Ketika pernikahan ini terjadi tanpa perkiraanku, aku mencoba untuk ikhlas. Tapi bagaimana jika perempuan lain masuk dalam hidupku, dan ikhlas tidak pernah hadir di hatiku?
Mencintai itu adalah kata yang begitu menyakitkan namun tidak pernah membuatk...
Sudah seminggu sejak kejadian di halte, tapi aku belum berani untuk menemui Khana kembali. Selama ini aku selalu melihat Ayya dari kejauhan, aku melihat bagaimana Teressa menyayangi Ayya. Kepercayaan diri yang aku bangun untuk bertemu Khana menguap entah kemana, apalagi ketika kejadian tiga hari yang lalu.
Flashback
Aku sedang berjalan-jalan di taman, aku duduk di sebuah kursi di taman. Tak lama kemudian ada seseorang yang duduk di kursi tepat belakang aku. Tepatnya kami saling membelakangi.
"Ayya sayang, ini siapa?" ucap seseorang yang suaranya begitu familiar di telingaku.
Seketika tubuhku menegang.
"Daddy." Ah sekian lama aku baru bisa mendengar suara putriku. Ternyata ia sudah besar dan sedang belajar berbicara.
Seketika keberanianku muncul untuk berbicara pada Khana. Aku yang hendak berdiri mengurungkan niatku dan duduk kembali ketika aku mendengar seseorang.
"Lama ya, maaf," ucap seorang perempuan.
Aku melirik sedikit dan perempuan itu telah berada di samping Khana. Aku yakin ia adalah Teressa.
"Sayang, ini siapa?" kembali kudengar suara Khana.
"Momm,." ucap Ayya dan kemudian ia tertawa.
Hatiku mencelos mendengar itu, bayangkan bagaimana sakitnya ketika putri kita memanggil ibu pada orang lain. Seketika air mata menetes dari mataku. Aku segera beranjak pergi tak sanggup untuk mendengar yang lainnya.
"...." Ketika aku berjalan perempuan itu seperti berbicara tapi aku tak mendengar dengan jelas yang ku dengar hanya suara Ayya.
"Mommy Ca."
Betapa teririsnya hatiku mendengar semua percakapan mereka, sepertinya aku memang sudah benar-benar tergeser dari kehidupan Khana.
Flashback Off
Sekarang aku sedang duduk sambil nonton TV. Aku sedang memikirkan bagaimana aku menemui Khana. Tiba-tiba ponselku berbunyi.
Bu Calysta Calling ...
"Assalamu'alaikum Bu," salamku.
"Waalaikumsalam. Sya bisa bantu ibu?"
"Iya Bu, ada apa?" tanyaku.
"Ibu sekarang ada rapat sangat penting Sya, tapi flashdisk ibu yang berisi slide presentasi tertinggal di kamar. Kamu bisa kan antarkan sekarang?"
"Siap bu. Rapatnya dimana?" tanyaku.
"Di kantor Sya, di ruang meeting utama."
"Baik bu," jawabku.
Aku segera masuk ke kamar bu Calysta, setelah menemukan flashdisk aku langsung bersiap dan pergi ke kantor.
***
Sesampainya di kantor aku langsung masuk lift dan menekan tombol 20 tempat ruang meeting utama berada. Ketika sedang di lift aku berpikir dengan siapa ya bu Calysta meeting sampai menggunakan ruang meeting utama. Ya ampun, dasar bodoh! Ini kantor suamimu, mungkin saja bu Calysta meeting dengannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.