Kyurie

2K 192 53
                                        

Cherry PoV

Namjoon Oppa dengan telaten membersihkan luka dan memberikan obat untukku. Aku menahan pedih dan hanya bisa menangis. Ia tidak berkata apapun selama mengobatiku, aku juga tidak mau bicara padanya. Selesai membalut lukaku, ia menatapku dan tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku. 'Uljima,' gumamnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Mengapa aku merasa namja ini semakin aneh. Aku masih ingat tatapan mata berwarna keemasan itu, dan juga matanya yang berubah warna secara tiba-tiba. Aku terlalu takut untuk menatapnya langsung.

"Ini milikmu," kata Namjoon Oppa seraya mengeluarkan hape dari kantong celana pendeknya. Aku mengerjapkan mata tak percaya. Bagaimana ia bisa menemukan hape ini di tengah hutan kecuali ia berada disana. Serigala itu! Apakah mungkin itu dia? Mengapa aku berkhayal sejauh ini?

"Bagaimana Oppa bisa menemukannya?" tanyaku. Dengan ragu aku mengambil hape dari tangannya.

"Aku sedang berjalan-jalan dengan Jimin sampai kami mendengar teriakan kamu. Dan akhirnya aku melihat kilatan cahaya dari suatu tempat. Ternyata senter hape mu masih dalam posisi on," kata Namjoon Oppa. "Apa yang kau lakukan di tengah malam begini, Park Cherry?"

"Oppa, apakah Oppa melihat sesuatu disana?" tanyaku. "Sesuatu yang mengerikan,"

Namjoom Oppa menelan ludah dan mulai terlihat gusar. Ia yang tadinya duduk di depanku, berpindah dan duduk di sampingku. Ia mengambil jaket entah milik siapa yang ada di dalam tenda dan menutupi tubuhku dengan jaket itu.

"Aku hanya mendengar teriakanmu dan aku hanya melihat kilatan hape,"

"Geotjimal," ujarku. "Oppa ada disana, aku melihatnya. Oppa juga yang berada di tepi hutan malam itu, malam sebelum purnama. Oppa, katakan apa yang sebenarnya terjadi! Apakah Oppa membunuh namja tadi?" Aku mulai bicara tidak jelas, emosiku naik tak terkontrol.

"Park Cherry!" kata Namjoon Oppa tegas. "Aku tidak mengerti dengan ucapanmu,"

"Siapa kau yang sebenarnya, Oppa?" tanyaku. Aku beringsut dari sampingnya, melepas jaket lalu keluar dari tenda dengan tertatih. Ia menyusulku kemudian menarik lenganku.

"Lebih baik kau tidur Park Cherry!" kata Namjoon Oppa. Aku menepis tangannya. Kucari adikkku, aku ingin pulang.

"Park Jimin! Ayo kita tinggalkan tempat ini!" teriakku pada Jimin. Dimana dia?

"Jimin sedang tidur," kata seorang namja berkulit seputih salju, aku tak tahu namanya. Ia menunjuk Jimin yang tengah tidur dengan bersandar pada bahu namja itu. "Dan jangan berteriak di tengah malam, kau akan mengganggu orang lain,"

"Park Jimin, ireona!" teriakku lagi. Aku mendekati tubuh Jimin dan mengguncangnya. Jimin tidak bergerak.

"Anak ini sedang sakit, apa kau tidak melihatnya?" kata namja itu. Ia menunjuk lengan kanan Jimin yang terbalut perban. Tubuhku melemah menyaksikan Jimin seperti itu. Aku berlutut di depan Jimin dan menyentuh dahinya yang begitu panas. Ia juga berkeringat.

"Jimin ah, Noona mianhae," gumamku. Aku terisak lagi. Aku ingin memeluk Jimin sekarang. "Bagaimana dia bisa terluka? Apa saja yang kalian lakukan selama di perkemahan ini?"

"Park Cherry, minumlah dulu," sebotol air mineral disodorkan kepadaku, oleh seorang namja berparas tampan. Aku mengenalnya, kami pernah bertemu di Seoul. Ia menyodorkan air minumnya lagi. Ragu-ragu, aku menerimanya, namun tidak kuminum.

"Jimin, gwenchana, Cherry ah," kata Namjoon Oppa. "Dia akan segera sembuh. Lebih baik kau istirahat di dalam tenda yang hangat,"

Aku menggeleng. Aku ingin menemani Jimin disini. Bisakah aku bertukar tempat dengan namja di sebelahnya?

Werewolf Boys [BTS FANTASY-END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang