Matahari bersinar sempurna di Florida. Pantai yang indah dengan air laut yang menghangat dan berombak kecil, membuat Ariana betah berlama-lama disana. Dia menyusuri pasir putih yang panjang terbentang didepannya tanpa alas kaki. Sesekali matanya mengerjap-ngerjap menghindari kilauan cahaya surya.
Seandainya pemandangan indah ini selaras dengan suasana hati pasti akan terasa bagai mimpi besar yang terwujud. Ariana memejamkan mata menikmati setiap sentuhan angin yang kini menerbangkan helai demi helai rambutnya.
Getaran ponsel disaku Ariana menghempaskannya kembali ke dunia nyata.
"Oh God! Coba kuhitung berapa lama kau tidak menelponku Jill?" Ariana memekik kegirangan ketika mengetahui siapa dibalik sambungan telponnya kali ini.
Dia mendengar kekehan Jillian diseberang, "Aku di New York, dan aku tidak menemukanmu disini." Jillian berpura-pura marah pada sahabatnya.
"Sorry honey, aku di Nap--" belum sempat Ariana melanjutkan ucapannya, Jillian sudah menyela cepat, "Kau di Florida dan tidak mengajakku?"
"Siapa yang memberitahumu? Kevin?" Ariana mendelik, memanjangkan pendengarannya, masih tak percaya jika Jillian mengetahui keberadaannya.
Jillian terkekeh lagi, "Aku belum sempat berkenalan dengannya, entahlah mungkin memang Kevin yang kau maksud itu dear. Dia beberapa senti diatasku, dengan kulit bersih dan senyum yang mempesona. Dia sedang berusaha masuk apartemenmu. Oh God, dia punya passwordnya? Dia pacarmu?" Jillian memberondong Ariana dengan pertanyaan-pertanyaan bodohnya.
"No-no! Tidak seperti yang kau pikirkan Jill, dia teman baikku, yaa-setelah kau dan Evan tentunya. Perjalanan ke Naples ini begitu mendadak, jadi Kevin kuberitahu passwordnya. Kau taulah apartemen butuh dibersihkan." Kali ini Ariana yang terkekeh.
"Terlalu tampan jika kau jadikan cleaning service babe.." Jillian menimpali. Mereka berdua tergelak bersama.
"Jadi berapa lama kau di New York?" Tanya Ariana mengalihkan topik pembicaraan.
"One month sayang, aku menunggumu pulang" Ujar Jillian.
"Kontrak baru? Oke babe, berikan alamatnya padaku, sesampainya disana aku akan segera menemuimu" Ariana sangat antusias dengan kedatangan sahabatnya itu. Ini semakin membuatnya ingin kembali ke New York.
***
Dave POV
Aku menemani Kim di rumah sakit semalaman, hasil lab mengatakan bahwa Evelyn terinfeksi virus coxsackie A6.
Dokter yang menangani Evelyn sudah mengatakan bahwa sebagian besar kasus penyakit ini bersifat jinak dan bahwa hampir semua pasien sembuh dalam waktu 7 sampai 10 hari tanpa pengobatan dan tanpa komplikasi yang serius. Meskipun begitu Kim yang juga mempunyai latar belakang pendidikan dokter pun masih terlihat sangat gugup jika hal seperti itu menimpa Evelyn. Aku mencoba berempati padanya.
Setelah semuanya lebih kondusif, pagi ini aku kembali ke hotel. Pintu kamar tidak terkunci. Aku memang pernah memberitahukan Ariana tidak perlu mengunci kamar jika aku belum pulang, dan bodohnya aku tidak memberitahukan padanya semalam kalau aku tidak pulang.
Kamar terlihat sudah rapi, dan aku tidak menemukan Ariana dimanapun. Aku bahkan membuka kamar mandi dan tetap tidak menemukannya. Aku bergegas ke restaurant, dan dia pun tak terlihat ada disana. Aku masih berusaha menghubungi ponselnya namun nada bicara tak bisa menyambungkan panggilanku. Hingga seorang roomboy memberitahuku, dia melihat seorang gadis dengan ciri-ciri mirip Ariana berjalan menuju arah pantai.
Ah, Tuhan memberkatiku. Aku tak membuang waktu untuk menyusulnya kesana.
***
Setiap senti tubuhmu, bagiku seperti pesona sebuah negeri ajaib.
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Romantiek[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
