untuk membalas pelukannya. Terasa hangat. Sangat hangat. Akupun enggan melepaskannya.

"Udah woy pelukannya, si Caty juga masih bau belom mandi. Mau mau aja lu Cal peluk peluk dia, gua abangnya aja ogah" begitulah ucap orang sirik yang ada ada disekitar kita, ya siapa lagi.

Kemudian akupun segera melepaskan pelukanku, karena ucapan ia yang sangat menyebalkan. Aku segera turun dari ranjang dan mengambil handuk dan keluar kamar untuk bergegas ke kamar mandi. aku yakin wajahku memerah.

***
Bandara Soekarno-Hatta

Aku langsung turun dari mobilku bersama mamaku dan ciciku. Dia bilang dia mau ikut karena mau cipika cipiki sama kak Mali. Ya, kami menggunakan mobil masing-masing. Luke dengan mamanya, Calum dengan kedua orangtuanya. Hari ini adalah hari keberangkatan Calum menuju London.

Aku, mama, dan cici ku bergegas ke terminal keberangkatan Calum. Kami semua sudah berkumpul disini. Aku memeluk erat Calum dan Luke. Kami tak ingin Calum pindah, begitupun juga dengan dia. Tapi mau bagaimana lagi, sudah keputusan. Sedangkan Ci Aleisha juga sedang berpelukan sambil nangis, alay juga ya sama kak Mali. Emang sih dia juga sahabatan.

Lalu tak lama loud speaker di bandara berbunyi, dan itu merupakan panggilan untuk Calum beserta keluarganya karena pesawatnya sebentar lagi akan take off. Aku memeluk erat Calum seolah-olah enggan melepaskan ia pergi.

"Kamu hati hati ya disana" ucapku yang sudah melonggarkan pelukanku.

"Iya kamu juga, udah ah gausah nangis nanti jadi jelek" ucap Calum sambil mengusap pipiku dan menghapus air mataku.

"Tau, jangan nangis" Luke juga ikut-ikutan menghapus airmataku.

"Nanti kelas 5 aku duduk sama siapa cal?" Tanyaku sedih.

"Bisa duduk sama yang lain kan, udah deh kayak ga ada temen lagi aja kamu ahaha" ucapnya.

"Luke kamu akan tetap dijakarta kan?" Aku bertanya dengan puppy eyes ku, namun hanya di balas dengan gelengan kepala.

"Aku gatau Cat" ucapnya sedih.

"Please kamu jangan tinggalin aku ya," ucapku pada Luke

"Aku gatau Cat, takutnya mommy sama daddy ajak aku pindah. Tapi aku juga gatau. Aku mau sama kamu" ucap Luke

"Udahan dong sayang sedih sedihannya, ayo Cal, pesawat kita bentar lagi takeoff" ucap aunty Joy

"Kamu jangan sedih ya Cat, Luke, nanti kan kita bisa videocall-an" lanjutnya sambil mengecup pucuk kepalaku dan juga Luke.

"Iya aunty" ucapku sambil menghapus air mataku.

Calum masih disini, sedangkan papi, mami nya udah jalan duluan. Dia bilang dia bakalan nyusul bareng kak Mali.

"Cat, boleh aku cium kamu?" Tanya Calum dan itu berhasil membuat jantungku berpacu dengan cepat.

"Boleh" akupun memberikan pipiku pada Calum dan tak lama ia pun mengecupnya.

"Gantian ya?" Tanyaku.

"Of course" lalu aku juga mengecup pipi kanan Calum.

"Udah aku berangkat dulu ya Cat, bye. Dadah Luke and Caty. I LOVE YOUUUU!!!!" teriaknya

Akupun menangis, begitu juga dengan Luke

"Udalah cat gausa nangis, Calum akan bahagia disana" ucap ci Aleisha

"emangnya si calum mati apa"jawabku sinis

"Maksudnya kan bahagia di London" ngeles aja kayak bajaj.

Akupun pulang kerumah bersama mama dan kakakku. Begitupun juga dengan Luke.

- - -

hai, btw makin ga jelas ya, gue gatau ini mau di gimanain-_- sorry kl gamaksud gini ehehe

Old Love? | C.H ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang