Ariana POV
Aku tau aku salah! Tapi tidak ada jalan lain selain melanjutkan permainan ini. Menyerahkan sepenuhnya tubuhku untuknya, mungkin jalan satu-satunya agar dia benar-benar mau menikahiku.
Kalau bukan dia, siapa yang nanti akan menikahiku? Aku terdengar seperti wanita yang putus asa. Benar, aku memang tanpa harapan sekarang. Aku bahkan tidak tau apa-apa tentangnya. Hanya tau namanya, dan sedikit cerita Evan tentangnya kemarin. Aku bahkan tidak tau siapa pacarnya. Ah, aku memang tidak percaya dia single.
Aku tau aku dimanfaatkan, tapi aku, siapa aku? Aku merasa tidak berhak melarang Jason memanfaatkan aku. Dengan latar belakang hidupnya, aku yakin aku beruntung dapat dijadikan hiburannya.
Hhh..aku memandangi diriku sendiri hina. Benarkah ini jalan yang tepat?
***
Setelah kejadian itu, aku dan Jason benar-benar pacaran, dan dia juga serius mengurus pertunangan kami.
Ohiya, satu lagi, aku mulai menikmati ketika dia melakukan keahliannya itu. Ketika dia memberiku gelinjangan tanpa jeda. Entah, kerasukan setan mana aku ini!
Iya, hari-hari kami dimulai dengan bercinta dan berakhir dengan bercinta pula. Seperti pagi ini, aku bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit lebih awal, Evan tadi menelponku, direksi Rumah Sakit ingin bertemu denganku. Mungkin membicarakan acara bakti sosial yang kuusulkan waktu itu.
Aku sudah memakai lengkap baju dan make-up ku. Tinggal membangunkannya, hanya untuk berpamitan. Dia suka menyiksaku jika aku pergi tanpa sepengetahuannya. Iya, Jason bagiku menakutkan, dia bisa baik dan sangat jahat pada waktu bersamaan. Itu yang membuatku tetap berhati-hati saat menghadapi maunya. Dia pernah sekali waktu menyulut rokoknya dilenganku, hanya karna aku berbicara terlalu lama di telepon. Dan saat aku menangis dia akan kembali lembut padaku. Sekarang, tangisan bagiku seperti sebuah adegan wajib untuk menyelamatkanku dari luka.
"Sweety, aku berangkat.." aku mengelus pelan pipinya. Dia memicingkan sebelah mata, kemudian mengerjap malas karna cahaya lampu kamar yang mengganggunya. Jason menggeser kepalanya keatas pangkuanku, tangannya melingkar pada pinggangku. Oh, damn! Dia membuka resleting belakang rok ku.
Dia yang masih tanpa busana sisa bercinta kami semalam, dengan mudah membalikkan tubuhku dan melucuti rok dan celana dalamku. Posisiku tengkurap sekarang, bahkan masih dengan sepatu menempel dikaki. Dia sudah diatas sana, menarik perutku, membuatku tertekuk kebelakang. Kedua tangannya memegangi payudaraku. Meremas-remas nakal dari belakang, hingga pusat kenikmatanku mulai berkedut, hangat dan aku ingin dia ada didalam.
Tapi bukan Jason jika tak membuatku terlihat tolol karna kenikmatannya. Dia menahan kejantaannya diujung sana. Memainkannya naik turun disekitarnys saja, hingga basah. Aku berteriak-teriak keenakan. Sepatuku sudah jatuh entah kemana.
Aku kehilangan kendali untuk ratusan kalinya, aku membuka baju dan bra ku sendiri. Lidahnya habis menjilati punggung dan leherku. Tubuhku menyedot dalam kejantanannya, merapat, seakan tak inginkan lepas. Dia bergoyang lembut sekali. Dan aku tak dapat menahan detak jantungku yang brutal.
"Sudah, sweety.. Aku ditunggu Evan.." aku meracau lirih. Dia berhenti sejenak, rahangnya menegang. Dia marah! Dia merubah posisiku sehingga berhadapan dengannya, memasukkan kembali tubuhnya kedalam tubuhku. Kasar, kali ini sangat kasar! Menggoyang kencang tubuhku, dan aku gemetaran, sementara itu tangannya masih ada pada payudaraku meremasnya tanpa ampun. Aku meringis kesakitan. Tapi Jason tidak berhenti, bibirnya menandai semua dadaku, dan berakhir menggigit bibirku hingga berdarah.
Aku menangis lagi, dan dia berbisik "I Love you.."
***
Jason memang gila, tapi entah mengapa aku semakin tidak dapat lepas darinya. Malam setelah acara pertunangan kami, aku tau dia memang sudah punya pacar. Namanya Valerie, aku pernah bertemu dengannya sekali di party milik teman Jason. Tapi waktu itu aku tidak menyadari kalau Valerie adalah pacar Jason. Merekapun terlihat biasa.
Malam itu aku sibuk membersihkan sisa make-up, sementara di depan terlihat riuh dengan gelak tawa keluarga yang masih belum meninggalkan tempat pertunanganku dan Jason. Jason sendiri entah sedang dimana, tadi dia tampak terburu-buru mengangkat telepon dan pergi.
Selesai dengan sisa riasanku, aku pergi mencarinya. Aku hanya ingin memastikan dirinya tidak mencari aku setelah ini, karna aku sangat lelah, aku ingin tidur. Aku melewati banyak orang di ruang depan, tapi tak satupun yang mengetahui dimana Jason. Sampai aku menemukannya ada disamping mobilnya, berdiri menggenggam teleponnya bersiap meninggalkan tempat itu. "Siapa?" Tanyaku kepadanya. Maaf jika terlihat terlalu mengurusi urusannya.
Dihadapanku Jason seperti tidak akan pernah menduakanku. Tapi bukankah dari awal aku sudah tidak percaya padanya?
"Valerie, pacarku. Kamu pernah bertemu dengannya di pesta Alex" Jawabnya santai. Aku sudah mengira-ngira kalau Jason memang punya pacar, dan aku mengesampingkan hal itu. Tidak terlalu heran jika sekarang pun aku tidak ambil pusing dengan apa yang baru kudengar. Toh, Jason sekarang tunanganku. See? Bodohnya aku!
***
Beberapa hari kedepan aku harus ke Orlando. Membayangkan harus kembali ke kota itu sebenarnya aku malas, tapi ini tugas dari direksi Rumah Sakit. Acara bakti sosialku di setujui, aku harus berkoordinasi dengan Rumah Sakit disana.
Jason seperti biasa mengantarkanku ke bandara, dan sepanjang perjalanan dia mendoktrin rules yang harus kuingat selama berada di Orlando.
"Ingat, sesampainya disana kabari aku, alamatmu! dimana kamu menginap? Kamu nggak pulang kerumah kan?" Aku menggeleng. Dia setuju dan melanjutkan ocehannya, "Setidaknya kamu menghubungi aku setiap jam, yaa minim 3kali sehari. Kamu juga nggak boleh ketemuan sama William!" Aku tersenyum, senang, tanda dia tak ingin kehilanganku.
Aku memang sudah menceritakan kisahku dengan William, dia nampak tak begitu tertarik saat itu. Tapi entahlah aku suka caranya memproteksiku.
Jason POV
Ariana pergi beberapa hari, yakinlah kalau dia tidak akan aneh-aneh disana. Aku sudah menaklukkannya.
Hidup memang terkadang memihakku, disaat Ariana pergi, dan aku tak bisa menahan hasratku, Valerie mengunjungiku dari Las Vegas. Oh, betapa aku suka hidupku!
Valerie belum tau aku tunangan dengan Ariana, justru sebaliknya, Ariana tau Valerie adalah pacarku. Tapi tololnya lagi, dia percaya aku takkan pernah menyentuh Valerie kembali. Yayaya, siapa yang bilang? Aku yang bilang. Siapa yang suruh percaya? Haha, aku menggeleng tak percaya, gadis itu benar-benar masih lugu, bahkan sampai saat ini.
"Jason.." Valerie mendengus manja kearahku, sudah lama sekali tidak ada variasi bercinta seperti ini. Aku memandanginya lekat, aku suka Valerie, tapi tidak untuk jadi istriku. Dia terlalu banyak menuntut. "Jason, kemarikan tubuhmu!" Valerie menarikku kearahnya, kami terduduk berdua dengan kejantananku masih menembus tubuhnya. Dan dia yang bergoyang untukku. Shit! Dia menggairahkan. Tubuhku bergetar seperti ingin melepas bebannya segera.
Tepat setelahnya, ponselku berdering. Ada satu panggilan disana, Jillian.
"Hi, Jill.." aku mengangkatnya sembari masih memainkan payudara Valerie. "Ada yang bisa kubantu?"
"Kau tau berapa hari Ariana di Orlando?" Terdengar suara Jill menggebu-gebu disana.
"4hari? 5hari?" Aku tak yakin dengan jawabanku. Konsentrasiku buyar saat Valerie mengemut punyaku dan memainkan lidahnya disana. "Tutup telponmu, Babe!" Valerie menggodaku.
Aku masih mendengar suara Jillian berbicara diseberang, tapi aku tak peduli, kupencet tombol merah.
💌 TBC..
Voment, voment please.. Silent reader, beri aku semangaat..^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Run The Night (COMPLETED)
Storie d'amore[RANDOM PRIVATE REPUBLISH SETELAH TGL 19] "Tuhan, jangan tahan aku jadi jalang!" Susah payah aku melepaskan diri dari friendzone William, kini aku mendapati diriku kembali terpuruk pada laki-laki lain yang ternyata tak lebih baik darinya. Hubungan...
