Enam

45 3 0
                                    

Sheira mengusap peluh yang mengalir di dahinya menggunakan punggung tangan. "Huh, panas banget." Tangannya membenarkan kuncirannya yang sedikit longgar karena tertarik topi yang dipakainya tadi.

Semua siswa di sekolah Sheira baru saja melaksanakan upacara bendera, rutinitas setiap hari Senin. "Iya, muka lo jadi merah gitu, Ra." Alissa menyahuti kalimat Sheira. Sheira memiliki kulit yang putih, jadi wajahnya yang memerah terbakar matahari terlihat jelas.

"Lo juga kali, Sa." Alissa meringis pelan sambil menyimpan topinya ke dalam laci.

"Beli minum yuk. Haus banget nih." Sheira mengajak Alissa yang langsung mengangguk dan mereka berdua melenggang pergi ke kantin.

Jam pelajaran dimulai satu jam lebih lambat setiap hari Senin karena dipakai untuk upacara bendera. Sekarang baru pukul tujuh lebih empat puluh empat menit. Lumayan bagi semua warga sekolah untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Koridor masih ramai oleh siswa dengan kesibukannya masing-masing. Sebagian lagi sudah masuk ke dalam kelas untuk sekedar duduk di bangku akibat kelelahan. Ngobrol depan pintu, duduk di bangku koridor, nongkrong di pinggir lapangan, atau jalan sambil ngegosip menjadi pemandangan lumrah. Sheira segera menarik tangan Alissa begitu dilihatnya kantin yang sangat ramai, dipenuhi anak-anak yang memesan makanan atau sekedar membeli minuman.

"Lo duduk aja deh, Ra. Kayaknya capek banget. Biar gue yang beli minumnya." Putus Alissa melihat Sheira yang terlihat sangat kelelahan.

Sheira bergumam pelan mengiyakan. "Hati-hati." Pesannya kepada Alissa yang dijawab acungan jempol oleh gadis mungil itu.

Alissa bergerak menuju freezer minuman berwarna merah yang berdiri tegak tidak jauh darinya. Tangannya terulur hendak membuka pintu freezer ketika seseorang dengan cepat membukanya terlebih dahulu. Kontan saja Alissa menarik kembali lengannya. Dia sedikit terhuyung karena orang itu menubruk bahunya. Oke, memang tidak sakit tapi ya ampun, nggak bisa apa dia sabar sebentar. "Sorry, sorry. Gue nggak sengaja."

Alissa sedikit tertegun mendengar suara bass dari laki-laki didepannya. Dia mundur selangkah karena posisinya benar-benar dekat, nyaris menempel dengan tubuh tegap laki-laki itu. "Gue haus banget daritadi. Sorry ya lo sampai mau jatuh gara-gara gue." Alissa terpaku sejenak menatap pupil mata seseorang di depan sana.

Alissa menunduk mencoba menutupi rona yang tiba-tiba muncul di pipinya. "I-iya, nggak apa-apa, Kak." Alissa memanggilnya Kak karena melihat badge kelas XI yang terjahit rapi di seragam pemuda berparas menarik itu. Dia tersenyum kecil melihat Alissa  yang merona. "Lo mau ngambil minum kan?" Dia bergeser memberi Alissa ruang untuk mengambil minuman sementara dirinya meneguk minuman isotonik yang diambilnya tadi.

Alissa mengangguk dan segera mengambil satu air mineral dingin dari dalam sana kemudian dia bergerak mengambil air mineral satu lagi yang ditaruh di meja sebelahnya. Alissa sedang tidak ingin minum dingin. Laki-laki tadi menaikkan sebelah alisnya. Gadis dihadapannya mengambil dua air sekaligus. "Buat siapa?"

Alissa terkejut mendengar dia kembali bersuara, "Bu-buat temen, Kak." Suara Alissa yang terdengar seperti cicitan itu lagi-lagi mengundang tawa kecil yang keluar dari mulut laki-laki itu.

Tampan.

Alissa merutuk dirinya yang bisa-bisanya terpesona dengan kakak kelasnya.

"Lo takut ya sama gue? Gue nggak gigit kok, paling nyakar dikit." Celetuknya membuat Alissa membelalakkan matanya. "Hahaha." Dan keluarlah tawa yang sedari tadi ditahannya. Gadis ini benar-benar menggemaskan.

"Gu-gue mau bayar dulu, Kak."

"Udah gue bayar."

"Hah?"

SweetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang