"Aku tidak akan melepaskanmu jika kau masih mencintaiku! JAWAB AKU ARIANA!"
Guncangan pada tubuh Ariana semakin kuat, tangisannya pun tak lagi mungkin terbendung.
Mata bengkak Ariana dan tubuh yang bergetar hebat bahkan tidak membuat Jason ingin melepaskan cengkeraman tangannya di bahu gadis itu. Pria itu terus menuntut jawaban atas pertanyaan sepelenya. Namun Ariana terlalu ketakutan pada bayangan dirinya sendiri.
Ting.
Tepat pada saat Jason akan memencet tombol naik kembali. Ariana mendekatkan tubuhnya ke arah Jason dengan kaki yang sigap menendang selangkangan pria itu.
Fuck!
Entah dari mana Ariana memperoleh keberanian itu.
Sementara Ariana membuka pintu lift dan berlari sejauh mungkin, Jason masih terus mengumpat sembari menenangkan bagian tubuhnya yang meradang.
Ada separuh hatinya yang ikut hilang saat bayangan gadis itu menghilang dari pandangannya.
Jason tersenyum miris.
***
Ariana terus menangis sepanjang pelariannya. Bagaimana bisa, seorang gadis yang selalu menerima luka hampir sepanjang waktu bahkan terlambat menyadari bahwa sesungguhnya seluruh zona hatinya masih tetap terukir sebuah nama, Jason.
Dimana letak akal sehatnya saat ini? Susah payah Ariana berusaha menepis seluruh bayangan Jason dari hidupnya, namun selalu luluh lantak setiap kali dia bertemu kembali dengan Jason.
Bahkan dia selalu ketakutan dengan pertemuannya dengan Jason, namun rasa ketergantungan menuntunnya kembali pada pria itu.
Me: Kev, kau ada dikantor hari ini? Tolong aku.
Sent.
Kevin: aku di lobby, sepagian aku mencarimu, kau dimana?
***
Kevin memapah Ariana menuju basement. Beberapa bodyguard yang dikirim Dave bahkan terlihat berjaga di sekitar mereka.
"Bagaimana kau bisa lolos dari pengawasan kami Ann? Kau bahkan terlalu berani untuk naik lift sendirian? Bajingan itu tidak melukaimu?" Kevin mencoba memeriksa semua bagian tubuh sahabatnya itu.
Dia hanya ingin memastikan bahwa Ariana tidak terluka kembali karna pria brengsek itu. Namun Kevin bahkan tak mengerti bahwa yang sebenarnya terluka itu bukan tubuh Ariana namun hatinya.
Tentu saja Jason sanggup menemukan gadis itu. Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya penuh dengan ketidakpercayaan.
"Aku baik-baik saja Kev, bisa kau urus surat pengunduran diri untuk departemenku? Kurasa aku hanya butuh waktu beristirahat lebih lama."
"Kau akan melepaskan karir gemilangmu disini dear?" Kevin makin tak percaya dengan apa yang didengan dari gadis itu. Adegan demi adegan hari ini seperti tak nyata. Sesuatu yang tak mungkin terjadi justru tereksekusi hari ini.
Ariana mengangguk, "aku tak ada pilihan."
Kevin mencoba memahami gemuruh perasaan Ariana. Apapun yang dapat menyembuhkan jiwa gadis itu, Kevin akan berusaha membantunya. Sebuah bantuan tertunda yang tak sempat dilakukannya saat gadis itu terpuruk karna ulah William tujuh tahun yang lalu.
"Kau ingin aku membawamu kemana dear?"
"Apartemen~"
"Dave?"
Ariana mengangguk lemah. Tidak ada tempat ternyaman saat ini bagi Ariana selain disana. Dipelukan Dave.
***
Mobil Kevin melaju cepat membelah jalanan sibuk New York. Beberapa mobil lainnya tampak mengikuti di belakang mereka. Sebenarnya tak ada yang perlu di khawatirkan sekarang, Ariana sudah berada pada situasi yang aman dengannya.
Selang beberapa menit setelah Ariana dan Kevin sampai di apartemen, Dave pun tampak menyusul.
Penyesalan terlihat memenuhi manik mata pria itu. Sesaat setelah sampai, dia langsung menghambur memeluk gadis yang dicintainya itu dengan erat. Seperti tak ada hari esok yang akan mempertemukan mereka kembali.
Ariana masuk ke dalam pelukan Dave dengan sempurna. Tubuh kurusnya seakan menghilang dibalik pelukan tubuh Dave. Air mata yang tadinya hampir mengering kembali berkejaran di pipi Ariana.
Entah dia menangis untuk apa.
Sementara adegan berpelukan tak kunjung usai, Kevin menelpon Evan dan Jillian memberitahu kabar kedatangan Jason ke New York dan bagaimana pria itu sanggup menemukan Ariana di kantornya barusan.
Bukan tidak mungkin Jason akan mencelakai Jillian dan Evan, sebaiknya mereka pun mewaspadainya. Tak ada yang mengerti apa yang sedang ada di pikiran pria brengsek itu.
***
Ruang lepas pada apartemen Dave kini nampak ramai. Jillian dan Evan pun hadir, begitupun Kevin yang masih tampak setia disana.
Arian sudah sanggup tersenyum. Dengan begitu banyak cinta dari sahabat-sahabatnya, mana mungkin gadis itu tega mengecewakan mereka yang mengkhawatirkannya.
Saat ini Ariana merasa seperti seorang pesakitan yang harus dijenguk oleh semua orang. Bahkan Kim tadi juga menelepon menanyakan kabarnya. Tentu saja Dave pasti yang lancang memberitahukan pada kakaknya itu.
"Minumlah Ann" Dave menyerahkan secangkir moccacino hangat pada Ariana sembari menempati ruang duduk disebelah gadis itu.
"Kau tidak perlu memperlakukanku seperti pasien Dave" Ariana tersenyum tipis.
Dave tak terlalu mempedulikan omongan gadis keras kepala itu. Dia hanya ingin memastikan kalau Ariana tidak tumbang akibat kejadian yang menguras emosinya ini.
Dia tetap melayani apapun yang dibutuhkan gadis itu dengan sebaik-baiknya.
Saat keadaan mulai menghangat dan Ariana sedikit demi sedikit dapat mengontrol dirinya sendiri, sebuah pesan masuk di ponselnya.
Nomor tak dikenal: Katakan apapun jawabanmu sayang~aku akan kembali ke Las Vegas setelahnya.
Jason?
Ariana memekik tertahan.
Gadis itu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, memandang satu persatu wajah sahabat-sahabatnya yang kini sedang bersenda gurau dihadapannya.
Kemudian sebuah pesan masuk kembali.
No tak dikenal: Untuk yang terakhir kalinya maafkan aku, I do love you..
Dan Ariana mengetik cepat.
Me: I did.
Sent.
💌 TBC..
Dikit ya part ini tapi mantep. Please voment ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Romantizm[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
