Warning 18++
____________________________
Cherry PoV
Aku membuka mataku dan kembali menutupnya. Pandanganku kabur. Dimana aku? Aku kembali membuka mata dan menatap ruangan dimana aku berada. Ini kamarku. Yah, aku mengenali foto keluarga yang terpajang di mejaku. Aroma kamarku tidak banyak berubah. Berapa lama aku tidur?
Aku hendak bangun tetapi sesuatu yang menusuk terasa di pergelangan tanganku. Selang infus. Sejak kapan aku menerima infus? Aku sakit apa? Aku meraba leherku dan mendapati perban disana. Hah? Apa ini? Kepalaku beraksi memutar memori mengerikan yang terjadi di hutan. Aku menggelengkan kepala berusaha melupakannya.
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka dan aku mendengar suara riuh dari ruang tamu. Aku bangun dan duduk dengan susah payah. Perutku kram lagi. Aku baru ingat, aku hamil anak Namjoon Oppa. Aaahh, Namjoon Oppa, kau dimana? Aku merindukanmu!
Aku memandang seseorang yang berdiri memegangi daun pintu. Ia menatapku dengan pandangan teduh. Jimin, Park Jimin, adikku berdiri disana. Ia tersenyum memandang ke arahku. Melihatnya seperti ini membuatku merasa semakin bersalah padanya dan ingin menangis. Aku menarik bibirku, membuat seulas senyum di depannya.
Jimin berdiri di depan pintu cukup lama. Ia terus menatapku. Aku melambaikan tangan dan menyuruhnya mendekat. Ia masih tersenyum dan tidak mau mendekat.
"Jimin ah, kenapa kau masih berdiri di situ?" kataku.
"Noona," kata Jimin kaget. Ia menutup pintu dan langsung naik ke ranjangku. Suara riuh di depan langsung teredam. Hanya nafas Jimin yang kudengar saat ini. "Kau benar-benar bangun?"
"Ne," jawabku. Aku menatap Jimin kaget. "Apa? Memangnya berapa lama aku tidur?"
"Beberapa hari. Hampir dua minggu," jawab Jimin.
"Tidak mungkin," gumamku.
"Noona, kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" tanya Jimin panik. Ia menyentuh dahiku dan terlihat lega. "Kau tidak demam lagi."
"Perutku tidak enak," kataku sambil membelai perutku yang sepertinya tidak merata lagi.
Jimin terdiam. Ia memandangi perutku juga. Aku mengangkat wajah dan menatap Jimin. Ia terlihat bingung dan sedih, ah, aku tidak dapat menduga apa yang ia rasakan sekarang. Aku menarik selimut dan menutupi perutku.
"Jimin ah," kataku.
"Ah, mianhae," kata Jimin. "Aku sedikit melamun, Noona."
"Jimin, mianhae. Maafkan aku, aku..."
"Kenapa Noona minta maaf padaku? Gwenchana, aku senang Noona sekarang hamil, aahh Noona kau akan segera menjadi seorang ibu."
Aku menyentuh punggung tangan Jimin. Ia masih seperti biasanya, hangat. Jimin menatapku dan tersenyum.
"Noona mau bertemu Namjoon Hyung? Dia ada di depan."
Aku menggeleng dan memeluk tubuh Jimin. Ia membalas pelukanku dengan ragu, kemudian mendekapku lebih erat, seakan tidak mau melepaskanku.
"Eomma, Appa, bagaimana dengan mereka? Aku takut Jimin," gumamku.
"Gwenchana, mereka tidak akan menolak pria tampan seperti Namjoon Hyung sebagai menantu mereka."
"Apa yang kau katakan?" tanyaku sambil melepas pelukan Jimin. Ia tertawa dan aku ikut tertawa. "Aku tidak berpikir kami akan menikah. Aku masih kuliah dan Namjoon Oppa... dia kuliah di amerika. Bagaiamana bisa aku memikirkan pernikahan? Pabbo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Werewolf Boys [BTS FANTASY-END]
FanfictionFollow sebelum baca ❤ Jangan lupa vote dan komentar yaa biar makin semangat!!! *** Aku tak menyangka!!! Selama ini aku tidak pernah mendengar mitos apapun disini. Namun ternyata mereka nyata. Makhluk yang kukira hanya bagian dari khayalanku itu tern...
![Werewolf Boys [BTS FANTASY-END]](https://img.wattpad.com/cover/74565323-64-k128658.jpg)