Chapter 22 - Not Alone

2.8K 124 0
                                        

Ariana memicingkan sebelah matanya, menatap kesekitarnya. Tidak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Sudah jam berapa ini? Sepertinya dia bangun kesiangan lagi. 'Kebiasaan bodoh!' rutuknya dalam hati.

Semalam akhirnya dia tertidur di kamar bersama Dave. Tidak terjadi apapun, namun rasa nyaman nya masih bertahan sampai pagi ini. Tapi entah dimana pria itu sekarang?

Ariana berjalan menuju kamar mandi, menyambar sehelai handuk kemudian menyampirkannya di bahu. Air dingin shower mengguyur tubuhnya, namun rasa hangat menjalari hatinya. Suasana hati gadis itu sedang baik.

Selesai membersihkan tubuhnya, ia berganti pakaian. Dia berinisiatif meminjam pakaian Alice saja daripada harus memakai bajunya kemarin. Dia baru menyadari jika pakaian nya tidak tersisa satupun dirumah ini.

Ariana mengancingkan bajunya dengan cepat, sisa air masih menetes dari ujung rambutnya. Dia buru-buru meraih handle hair dryer dan mengeringkannya.

Setelah tampak lebih rapi, gadis itu keluar dari kamarnya mencari apapun yang dapat dimakan. Naga didalam perutnya sudah meminta jatah sarapan.

Dia mencoba membuka lemari es namun nihil, hanya ada bahan makanan mentah disana, Ariana malas memasak hari ini. Kemudian berlanjut membuka tudung saji pada meja makan hasilnya pun tak ada.

Lagian dimana orang-orang ini berada? Mommy, Alice dan Dave, apakah mereka tidak kelaparan?

Kemudian Ariana melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, televisi masih menyala tanpa seorang pun yang menontonnya. Kini dia mulai bingung, sebenarnya ada dimana mereka semua?

Ariana memeriksa sekeliling rumahnya, tapi tak seorang pun ditemukan disana. Hingga dia memutuskan untuk memeriksa keluar.

Kekhawatirannya tiba-tiba menghilang begitu terlihat tiga orang itu sedang berada dihalaman depan rumahnya,

Alice dan Megan sedang mengotak-atik sayuran hidroponik yang memang disengaja ditanam di halaman itu. Sedangkan Dave terlihat berada dibelakang mereka menjadi penonton.

Mereka bertiga tampak membicarakan sesuatu yang ringan namun serius. Entah mungkin tentang tanaman, tapi sejak kapan Dave peduli pada tanaman? Selama ini sepertinya dia hanya tertarik pada kertas kan?

Ketika Ariana melangkah turun ke halaman, Dave langsung menoleh ke belakang, menyadari gadis itu sudah berdiri di depan pintu rumah, Dave segera menghampirinya.

"Kau selalu bangun siang jika di sini? Atau kau memang selalu bangun siang?" Dave menyapa Ariana dengan godaan.

Ariana tidak menanggapi ocehan bodoh Dave, hanya melewatinya tanpa jawaban dan malah memanggil Megan, "Mom, aku lapar.." ucapnya manja sambil berlagak mengusap-usap perutnya.

"Oh sweetheart, kami lupa kalau kau bahkan belum bangun tidur dan pastinya belum sarapan." Megan memukul pelan kepalanya sendiri.

"Mom, belum memasak sesuatu pagi ini?" Tanya Ariana lagi.

"Sudah, bahkan sudah habis sebelum kamu bangun" jawab Megan sambil menunjuk kearah Dave dengan isyarat dagunya.

Hah? Ariana menangkap isyarat Megan dengan baik dan langsung berbalik kearah Dave dengan mata melotot. "Kau menghabiskan lauknya?" Hingga membuat Dave terperanjat kaget.

"Sorry Ann, tapi masakan ibumu enak sekali." Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Ariana menyambar spray bottle tanaman kemudian menyemprot muka Dave.

Alice dan Megan menyaksikan pertunjukan di depan mereka dengan tawa terpingkal-pingkal.

Namun ternyata tidak hanya mereka berdua yang menonton adegan tadi, ada sepasang mata lain yang ikut menyaksikan.

Run The Night (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang