Ariana memutuskan kembali ke Chicago segera setelah dia menyelesaikan tugasnya di Las Vegas. Tidak, bukan karena dia ingin cepat-cepat menemui Jason. Ya, memang dia merindukan Jason sih, tapi bukan karena itu. Ini karena--- sepertinya ada yang salah pada tubuhnya.
"Hi Jill, kamu ada jadwal pemotretan hari ini?" Ariana menelpon Jillian, segera sesampainya dia di bandara. Dia berharap jadwal kerja sahabatnya itu kosong, urusannya kali ini tidak mungkin ditunda lagi.
"Kurasa aku harus ke kantor majalah hingga jam 2 Babe, kamu membutuhkanku segera?" Ariana tampak sedikit gelisah mendengar jawaban Jillian, dia terus memainkan anak rambutnya saat menelepon Jill. "Setengah jam lebih cepat bisa? Aku rasa ini tidak bisa ditunda lebih lama lagi" Jillian agak terheran dengan tingkah sahabatnya, tidak biasa Ariana memaksa menemuinya seperti ini. Itu pasti sangat penting, gumam Jillian. "Kita bertemu di Terrace?" Sambar Jillian tanpa pikir panjang lagi.
"Oke, sampai ketemu jam setengah 2 di Terrace, Babe!" Ujar Ariana, mengulangi janji mereka. Dia hanya ingin memastikan hal yang sedang dikira-kiranya ini segera tampak lebih jelas.
Ariana menarik kopernya keluar dari bandara, dia memanggil taksi untuk membawa nya ke apartemennya dulu. Dia memang sengaja tidak memberi tau Jason tentang kedatangannya yang dipercepat. Dia ingin memastikan kondisinya benar-benar pasti.
Ariana menghempaskan tubuhnya di jok kursi taksi dengan sedikit kasar. Dia merasa bingung, jika apa yang dipikirkannya ini nyata, ataukah harus bahagia atau justru sebaliknya. Dia juga tak dapat memprediksi reaksi Jason jika dia mengetahuinya.
Hanya Jillian, harapan satu-satunya yang mungkin bisa dimintai pertimbangan. Jemari Ariana masih terus meremas ujung kemejanya. Dia sungguh merasa terlalu bodoh untuk dapat mengartikan ini semua.
***
Jillian datang dengan terburu-buru, mencari meja yang dipesan Ariana untuk janji mereka. Terlambat 10menit, tidak bisa dimaafkan jika memang apa yang harus dibicarakan Ariana ini adalah hal penting. Dan jika sebaliknya, dia merasa akan memukul kepala sahabatnya itu dengan serbet makan saat itu juga. "Huh, dia harus mengerti susah payahku mencapai tempat ini" Gerutu Jillian.
Ariana tersenyum lega, saat melihat Jillian berlari-lari kecil kearahnya. Menyenggol beberapa kursi cafe lainnya, tas yang dibawa Jillian menabrak sana sini gagal menghindar. Ariana melambaikan tangan, memberi tahu tentang keberadaannya.
"Hi Babe, kuharap kamu memaafkan 10menit berhargamu yang kulewatkan karna kemacetan di depan.." Jillian masih nampak terengah-engah akibat adegan lari-larinya barusan. Dia meneguk cepat air mineral yang ada di depannya. Ariana kembali tersenyum, mencoba memahami situasi yang baru saja dialami sahabatnya itu. Jillian ada di hadapannya sekarang saja sudah merupakan sebuah pencerahan bagi Ariana. "Katakan apa yang ingin kau beritahukan padaku Babe?" Jillian tampak tak sabar dengan apa yang ingin dibicarakan Ariana. Dia tidak mempedulikan kenyataan bahwa perutnya kelaparan, dan bahkan Ariana belum sempat memesankan apapun untuknya.
Ariana mencondongkan tubuhnya kearah Jilliam, dia menengok sekeliling, seakan memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua, kemudian dia berbisik, "Ehm, apakah kamu mengetahui bagaimana tanda-tanda wanita hamil?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Romance[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
