Jason POV
Aku menginginkan hidupku kembali setelah urusan Chicago ini selesai. Tak ada alasan untuk menahanku disini lebih lama. Seperti yang kubayangkan, hidup disini seperti hidup pada masa lampau. Tak ada musik menghentak, tak ada mobil cepat dan dan tak ada gadis cantik.
Argh.. kupegangi rahangku yang entah sejak kapan sakit, mungkin aku terlalu bersemangat mencium gadis semalam. Nanti akan kuperiksakan, segera, setelah tau alamat dental klinik di sini.
__________*
Ariana POV
Sudah tujuh taun berlalu sejak William menjauhiku, atau entahlah siapa sebenarnya yang menjauh. Aku tidak punya muka bertemu dengannya kembali. Aku memblok semua akses hubungan kami. Aku menghapus semua akun media sosialku. Aku meninggalkan Orlando. Dan yes, aku disini sekarang, di Chicago.
Ingatanku tentang masa-masa high school hampir membuatku gagal bernafas. Aku mungkin tidak mau bertemu dengan William lagi selamanya, tapi jika suatu saat hal itu harus terjadi, aku bertekad sudah siap menghadapinya.
Aku bekerja sebagai dokter gigi di sebuah rumah sakit milik pemerintah Chicago, dental klinik tempatku magang dulu merekomendasikanku sebagai lulusan terbaik pada instansi pemerintah Chicago, dan akhirnya aku mendapatkan posisiku disini.
Bekerja sama dengan orang-orang menyenangkan, membuat hidupku terasa lebih baik. Aku sungguh bersyukur ada di tempat ini sekarang.
"Hi, Evan.. Aku boleh menumpang pulang nanti malam?" Evan, dua tahun lebih tua dariku, dia teman seprofesiku, dia ditugaskan disini lebih dulu dari aku. Dia orang baik, sungguh orang baik. Entah kenapa aku sangat nyaman berada di dekatnya. Kami seperti keluarga. Dia juga yang mencarikan tempat tinggal saat pertama kali aku pindah ke sini. Evan bagiku? Malaikat.
Evan mengangguk cepat. Tentu, dia akan mengantarkan ku pulang meskipun aku tidak memintanya. Tapi memang, malam ini aku menginap dirumahnya. Jillian sedang putus cinta.
Jillian, dia adik Evan. Walau seumuran denganku, tampaknya hidupnya lebih berwarna dariku. Dia salah satu model majalah Vogue. Yes, dia memang model berbakat. Kulit yang berkilau, rambut lurus panjang kecoklatan, dan senyum manis yabg sensual, siapapun itu dia pasti suka dengannya. Sejak aku kenal Evan, Jillian menjadi sahabatku.
Siang tadi, sebelum aku kembali ke poli, Jillian mengirimiku text.
'Tyler, meninggalkanku. Please!'
Aku tau bagaimana rasanya mencintai orang yang salah. Jadi aku berniat menghiburnya. Aku pasti bisa membantunya bangkit.
Evan sudah menungguku di mobil, sore ini kami memang pulang lebih sore. Beberapa departemen mengadakan acara. Hanya Instalasi Gawat Darurat yang berjaga. Aku membereskan tas dan melepas snelli terburu-buru. Jillian sudah tak sabar ingin bertemu aku. Nada suara ditelpon terakhirnya meledak-ledak. Aku sungguh tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Aku berlari menuju parkir sambil mengganti sepatuku. Snelli tak sempat kulipat dalam tas, hanya tersampir di pundak. Dan Brakkk!
Aku menabrak seseorang, aku ingin meminta maaf tapi sudahlah.. Dia berlalu dengan memaki-maki tak jelas. Masuk mobilnya dan pergi.
Aku memungut snelliku dan segera menghampiri mobil Evan, dia bertanya "R U okay?" Sepertinya Evan melihat aku menabrak seseorang tadi. Aku hanya tersenyum. Mengisyaratkan semuanya baik-baik saja.
***
Jill menghabiskan seteko air putih, sambil terus berbicara berapi-api. Okay, aku lega, dengan begitu dia tidak akan berbuat buruk pada dirinya sendiri.
"Sungguh kau tidak lagi mencintainya?" Aku mencoba menggodanya. Dan Jillian menyambarnya berapi-api. "Kau tidak tau apa yang sudah diperbuatnya kepadaku Babe! Dia mengecewakanku! Tidak seharusnya dia melakukan ini kepadaku! Kepada gadis yang selama ini membuatnya lebih populer dari sebelumnya! Bahkan dia mendapat tawaran iklan itu karena publik mengenalnya sebagai pacarku!"
"Dan dia malah menyelingkuhimu?" Tambahku sembari terkekeh dalam hati. Membayangkan tingkah Jillian selanjutnya sudah tak sanggup aku menahan kram di perut. Semalaman Jillian mengumpat tak berujung pangkal. Semua hal yang mengingatkannya pada Tayler dikamar itu dia buang. Foto-foto mereka, boneka big bear, bahkan jam tangan rolex pemberian Tyler sebulan yang lalu dia lenyapkan. Aku berharap rolex tadi tidak rusak, dan aku akan memungutnya, haha..
Dia memang akhirnya membenci Tayler, tapi tenanglah marahnya tak akan lebih lama lagi. Jillian memang tipe gadis yang sangat reaktif. Apapun yang dilakukan orang lain terhadapnya pasti mendapat reaksi spontan darinya. Dibalik semua hal itu, dia adalah gadis yang akan melupakan semua masalah asal sudah cukup dalam meluapkan emosinya.
Jillian masih sibuk membereskan barang-barang kenangannya dengan Tyler, dia benar-benar ingin mengenyahkan pria itu dari hidupnya.
Ini seperti dejavu, aku pernah merasakan patah hati yang sama, meskipun dengan reaksi yang berbeda. Tapi kecewanya membekas bahkan hingga detik ini.
Aku mengganti bajuku dengan piyama, dan mengambil bantal. Mendengarkan Jillian mengoceh, membuatku mengantuk. Aku hanya ingin, besok bisa bangun lebih pagi. Tubuhku terlalu lelah untuk melanjutkan malam dengan terjaga lebih lama lagi. Berada di dental chair, membuat desain gigi tiruan, menambal sana sini, dan meng-entertain pasien seharian membuat punggungku pegal. Aku butuh jogging.
💌TBC..
Please voment, voment, voment guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Romance[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
