Chapter 10 - Wasted Days

4.2K 141 0
                                        

Karena begitu mencinta bisa membuatmu terluka..

***

"Terima kasih." Ariana mengangguk ramah pada roomboy yang mengantarkan handuk bersih untuknya. Entahlah kenapa handuk yang seharusnya ada dua, hanya ada satu tadi  di kamar mandi. Roomboy itu tersenyum dan kemudian menghilang dibalik pintu.

Ini akhir pekan, harusnya Ariana bisa bersantai di dalam kamarnya sambil menonton acara gosip pagi. Tapi kali ini Ariana harus menemani Dave meeting dengan Doctor Malaki. Rencana meeting kemarin tertunda karena tiba-tiba Doctor Malaki menelpon untuk memberitahukan bahwa dia harus ke rumah sakit mendadak, putrinya sakit.

Kenapa perjalanan ajaib ini harus terjadi dan tujuan Dave memaksanya ikut kesini pun masih abstrak di kepala Ariana. Kejutan lamborgini dan pesawat pribadi juga masih melayang-layang minta penjelasan. Darimana Dave yang hanya seorang pejabat bank, yaah meskipun itu bank yang cukup popular, tetap lah Ariana tak percaya Dave mempunyai kemewahan itu. Kemewahan yang bahkan bagi Ariana untuk membeli seatbelt lamborghini saja pasti menghabiskan seluruh gajinya selama berbulan-bulan.

Ariana merapikan kemejanya dan memulas sedikit make-up pada wajahnya. Sekedar lipstik nude color, hanya itu yang ada di dalam tas nya. Adegan pemaksaan ini, benar-benar membuatnya tak ada persiapan sama sekali, apalagi dalam menghadapi meeting-meeting penting seperti ini.

Sebenarnya Ariana belum tau juga apa yang akan dibahas Dave pada pertemuan mereka dengan Doctor Malaki. Yang Ariana tau, Doctor Malaki memang seseorang yang kompeten di bidang antigenik di USA. Dia pernah membacanya di majalah kesehatan beberapa waktu yang lalu. 'Entah apa hubungannya denganku atau dengan program kerjasama ku dengan City Bank tempat Dave bekerja', Ariana masih terus menebak-nebak apa yang sedang direncanakan Dave disini.

Jam menunjukkan hampir pukul 9, tapi Dave yang sejak pagi sudah menghilang belum juga kembali. Ariana sengaja menunggu pria itu sembari menyesap secangkir teh hangat, di restaurant hotel. Beberapa kali matanya berkeliling menikmati keindahan suasana di hotel ini. Ariana memang selalu tertarik dengan interior yang indah. Restaurant ini menghadap ke pool ditambah beberapa taman kecil dengan gemericik ornamen yang memancarkan air disekitarnya dapat membuat suasana sejuk sangat terasa di relung kalbu.

Tapi semua kesejukan itu buyar tatkala Ariana menemukan sosok yang dikenalnya ada di pojok ruangan, sedang berbicara dengan seorang wanita. Iya, Ariana menjadi terlalu hafal dengan siluet tubuh Dave akhir-akhir ini. Banyak bergaul dengan pria itu membuatnya hampir gila. Bagaimana tidak, jika pria yang selama ini terus mendekatinya, kini sedang berbicara mesra dengan seorang wanita lain.

Ariana memang telah memutuskan untuk tak lagi menyukai Dave. Tapi terlepas dari semua keputusannya itu, dia juga merasa sangat dipermainkan sekarang. Wanita itu--well, dia terlihat sangat highclass, dengan setelan formal yang terbalut pas ditubuhnya, dan high heel berwarna mencolok kontras dengan kulitnya yang pucat. Mereka tertawa, dengan tangan saling menggenggam. Dave sesekali mengusap mesra rambut wanita itu. Dan Ariana merasakan ada rasa hangat menyelimuti tubuhnya, menjalar dari tengkuk ke kepala.

Ariana berdiri dari tempatnya dengan tergesa-gesa, pahanya menyenggol meja penuh dengan hidangan dan menimbulkan suara yang memancing pengunjung restaurant melihat kearahnya. Termasuk Dave dan wanita itu.

Sungguh rasanya Ariana ingin lenyap saat itu juga. Dia berlari kecil menuju lorong kamarnya. Pikirannya entah mengapa harus kacau begini. Dia memencet-mencet tombol telepon berusaha menghubungi siapapun yang dapat menolongnya pergi dari tempat ini.

Run The Night (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang