Dave POV
Hampir seharian aku berdiri di depan pintu apartemen Ariana, sejak dia mengirim pesan bahwa dia ijin karna demam, aku langsung menuju kesini. Tapi pintunya apartemennya terkunci, Ariana tidak ada ditempat.
Dan ketika dia tiba, dia hanya berjalan melewatiku, tanpa ada keinginan untuk menyapaku. Dia bahkan tak menganggap aku ada disitu. Dia mengetikkan password sehingga pintu apartemennya terbuka, dan dia masuk begitu saja tanpa mempersilahkanku masuk.
"Sudah kubilang aku tak ke kantor hari ini Dave, kenapa kau ada disini?" Ariana langsung menyerangku, ketika aku ikut masuk ke dalam apartemennya. Sebegitu tidak nyamankah dia ketika bersamaku?
"Kau bilang demam?" Aku mencoba meminta penjelasan atas pesan yang dikirimkannya tadi pagi kepadaku. Jelas jika sekarang dia terlihat segar bugar, dan kini dia sedang berbohong padaku.
Ariana terus mencoba untuk menghindariku, namun aku menangkap pergelangan tangannya cepat dan memaksanya terduduk di sofa panjang yang ada disudut ruangan itu.
Entahlah aku mulai kehilangan kontrol akan diriku, dan mulai berteriak-teriak, "Sungguh aku tak peduli kau tunangan siapapun Ann, aku tak peduli bahkan jika kau sudah mempunyai lima anak sekalipun. Apa kau tak juga mengerti Ann?"
Aku hanya tak ingin dia melakukan banyak kebohongan padaku. Tidak cukupkah aku menerima dia apa adanya? Jika dia menyuruhku pergi dari hidupnya, aku pergi! Tapi tidak dengan membohongiku!
Kulihat Ariana mulai terisak disana. Ah! Sungguh emosiku terkuras menghadapi gadis ini. Seandainya dia memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Aku pasti dengan senang hati membereskannya.
Jason Wood? Pria kekanakan yang bahkan tak becus mengurus perusahaan ayahnya itu hanya masalah sepele bagiku. Asal Ariana bahagia, aku bahkan dengan senang hati melepaskan untuknya. Tapi harus kupastikan gadis itu benar-benar bahagia!
Jadi jangan salahkan aku jika sekarang, ketika Ariana terlihat tak bahagia bersamanya, aku yang akan membahagiakannya!
Ariana terus terisak tanpa menjelaskan sepatah katapun kepadaku. Lalu apa yang kulakukan disini? Menunggui seorang gadis selesai menangis adalah salah satu hal terbodoh yang pernah kulakukan. Iya, sekarang aku sedang melakukannya.
Kulihat tubuhnya gemetaran hebat ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dia nampak sejenak berhenti dari tangis dan kemudian bergelung ketakutan. Aku merebut ponselnya begitu saja. Dia berteriak histeris dan aku menangkap tubuhnya, memeluknya erat.
Kubaca pesan itu,
Jason: Kau berharap aku menyebarkan foto telanjangmu ke media sosial Bitch? Kau yang memintanya, bukan aku. PULANG ATAU AKU DENGAN SENANG HATI MELAKUKANNYA!
Tanganku ikut bergetar membaca pesan Jason barusan, aku tak mengerti bagaimana bisa seorang laki-laki memperlakukan tunangan nya dengan sebrengsek itu. Alasan untukku tetap bertahan disini semakin kuat.
Jika Ariana tak ingin menceritakannya padaku, aku yang akan mencari taunya sendiri.
***
Ariana POV
Dave merebut ponselku, sambil terus memelukku dia membaca pesan Jason untukku. Kurasakan tangan nya ikut bergetar meremas ponselku. Entahlah aku tak tau apa yang dipikirkan Dave saat ini. Sungguh dia pasti semakin membenciku.
Aku tak peduli jika seandainya Dave meninggalkanku saat itu. Aku hanya perlu menuruti Jason, menyudahi karierku disini dan pulang ke Chicago. Bukankah dari awal aku tau benar bahwa ending dari hidupku memang seperti itu? Lalu kini apa masalahnya?
Iya, masalahnya adalah..
Dave berlutut dibawahku, dia memastikan semuanya akan baik-baik saja. Itu tampak klise bagiku, aku tak yakin dengan apa yang sedang dibicarakannya, apakah dia belum kenal betul siapa Jason Wood? Bukankah seharusnya dia tau kalau lawan tandingnya tidak sepadan? Harusnya dia berpikir lebih jauh untuk menantang Jason. Setidaknya aku sudah pernah memperingatkannya. Aku hanya tersenyum miris kepadanya.
Tapi Dave sepertinya bukan pria receh yang akan begitu saja membiarkanku hilang tanpa kepastian, dia begitu gigih mengejarku.
"Katakan apa kau mencintaiku Ann? Please, kali ini jangan berbohong. Aku akan menerima apapun jawabanmu"
Dengan bodoh, aku mengangguk. Sungguh aku tak punya kekuatan untuk membohonginya lagi. Aku memang mencintainya, tapi mungkin ini semua terlambat. Besok aku benar-benar harus menyerahkan diriku pada Jason, keputusan terbaikku sekarang adalah pulang ke Chicago.
Dave tersenyum sangat manis sebelum dia meninggalkan apartemenku. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa melihat senyumnya.
Terimakasih telah menunjukkanku tentang bagaimana cinta dapat berbuat setulus itu..
***
Aku meninggalkan New York dengan penerbangan pertama. Dalam dua setengah jam penerbangan aku mencoba mengendalikan emosiku, tapi runtuh. Aku tidak lagi bisa membendung tangis yang membanjir di wajahku.
"Anda membutuhkan sesuatu miss?" Tanya pramugari kepadaku.
Mungkin dia melihat kondisiku yang sangat kacau. Aku menggeleng lemah. Dan sepeninggalnya, cepat-cepat aku memakai sunglasses dan masker untuk menyamarkan ketololanku.
Aku sungguh merasa gagal mempertahankan harga diriku sendiri. Aku ini hanya jalang yang tak lebih baik dari onggokan sampah yang bahkan masih bisa didaur ulang.
Aku bodoh!
Sepanjang perjalanan ini aku hanya membolak balik halaman majalah forbes untuk mengalihkan emosiku sendiri. Tak ada yang menarik di dalamnya, sungguh aku tak mengerti sedikit pun tentang bisnis. Andai aku meminta majalah fashion pada pramugari tadi, ah! tapi aku terlalu malu untuk memanggilnya kembali.
Majalah ini benar-benar membosankam, setidaknya bagiku. Karna seorang pria disampingku sepertinya menikmati membacanya. Aku masih melirik dia membaca halaman berapa. Dan aku mengikutinya.
Daftar orang terkaya versi majalah forbes edisi ini adalah, aku mencari nama Jason Wood, hanya karena rasa penasaran, biasanya dia ada diurutan #8, mungkin sekarang dia lebih kaya dari sebelumnya karna kearoganannya kini bertambah kronis.
Tapi seketika aku terhenti pada tanda tagar nomor tiga yang diikuti sebuah nama yang tak asing lagi, 'DAVID BENNET?' aku memekik dalam hati. Pertanyaanku tentang lift pribadi, lamborgini dan private jet terjawab sudah.
***
Sesampainya di Chicago, Jason langsung menghajarku. Bahkan sebelum aku sampai di penthouse nya. Seperti perkiraanku, aku memang akan babak belur disini. Semua luka bekas luka ditubuhku ini hampir semua karna emosi Jason. Dan sekarang aku menerimanya lagi. Sudut bibirku kini menjadi bengkak dan berdarah, kepalaku pusing dan bahkan Jason tak peduli ketika aku terhuyung dan jatuh di bawah kakinya.
Dia menyeretku masuk penthouse membantingku sehingga tubuhku menghantam tembok. Tulang rusukku seperti patah karna perbuatannya. Namun dia malah tertawa puas menghinaku dan pergi.
💌 TBC..
Sorry ya kalau konfliknya receh begini, tadinya mau kutambah yang agak-agak action gitu, tapi ntar based on true story nya jadi ternodai hehe..
Voment please guys..^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Romance[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
