"Dane apa yang kamu lakukan?" jerit seseorang dari pintu.
Aku pun menoleh ke arah pintu, dan astaga ibu ku sedang berdiri di depan pintu, dan dengan refleks aku melepaskan peganganku pada Kia dan
"Aww ..." jeritnya, aku pun kaget dan segera membantunya berdiri sambil memandangnya dengan rasa bersalah.
Ibu pun duduk di sofa ruanganku, dan dengan gerakan mata aku menyuruh Kia untuk pergi. Sepertinya ia mengerti dengan maksudku dan langsung merapihkan bajunya yang sedikit berantakan karena terjatuh.
"Pak, Bu, saya permisi dulu," pamit Kia.
"Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini." Suara ibu mengintrupsi. Aku pun hanya mengangguk pada Kia sebagai tanda bahwa ia tidak boleh meninggalkan ruangan ini. Titah Nyonya Besar harus dituruti.
Kia pun duduk di sofa, dan aku pun duduk disebelahnya, aku tak tahu apa yang akan dilakukan ibu pada kami.
"Jelaskan pada Ibu, apa yang kalian lakukan?" suara ibu terdengar begitu menyeramkan.
"Kami sedang bertengkar bu," ujarku, memang benar kan, tadi kami sedang bertengkar?
Tiba-tiba Kia menyela ucapanku, "Kami tidak sedang bertengkar Bu, tapi lebih tepatnya berdebat. Ini hanyalah masalah pekerjaan." Tuturnya.
"Masalah pekerjaan? Kalian berdebat masalah pekerjaan, dengan jarak yang begitu dekat?" tanya ibu sarkas.
Sudah kuduga, ibu ini merupakan sosok yang senang sekali membolak-balikkan kata.
"Apa hubungan kalian?" tanya ibu tiba-tiba.
"Kami atasan dan bawahan bu," jawab Kia dan aku hanya mengangguk setuju.
"Ibu tidak percaya. Yang benar saja!" ucap Ibu.
"Kalian ada sesuatu yang special kan?" tanya ibu lagi
"Tidak!" refleks kami berteriak. Dan kulihat ada senyum kecil tersuging dalam bibir ibu, apa yang beliau pikirkan saat ini?
Sementara itu Syaqira harap-harap cemas dari tempat duduknya, ia harap Ibunya Khana ini tidak berpikiran macam-macam tentang mereka.
"Siapa namamu nona?" tanya ibunya Khana.
"Syaqira."
"Kia," jawab Khana berbarengan denganku. Mengapa ia harus ikut bicara disaat seperti ini? Lihat saja ibunya nampak bingung saat ini.
"Nama saya Syaqira Adzkiatunnisa bu, anak ibu saja yang sepertinya sulit mengatakan nama Syaqira," tuturku sambil melirik sekilas ke arah Khana, dan kulihat ibunya Khana bengong, tapi tiba-tiba ia tertawa.
"Hahahahaha ... kalian pasangan yang lucu sekali," ujar ibunya Khana sambil tertawa lepas.
Apa? Katanya pasangan? Lucu?
"Syaqira bisa pinjamkan ponsel mu?" tanya Ibunya tiba-tiba.
"I ... iya bu" ujarku sambil menyerahkan Handphone milikku walaupun aku tak mengerti.
Ia pun menempelkan ponsel ku ketelinganya, apa ia gak punya pulsa hingga nebeng nelpon dari nomorku, tapi kenapa tidak memakai ponselnya Khana saja? Aku menggelengkan kepala pelan dengan pemikiran absurd ku.
"Assalamualaikum." Aku tidak tahu dengan siapa sebenarnya ia bicara?
"........"
"Ini bukan Syaqira, tapi calon ibu mertuanya," aku pun melongo mendengar ucapannya dan melirik ke arah Dane yang menampilkan wajah datar. Keluarga ini kenapa sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Boss In Love [Telah Terbit]
RomansaKetika pernikahan ini terjadi tanpa perkiraanku, aku mencoba untuk ikhlas. Tapi bagaimana jika perempuan lain masuk dalam hidupku, dan ikhlas tidak pernah hadir di hatiku? Mencintai itu adalah kata yang begitu menyakitkan namun tidak pernah membuatk...
![Boss In Love [Telah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/88382980-64-k438825.jpg)