Chapter 14

1.9K 61 0
                                        

     Karena jam night class habis, kami kembali ke kamar masing-masing. Terpaksa, harus melewati lorong angker itu lagi. Yah, walaupun sekarang nggak sendiri, kan tapi tetap saja ada perasaan yang mengganjal.

"Rei."

"Hm?" Kataku sambil menengokkan kepalaku ke arah Kinas.

"Lu," perkataannya seperti terputus-putus "lu, kan tadi lo sendirian waktu mau ke ruang musik,"

"I-iya. Kenapa?"

"Ber-ar-ti, lo?"

"Haduuuh. Ngomong yang bener."

"Lo lewat sini sendirian?" Ya, saat itu kami memang sedang melewati lorong angker tersebut.

"Iyalah."

"Lo, nggak takut diikutin?"

"Apaan sih, Kin. Udah ah. Nggak usah percaya begituan. Elo tuh ya, nggak ada gunanya bicarain begituan."

"Ya, habis gue, parno gitu. Jangan salahin gue lah."

🎠🎠

(Mulai dengerin musik)

     Aku berdiri ditengah hutan rimbun, hijau, indah nan damai. Suara burung berkicauan menyertai teriknya sinar matahari pagi.

Entah, aku melihat diriku sangat anggun mengenakan gaun berwarna biru pudar selututku. Andainya aku tak sendiri disini, aku pasti akan lebih bahagia.
Satu orang yang aku pikirkan. Bunda.

Bunda kemana? Bunda? Aku sendirian, Bunda. Di tengah hutan. Tapi Bunda, aku cantik. Aku merasa indah mengenakan gaun ini. Bunda? Aku rindu.
(Stop dengerin musik)

Tetap saja setelah aku berteriak, tak seorangpun datang.

KRIIIINGGG KRIIINGGG.

"Haaahhh mimpi."

"Kenapa, Rei?" Sepertinya Kinas mendengar gumaman ku.

"Nggak papa."

🎠🎠

Alunan nada-nada yang indah memenuhi ruang musik siang itu. Aditya sedang memainkan piano. Entah lagu siapa? Mungkin karangannya. Aku tak pernah dengar. Yang jelas, aku suka.

"Hoy!" Seseorang mengetuk pundakku saat aku tengah memperhatikannya.

"He? S-san-sandya?"

"Gu-" belom selesai, Raina memotong-

"Kok? San? Lo kenapa berjambul? San? Lo kayak cowo."

"Hadeehh" ia menjaba tanganku.
"Kenalin, gue Sandi. Kembarannya Sandya."

"Oooohhhhhhhhh!!!"

"Ooooooohhhhhhh, banget ya?"

"Ya, habis- eh beneran lo kembarannya Sandya? Wihh! Mirip banget."

"Kepergok ngeliatin Kak Adit."

"Hah? Apaan? Enggak. Gue lagi nyari buku musik gue. Kemarin ketinggalan."

"Waktu itu, Kak Adit sempet bilang ke gue, dia nyuruh gue nanyain lo itu sakit apa sih sebenernya?"

"Hah?"

"Iya. Kemaren waktu lo mimisan, Kak Adit itu minta gue buat nemenin dia ke UKS, soalnya Kak Arjun lagi, mm, nggak ngerti deh lagi apa tapi nggak sama dia."

"Terus terus?"

"Waktu nyampe, eh, lo nya udah balik ke kamar. Jadi berakhir dia nanya nanyain gue tentang lo, soalnya Sandya deket sama lo."

"Oooooohhhhh." Belagak mikir.

"Ooooohhhhh banget?"

"Mikir gue."

"Kayaknya dia mau ngajak lo jalan deh."

"Hah? Apaan sih." Kataku sambil menampar pundaknya. Pelan kok.

"Aduh! Sakit woy. Tadi pagi sih, dia yang bilang."

"Jadi cowo cemen banget. Ntar nggak ada yang demen loh. Bentar bentar. Bilang apa?"

"Ya gitu deh, nanyain kalo enaknya ngajak cewek jalan itu dimana."

Tiba-tiba seseorang datang. ADITYA. OMG.

"Hai. Adek adek kelas ini semuanya lagi pada ngapain?"

"Semua? Dua orang doang, Kak." Sambar Sandi.

"Hus hus. Pergi sana. Hus." Aditya mendorong pundak Sandi, memberi kode. Sandi pun pergi dengan muka plengeh.

"Hai. Gimana? Udah mandi?"

"Hiih. Ya udah lah. Hahaha"

"Hahaha. Hmm... gimana kalau nanti sore di Kedai Kapucino?"

"Em,-"

"Bawa aja temen lo."

"Em... oke deh."

Kenyataan! KENYATAAN! Makasih Sandi!! Makasih kembaran Sandya!

Part 16 arrived. HAHA apaan sih. 670 reader perbaruan :)

Angin Pada Raina [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang