Suara desingan pesawat barusaja melintasi langit ketika Zena menguap untuk yang kedua kalinya hanya dalam kurun waktu sepuluh menit.
Cewek itu kesepian di rumahnya, karena itu dia memilih menghabiskan sepanjang sore ini di rumah Zayn. Papa dan Mamanya sedang menghadiri acara kantor sementara Arthur masih berada di kampus. Kegiatan Zena sejak menginjakkan kakinya di rumah Zayn nyatanya tidak luput dari kata membosankan. Sembari menemani Zayn menyelesaikan tugasnya, Zena harus rela berdiam di atas sofa menghadap televisi yang saluran acaranya sudah terlihat membosankan untuknya.
Zena meletakkan remote, menurunkan tubuhnya dari sofa untuk duduk bersama Zayn beralaskan karpet coklat. Zayn terlihat serius menghadap laptop, percakapan yang terjadi antara keduanya juga terbilang minim. Sampai pada hitungan detik yang terus berjalan, Zayn merasakan punggungnya ditempeli oleh sesuatu.
Sempat menengok sesaat, Zayn tahu kalau Zena yang duduk di belakangnya tengah memasrahkan kepalanya di bagian punggungnya. Selain merasa hangat karna mendapat kunjungan kepala Zena, Zayn juga mendapat sentuhan yang membuat tubuhnya meliuk secara spontan.
Rupanya Zena secara iseng menggunakan jarinya untuk mengelitiki perut bagian samping Zayn.
"Zeze, iseng amat sih," ucap Zayn sambil berusaha melepaskan tangan Zena dari perutnya, sayangnya, semakin dilawan Zena justru semakin intens menjahilinya. "Kelitikin balik nih ya."
"Abis Zeze bete tau!" Zena meneggakkan tubuhnya, satu kali pukulan ringan dia berikan pada pundak Zayn. "Zaza serius banget ngerjain tugasnya, kayak nggak bisa entar malem aja. Percuma aja Zeze kabur kesini."
Tubuh Zayn berubah posisi sebanyak seratus delapan puluh derajat. Dua anak manusia yang ditemani keheningan peralihan waktu antara sore menuju senja itu berhadapan, mata keduanya bersitatap menunjukkan keduanya ingin membaca ada apa di dalam perhiasan Tuhan sebagai indera penglihatan tersebut. Tatapan Zayn yang seakan menunjukkan kalau ada ratusan lapis rasa sayang menghunus hati Zena sampai menyentuh bagian paling dalam.
Zena lantas teringat perkataan Zayn kemarin siang, di hadapan Ilham cowok itu bisa dengan santai menegaskan status Zena yang sudah dianggap lebih dari teman. Sebenarnya Zena ingin sekali bertanya apa maksud dibalik pencetusan tiba-tiba itu, namun rasa kecewa kalau kenyataannya itu semua hanyalah senjata untuk melumpuhkan Ilham menempatkan Zena pada posisi sulit. Sedangkan Zayn sendiri tidak membahas barang satu katapun mengenai kejadian itu, lantas apa masih boleh kalau Zena berharap?
Sedang merumitkan sendiri pikirannya mengenai sikap Zayn, tiba-tiba Zena berjengit kaget ketika sentuhan halus menimpa helaian rambutnya di sisi kiri. Zayn bergerak menyelipkan juntaian warna hitam tersebut ke belakang telinga Zena, membuat letupan beraromakan kegugupan menyerang Zena tanpa aba-aba. Semua masih terasa wajar bagi Zena, hingga tiba di saat Zayn mengikis jarak diantara tubuh mereka, gelenyar aneh merambat ke sekujur persendian Zena.
Mata Zena terpejam meski tidak ada komando secara langsung, gerak alami tersebut dianggapnya perlu untuk bisa menetralisir detak jantungnya yang berirama kencang. Pikiran Zena tidak kotor, tidak juga berasumsi macam-macam, karna memang apa yang dilakukan Zayn bukan seperti kebanyakan adegan romantis di film, Zayn tidak mencium Zena, dia hanya menghembuskan nafasnya di atas hidung Zena.
"Kalo Zeze ngantuk bobo aja di kamar Zaza."
Zayn berujar demikian, tanpa dia tahu Zena masih sulit mengendalikan jalannya pernafasan di dalam tubuhnya. Dia terlalu gugup, mendadak salting, sampai dia hanya bisa tersenyum aneh.
"Kok Zaza tau kalo Zeze ngantuk?" padahal rasa kantuk yang tadi menggelayuti Zena sudah hilang entah kemana, sekarang bayangkan saja, apa masih bisa Zena ingin tidur setelah dihadapkan momen menegangkan seperti tadi? Bukannya tidur, Zena malah yakin kalau dia akan terbayang-bayang wajah Zayn tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zayn and Zena ✔
Novela Juvenil[Teenfict Story] Bagi Zayn, Zena adalah kepingan coklat di atas black forest cakenya, dan bagi Zena, Zayn adalah taburan gula halus di atas donat polosnya. Tanpa keduanya semua terasa hambar.
